
Sebenarnya Seruni hanya menguji pria di hadapannya tadi. Siapa sangka perbuatannya mencuri dengar pembicaraan dua pira itu malah meminta sebuah hubungan dari seorang pria.
Seruni hanya mengikuti kata hati. Selama ini, dia selalu mendapatkan pria yang hanya mengumbar janji. Pernah di satu tahap akan menikah, bahkan tinggal hitungan jam saja. Gadis itu hanya ditinggal begitu saja oleh calon pengantin prianya.
Pria itu mengejar mantan pacarnya. Entah apa yang terjadi. Hingga waktu sudah lewat, pria itu tak pernah kembali. Hingga membuat malu kelurga pria tersebut. Seruni memang tak memiliki sanak keluarga. Ayah ibunya sudah lama meninggal dunia ketika ia berusia delapan tahun. Meninggalkan sebuah rumah sederhana yang kini menjadi tempatnya usaha.
Seruni hidup dari ia berjualan semenjak kecil. Gadis itu sudah mandiri. Bahkan ia memiliki dua cabang toko. Hanya saja ia lebih sering di toko yang juga tempat tinggalnya.
Gadis itu memiliki dua puluh empat karyawan. Jika ada pemesanan dalam jumlah besar. Ia akan menggandeng pengusaha-pengusaha rumahan. Seperti hari ini, ia kembali mendapat tawaran membuat dua ribu porsi snack dengan kue utamanya adalah kue almond.
Ia pun menyanggupi. Ia pun memberikan beberapa paket menu pilihan dengan memasukkan kue almond di dalamnya.
Terra memilih tiga ratus paket istimewa, dua ratus paket spesial dan sisanya paket biasa. Seruni akan mengerjakannya dua hari sebelum acara. Memilih beberapa pengusaha rumahan untuk ikut serta dalam proyek kali ini.
"Ini sudah dua hari yang telah ia janjikan," gumamnya ketika melihat tanggal.
Ada sebersit rasa sedih. Ia menatap jam yang menempel di atas pintu masuk ruang olah kue. Sudah pukul 14.30.. Seruni membesarkan hatinya.
"Mungkin besok," ujarnya menenangkan desiran halus yang mulai menyakitinya. Rasa kecewa mulai menyeruak. Sebisa mungkin gadis itu menghilangkannya. Mencoba mengikhlaskan , jika kali ini ia akan kecewa kembali.
Ya'i Gustaf dan Nyai Hadijah, guru ngajinya selalu menguatkannya.
"Mungkin dia bukan yang terbaik."
Itulah jawaban dari pria sepuh yang akan menjadi walinya jika gadis itu akan menikah nanti. Ayahnya menitipkan Seruni pada pria yang sekarang berusia sembilan puluh tahun itu.
Terdengar bunyi bel bertanda ada yang masuk. Ia tengah mengangkat loyang berisi kue almondnya. Aroma almond panggang begitu menggugah selera yang menciumnya.
"Mba, ada yang datang!" ujar Dinda salah satu karyawatinya memberi tahu.
"Siapa?" Dinda hanya mengendikkan bahu tanda tak tahu.
Gadis itu pun melepas sarung tangannya. Ia pun bergegas menuju ruang depan. Gadis itu tertegun melihat lima orang dewasa tengah menunggunya. Ia mengenali dua di antaranya.
"Assalamualaikum," sahut Terra mengucap salam.
"Wa'alaikumussalam," jawab Seruni.
"Saya datang memenuhi janji dan menagih janji," ujar Dav menatap tegas netra hitam pekat di depannya.
Seruni nampak gugup. Ia tak menyangka jika Dav benar-benar menjalankan niatnya. Gadis itu sedikit kerepotan.
"Mari masuk," ajaknya setelah meminta para karyawan melaksanakan apa tugasnya.
Kelima orang itu mengikuti Seruni. Mereka masuk ke ruangan yang ada di tengah. Rumah gadis itu memanjang ke belakang. Terra memastikan jika bangunan ini peninggalan kolonial Belanda. Terlihat dari design interior.
Namun kemudian, suasana rumah jaman dahulu berubah ketika Seruni mendorong pintu kaca. Hunian modern terlihat.
Sofa-sofa berjejer rapi di ruang depan, yang Terra perkirakan adalah ruang tamu. Seruni meminta semua tamunya untuk duduk. Kelima orang itu nampak memindai isi rumah yang terbilang cukup besar. Ada teras dan halaman yang penuh dengan deretan bunga-bunga cantik.
Tata letak perabot dan sebagainya, membuat rumah ini begitu nyaman. Seruni membawa minuman dan makanan di atas nampan.
"Jangan repot-repot, Nak," ujar Bart sopan dan lembut.
"Hanya minuman dan makanan kecil saja .... eeum ..." Seruni tak melanjutkan ucapannya.
"Panggil aku Grandpa," sahut Bart. Pria itu langsung menyukai gadis pilihan cucunya ini.
"Baik, Grandpa. Silahkan di minum. Saya akan memanggil guru saya terlebih dahulu," ujar Seruni ramah lalu meninggalkan tamunya.
Tak lama sosok sepuh datang. Pria yang sama tua dengan Bart. Terra, Haidar, Virgou dan Puspita juga Dav mencium punggung tangan pria itu. Sedang dengan Bart keduanya saling memeluk dan menggosok lengan.
"Jadi, apa benar, ada yang ingin berta'aruf dengan murid perempuan saya?" tanya Ya'i Gustaf.
"Benar, Ya'i. Adik saya David ingin berta'aruf dengan Seruni," jawab Virgou memulai.
"Ya, saya hanya bisa mengatakan jika Nak Seruni adalah yatim piatu sejak usia delapan tahun. Gadis ini hanya lulusan sekolah kejuruan saja. Tak ada kelebihan lainnya," ujar pria sepuh itu menjelaskan siapa Seruni.
"Kami tidak mempermasalahkan pendidikan Seruni. Yang penting, Seruni sayang dengan keluarga juga sayang anak-anak. Kami termasuk keluarga besar, Ya'i," jelas Virgou lagi.
Pria sepuh itu begitu kagum dengan keluarga pria yang ingin berta'aruf dengan murid perempuannya ini. Ia tak mau membandingkan satu dengan lainnya. Entah mengapa perasaan Gustaf mengatakan jika Dav adalah pria tepat untuk gadis itu.
"Dav adalah pria berkembangsaan asing. Namanya, David Leonidas Dougher Young. Ia baru saja memeluk Islam tiga tahun lalu. Cucu saya ini masuk agama Islam karena sebuah mukjizat. Ketika tengah melakukan misi perdamaian di Timur Tengah, ia lolos dari serangan bunuh diri yang menewaskan seluruh pasukannya," jelas Bart.
Pria itu mengetahui kejadian itu karena Dav menceritakannya.
"Dav di tarik pria bersorban dan mengajaknya ke tempat banyak ibadah. Pria itu menyuruh memilih tempat mana yang ingin dia kunjungi. Entah mengapa ia melangkah menuju masjid padahal pria itu mengajaknya ke gereja. Dav terbangun, dengan luka yang tengah diobati oleh beberapa pria muslim. Dav memeluk Islam setelahnya. Tanpa ada paksaan dari siapapun," lanjutnya.
Gustaf mengangguk saja. Ia tak mempermasalahkan dari mana Dav bisa memeluk agama Islam. Yang penting keyakinan beragama mereka sama.
"Ah ... ada satu kekurangan gadis ini," sahut Gustaf tiba-tiba.
Semua menoleh pada pria sepuh itu.
"Seruni, memiliki kaki sedikit bengkok makanya, ia memakai alat di kakinya agar bisa berjalan tegak," jelasnya.
"Mba ini bisa melihatnya sebentar," ujarnya sambil menunjuk Terra.
Terra mengiyakan ajakan Seruni ke kamarnya. Terra langsung menyukai kamar gadis ini. Warna cerah dan lembut juga ada sedikit kesan berani dengan adanya warna merah di antara warna soft.
Seruni mengangkat gamisnya. Sebuah alat mengikat antara paha gadis itu hingga mata kaki. Terra hanya mengangguk saja. Mereka keluar. Dav sangat ingin tahu keadaan Seruni.
"Ah, hanya itu toh?" begitu saja tanggapan pria itu setelah kakak sepupunya menceritakan kondisi kaki Seruni.
"Oh ya. Satu lagi. Jika, Kak Dav memiliki kekasih atau apa pun yang mengikat. Tolong segera hentikan ta'aruf ini. Saya tidak mau jika ada omongan buruk tentang saya di luar sana," sahut Seruni tegas.
"Saya nggak punya pacar Dik Seruni."
Jawaban Dav membuat gadis itu merona karena malu.
bersambung...
aah ... dik ... 😍😍😍
next?