TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TERRA CAN FIGHT?



Terra tengah asik membaca beberapa diktat di perpustakaan untuk bahan referensinya membuat sebuah makalah. Haidar sebagai dosen utama menugaskan mahasiswi dan mahasiswanya untuk membuat makalah dan mengungkap resume mereka.


Tiba-tiba seseorang mengetuk mejanya. Gadis itu mendongak. Sosok gadis berbalut busana seksi dengan baju kurang bahan. Terra sedikit mengernyit apakah boleh mahasiswi di kampus ini memperbolehkan anak didik mereka memakai baju seperti ini?


"Kamu Terra, kan?" tanyanya.


"Iya. Ada apa?"


"Ikut gue. Sekarang!" sebuah nada pemaksaan terlontar.


"Kalau gue nolak?"


"Elu bakalan tahu siapa gue!" lagi-lagi terselip nada ancaman di situ.


"Ya udah, gue nolak. Biar gue tau siapa elu!" saut Terra cuek.


Tiba-tiba gadis itu menarik rambut Terra. Dengan sigap Terra mencekal lengan gadis yang menarik rambutnya kencang.


Gadis itu meringis kesakitan. Terra semakin kencang mencengkram lengan gadis yang menarik rambutnya hingga gadis itu melepas tarikannya.


Terra berdiri dengan masih mencengkram lengan gadis itu. Seorang penjaga perpustakaan menghampiri mereka.


"Kalau mau berkelahi jangan di sini!" sentaknya.


Terra baru melepas cengkramannya. Gadis itu pun mengambil alat tulis dan menaruhnya dalam ransel. Menatap gadis yang baru saja mencari masalah dengannya. Kemudian pergi begitu saja.


Gadis bernama Jasmine ini, menghentak kakinya kesal. Ia ingin membuat perhitungan dengan wanita yang bernama Terra tadi. Masalahnya, Jasmine melihat Terra berjalan bergandengan dengan pria idamannya, Haidar.


Ketika pulang, Terra yang sedang berjalan menuju halaman parkir tiba-tiba dihadang sekelompok begundal.


"Hai cewe!" goda mereka sambil memperlihatkan gigi mereka yang kuning.


Terra menggaruk pelipisnya. Gadis itu bukannya seorang yang suka berkelahi, ia lebih menyukai pertarungan otak daripada otot.


Salah seorang malah tengah berbuat tak senonoh dengan mempertontonkan 'burung'nya.


"Neng ... burung Abang lagi gatel, nih. Mau dong digaruk pake mulut Neng!"


Muka Terra merah mendengar perkataan yang sangat melecehkan itu. Tangan gadis itu mengepal. Ia menaruh ranselnya di tanah. Suasana kampus sudah sepi, karena memang sudah lewat waktu pulang.


Terra memejamkan mata ketika melihat pria itu hendak masturbasi di depannya. Dengan perhitungan jarak dan segala resikonya. Gadis itu tiba-tiba melakukan sebuah pergerakan berputar.


"Heeaaa!'


Buk! Buk! Buk!


Tiga tendangan berputar mengenai ketiga begundal yang salah satunya tengah melakukan masturbasi.


"Arrgh!" teriak ketiganya.


Sedang begundal yang telah mengeluarkan 'burung'nya itu meringis kesakitan, karena benda keramatnya kena tendangan.


"Elu berani ngelawan kita-kita!' teriak salah satu begundal yang meringis kesakitan akibat tendangan Terra.


Begundal itu berdiri. Ia hendak menyerang Terra.


"Rasain Lu. Heeeaaa!"


"Arrgh!" teriak begundal itu.


Terra heran. Ia melihat seorang pria bertubuh tegap berpakaian serba hitam menghajar begundal tadi yang hendak menyerangnya. Kemudian beberapa di antaranya meringkus para begundal itu.


"Maaf Nona. Kami datang terlambat!' ujar salah seorang tersebut sambil menunduk hormat.


Terra terdiam, ia menggaruk tengkuknya. Jika dilihat, mereka ini sepertinya bodyguard.


"Siapa kalian?" tanya Terra.


"Mulai hari ini, kami adalah pengawal pribadi Nona!" jelas salah satu bodyguard.


"Atas suruhan siapa?" tanya Terra, sebenarnya ia dapat menebak siapa yang menyuruh para bodyguard itu.


"Tuan Besar Pratama, menyuruh kami untuk melindungi Nona!''


Ya. Tebakan Terra benar. Tuan Bram Pratama lah yang menyuruh mereka atas permintaan Nyonya Kanya, istrinya.


"Baiklah. Tapi, jangan terlalu mencolok. Saya tidak suka dengan penguntit!' jelas Terra tegas.


"Baik, Nona!"


"Siapa nama kalian?"


"Saya Budiman. Yang dua tadi adalah Burhan dan Dahlan, Nona!'


Terra mengangguk. Gadis itu mengambil ranselnya. Ia berjalan menuju mobil. Budiman mengikutinya, sedang begundal tadi sudah dibawa pergi oleh dua rekannya tadi.


Terra melempar kuncinya kebelakang. Budiman yang ada di belakang dengan sigap menangkap kunci mobil tersebut.


"Kak Budi yang bawa ya. Te agak ngantuk," pinta Terra.


Budiman tersenyum tipis. Pria dengan perawakan tinggi 189cm dengan berat 60kg. Dada bidang, tangan kekar. Kulit putih bersih. Wajah tampan mirip aktor Korea Gong Yoo, Yang pasti membuat Terra senang memandang pengawalnya itu.


Ketika di dalam mobil, tidak ada percakapan yang berarti. Gadis itu juga bukan gadis kepo yang serba ingin tahu kehidupan sosok tampan yang kini mengemudikan mobilnya.


"Maaf, Nona. Jika saya, lihat tadi. Nona sepertinya bisa bela diri," ucap Budiman memecah keheningan.


Terra yang tengah menyandar menatap pengawal melalui spion tengah tersenyum miring.


"Hanya sedikit bisa," jawabnya merendah.


"Dengan tiga tendangan ke arah yang berbeda, itu perlu keahlian khusus. Saya kurang percaya, Nona hanya sekedar bisa sedikit," jelasnya.


Terra tertawa. Entah sejak kapan ia jadi malu sendiri seperti ini. Sebenarnya gadis itu ingin sedikit menggoda pengawalnya itu. Tapi, tiba-tiba melintas wajah dingin dan datar Haidar.


Terra urung untuk menggoda pengawalnya yang tampan itu.


"Ck ... kenapa juga gue jadi genit kek gini sih!" runtuknya dalam hati.


bersambung.


nggak apa-apa Te ... selama janur kuning belum melengkung mah


😂🤭