
Tiga orang laki-laki tengah mengamati situasi perumahan yang ditinggali Safitri. Ketiga pria itu sudah menyelidiki profil gadis yang mereka cari.
"Ini rumahnya. Dua lantai. Perumahan cukup padat. Agak sedikit ke dalam. Perlu waktu juga untuk kita keluar dan melaksanakan aksi," jelas Joki ketika melihat situasi.
Melihat ada tiga orang mencurigakan, beberapa bapak-bapak mendatangi mereka.
"Maaf, kalian sedang nyari apa?" tanya salah satu bapak dengan nada curiga.
Ketiganya gelagapan.
"Ah ... ka-kami sedang cari rumah kontrakan ... iya, rumah kontrakan," jawab Jhony gugup.
"Di sini nggak ada rumah dikontrakkan. Mending cari tempat lain sana!" usir bapak-bapak tadi galak.
Ketiga pria itu pun pergi dengan langkah tergesa. Mereka masuk mobil yang tak jauh terparkir.
"Sial!" umpat Joki kesal.
Mobil itu pun keluar kompleks. Banyak orang yang menatap curiga dengan kedatangan mereka. Hal itu membuat ketiganya harus memutar otak bagaimana cara mendekati gadis incarannya.
Sedang di tempat lain. Darren menatap layar ponselnya. Pria itu mulai marah dengan apa yang terjadi di sekitar rumah gadisnya.
"Baba ... sepertinya ada yang ingin bermacam-macam dengan Saf," ujar pria itu datar.
"Saya, akan meminta beberapa anak buah menjaga lokasi, Tuan Muda," sahut pria itu tegas.
Darren mengangguk. Budiman mendapat kabar jika baru saja ada tiga orang pria dengan ciri-ciri tertentu mengamati rumah gadis baik itu.
"Tuan, apa anda akan mengambil alih proyek besar yang ada di wilayah K?" tanya Budiman.
"Om Rommy yang akan menangani semuanya. Sebentar lagi juga, Darren akan dapat laporannya," jawab pria itu.
Rommy dan Iskandar datang bersama Sean. Remaja itu juga tengah belajar cara mengembangkan bisnis pada semuanya.
"Kak, Satrio bilang kalau kita akan membongkar kelakuan Tuan Harmono pemangku ketua proyek?" tanya Sean.
"Iya, bukti sudah di dapat. Kita juga sudah bekerjasama pada istri pria itu. Nyonya Laila sudah geram dengan kelakuan busuk suaminya. Aku yakin, Tania akan mati kutu!" jelas Darren dengan seringai menyeramkan.
Sean bertepuk tangan. Memang kini, mereka tengah mengusung mosi tidak percaya pada ketua proyek yang ditengarai melakukan berbagai kecurangan. Padahal, istri dari ketua proyek itulah yang paling berkuasa. Sepertinya, pria itu tidak amanah.
"Kakek juga akan menandatangani petisi untuk menggulingkan ketua proyek sekarang," sahut Sean.
Rommy dan Iskandar hanya diam. Mereka berdua juga sudah lama menyuarakan ketidak sukaan mereka pada seluruh jajaran proyek. Terlebih, perusahaan Tania sama sekali tidak menunjang kelangsungan proyek yang ada.
Sementara di rumah sakit. Penjagaan Safitri pun diperketat secara diam-diam oleh Darren. Ia menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga keamanan gadis itu. Penambahan pengawal membuat Virgou terjun langsung mengawal gadis istimewa itu.
"Daddy?" panggil Lidya.
"Halo, Baby," sambut pria dengan sejuta pesona itu.
Gio yang telah kembali menjaga nona mudanya membungkuk hormat pada atasannya. Begitu juga Felix dan Hendra.
"Tuan!" sapa mereka..
Virgou mengangguk. Ia melihat tempat praktek Aini yang selalu penuh orang.
"Apa kau membawa dua adikmu?" tanyanya pada Gio.
"Bawa, Tuan. Kami belum menemukan asisten rumah tangga yang amanah," jawab pria itu.
Virgou mengangguk. Lalu, ia melihat tempat praktek Safitri yang juga penuh dengan ibu-ibu hamil. Lambat laun, ruangan mulai nampak lengang. Mereka akan makan siang.
"Dad," panggil Demian pada pria beriris sama dengannya.
"Kau datang, Dem," sahut Virgou.
"Kita makan di restauran," ajak pria itu.
"Bawa istri dan dua adikmu Gio!" titah pria itu.
Gio mengangguk. Pria itu mendatangi ruang praktek istrinya dan membawa ketiganya. Virgou mendatangi praktek Safitri.
"Daddy?"
Lidya iri melihat Daddynya akrab dengan Saf. Pria itu sampai tertawa melihat muka cemberut gadis itu.
"Kau tetap kesayanganku, baby," sahut pria itu sambil merangkul Lidya.
"Ih, kenapa dia iri. Kan aku juga kemenakannya yang cantik," sindir Saf pada Lidya.
"Ibu," rengek gadis itu.
Mereka, pun pergi ke restauran terdekat. Darren dan Budiman juga Sean ikut serta makan di sana.
Lagi-lagi Safitri diamati dari kejauhan. Gadis itu sangat kesal sekali. Kali ini dia tak main-main. Dengan berani, ia mendatangi tiga orang yang tengah mengamati.
Virgou dan semuanya m ngikuti gadis itu.
"Mas ... anda liatin saya dari tadi, mau apa ya?" tanya Safitri.
Tiga orang pria itu nampak begitu gugup. Terlebih mereka melihat wajah Virgou. Wajah yang malang melintang di dunia mereka. Siapa yang tak mengenali pria itu.
"Enggak ... kok ... kami nggak liatin, Mba," bantah Duman gugup.
"Kalo kalian punya masalah dengan saya. Kita selesaikan sekarang deh!" tantang Saf emosi.
"Nggak, Mba ... kita nggak ada urusan kok. Misi," ujar Joki lalu menarik dua temannya menuju mobil.
"Brengsek!" maki Saf kesal bukan main.
"Ayo, nggak usah dipikirin. Kita makan, yuk," ajak Virgou.
Kini pria itu tau siapa yang ingin mencelakai gadis itu. Ia tersenyum penuh arti ketika mengingat pria dengan wajah tato.
"Kita akan bertemu Noguya San!" gumam pria itu.
Usai makan siang. Virgou tak lagi ke rumah sakit. Ia akan pergi ke dunia yang pernah ia geluti. Ia akan bersama Gomesh ke sana.
"Sedikit peringatan agar menarik anak buahnya saja untuk menjauhi putri dan keluargaku," ujar pria itu.
Saf kembali pulang dengan motornya. Gadis itu memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Ketika hendak ditikungan, ia dipepet sebuah mobil putih. Gadis itu memacu lagi motornya. Terjadilah kejar-kejaran.
Saf memperhitungkan jarak dan segalanya. Ketika di sebuah perempatan lampu merah. Gadis itu makin mengencangkan gas dan menyalip beberapa kendaraan. Hingga pengemudi mobil putih harus waspada. Lalu, ketika lampu lalulintas sebentar lagi berubah menjadi merah. Saf mengencangkan putaran gasnya. Lalu melesat meninggalkan mobil putih.
"Brengsek!" maki Jhony murka.
"Sabar, Bos. Yang kita hadapi bukan gadis sembarangan!" ujar Joki menenangkan pria pengemudi.
"Baiklah ... aku akan bersabar. Kita akan bertemu di rumahmu, Cantik," ujar pria itu kesal.
Lampu berubah hijau. Mobil putih itu melesat menuju perumahan gadis itu. Sayang, hari menjelang malam maka portal kompleks ditutup. Di sana ada petugas keamanan yang berjaga. Ketiganya kembali mengumpat kesal.
"Kenapa susah sekali!" teriak Jhony kesal.
Sedangkan di markas mafia. Virgou sudah membawa begitu banyak anak buah dan menghancurkan markas Klan "Nagoya". Pria berwajah tato kini harus bersujud pada pria dengan sejuta pesona luar biasa itu.
"Jangan hancurkan markasku ... aku mohon," pinta pria itu dengan wajah babak belur.
"Tarik tiga anak buahmu yang kini mengincar gadis!" titah Virgou dingin.
Pria itu langsung menelepon tiga pria yang tengah menjalankan aksinya. Mereka disuruh kembali ke markas segera.
"Aku sudah melakukannya. Lagi pula siapa gadis itu?" tanya Nagoya dengan hidung berdarah.
"Gadis itu adalah putri sang legenda Jonnas Velarial!" jawab Virgou dengan seringai menakutkan.
Nagoya menelan saliva kasar. Kini, pria itu tahu berhadapan dengan siapa.
bersambung.
ah ... kan ...
hai Readers .. maaf lagi kalo up nya cuma satu. Othor masih sakit and kepala cenat cenut. lain waktu pasti up lebih kok. minta doanya ... makasih dan ba bowu ❤️❤️❤️
next?