TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BEROBAT



Budiman sengaja membawa ibu dan ayahnya pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungan istrinya, Gisel.


"Wah, selamat ya, Istri anda hamil dua minggu. Masih sangat rentan. Saran saya, agar ibu tidak terlalu stress dan banyak pikiran," saran dokter.


Setelah memberi vitamin dan penguat janin. Sepasang suami istri itu pun keluar. Ia telah mengatakan pada Gisel akan membawa ibu dan ayah memeriksa kesehatannya.


"Pak, Bu. Kita disuruh ke sana," ajak Budiman mengelabui kedua orang tuanya.


"Maaf, Pak, Bu. Budi harus berbohong. Kalau tidak kalian pasti menolak jika diperiksa kesehatannya," gumam Budiman dalam hati.


Dua orang tua itu menurut. Bahkan keduanya pun ikut masuk ruang perawatan.


"Gini, Pak, Bu. Tadi Dokter bilang, kalau Ibu dan Bapak harus diperiksa kesehatannya. Ini untuk perkembangan janin Gisel," Budiman berdusta.


Dokter pun masuk, keduanya pun diperiksa Bahkan darahnya pun diuji di lab.


"Jadi, begini Tuan Samudera. Ayah dan Ibu ini dalam kondisi kekurangan nutrisi bahkan bisa dibilang gizi buruk. Kaki bengkak Ibu anda disebabkan oleh kada garam yang terlalu tinggi. Bukan karena diabetes. Sepertinya, petugas yang memeriksa ibu anda dulu kurang teliti, karena gejalanya sama. Tetapi, kita akan lihat hasil labnya sebentar lagi," jelas dokter panjang lebar.


Budiman terhenyak mendengar penjelasan dokter. Kedua orang tuanya menderita gizi buruk. Ia selaku anak, begitu merasa berdosa.


Mia dan Fery tengah menunggu bersama Gisel, menantu mereka di ruang tunggu. Gisel manja sekali dengan ibu mertuanya. Ia selalu minta dielus.


"Ibu," rengeknya.


"Iya, sayang," sahut Mia mengelus kepala menantunya sayang.


Gisel menyurukkan kepalanya di lengan sang ibu. Mia mengecup pucuk kepala menantunya itu, lalu mengelus lengannya.


Budiman pun keluar dengan tatapan sendu pada dua orang tuanya. Fery menatapnya penuh kecemasan.


"Bagaimana, Nak. Apa kesehatan kami mengganggu calon cucu kami?" tanyanya khawatir.


Budiman memeluk ayahnya erat. Ia pun mencium kening pria yang dulu menyakitinya itu.


"Tidak, Pak. Bapak dan Ibu sehat-sehat semuanya. Alhamdulillah," jelas Budiman tentu berbohong lagi.


Kini semuanya pun kembali pulang. Fery pun kembali menyampaikan niatnya untuk kembali ke rumah sewa mereka.


"Baju-baju Bapak dan Ibu masih ada di sana, Nak. Lagi pula Bapak juga belum pamit pada Boss Apen. Beliau itu baik sekali selama ini," jelas Fery.


"Baik, Pak. Nanti saya antar ya," ujar Budiman menatap ayahnya lewat spion tengah mobil.


"Apa tidak mengganggu pekerjaanmu, Nak?' tanya Mia cemas. "Ibu takut kamu nanti dipecat gara-gara ngurusin kami."


Gisel sedih mendengar hal itu. Betapa kedua mertuanya itu menjaga suaminya dari keburukan akibat mengurusi mereka.


"Tenang saja Bu. Boss aku ngerti kok," sahut Budiman tenang.


Keduanya pun diam. Hingga sampai rumah. Gisel sudah memesan makanan untuk makan malam mereka.


Setelah berganti pakaian, mereka pun makan malam bersama.


"Nak, biar besok Ibu yang masak, ya. Jangan boros, simpan uangnya untuk keperluan melahirkan nanti," ujar Mia menyarankan.


"Bu," peringat Fery.


"Ah, maaf bukan maksud ibu menggurui kalian," cicit Mia merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bu. Nanti kita bicarakan lagi ya," sahut Budiman.


Mia pun mengangguk. Mereka kembali makan. Usai makan, Mia langsung ke kamarnya. Fery ingin membereskan meja makan, tetapi langsung dicegah oleh Gisel.


"Jangan, Pak. Biar Gisel saja."


"Tapi, Nak!" Fery ingin menyanggah.


"Tidak apa-apa, Pak. Oh ya,.Ini obat Ibu dan Bapak dimakan ya, sesuai aturannya," jelas Budiman sambil menyerahkan kantung obat.


"Baik, Nak. Terima kasih," ujar Fery.


Pria itu pun membawa obat itu ke kamar mereka. Di sana Budiman telah menyiapkan satu teko air putih dan dua gelas.


Kini sepasang suami istri yang sebental lagi akan menjadi orang tua itu berpelukan di balik selimut mereka.


"Bang," panggil Gisel.


"Aku kasihan sama Bapak dan Ibu. Mereka masih ketakutan untuk menyentuh barang-barang, bahkan kata Bik Surti. Kamar mereka selalu rapi," ujar Gisel mengadu.


"Iya, sayang. Aku tak percaya, setelah aku pergi, ternyata mereka tersadar dari kegilaan. Lalu mencariku selama delapan belas tahun. Pantas saja, tempat tinggalnya sekarang sangat jauh letaknya dari tempatnya tinggal kami terdahulu," sahut Budiman.


"Bang, besok jadi ngantar Bapak?"


"Jadi, Abang sudah ijin tadi dengan Kak Terra," jawab Budiman.


"Aku ikut ya, Lagi pula besok biar Stefan dan Willy yang mengerjakan berkas-berkas," pinta Gisel.


"Oke sayang. Sekarang kita tidur, ya," ajak Budiman.


Gisel menyurukkan tubuhnya ke pelukan suami. Budiman mengelus sayang punggung istrinya. Kemudian mereka pun terlelap.


*********************


Rion tengah tenang mengerjakan semua tugas yang diberikan gurunya. Ia begitu serius hingga tiba-tiba ia.mendengar sebuah isakan.


Rion menoleh. Nuria sedang menangis di atas lipatan tangannya. Ia melihat beberapa luka lebam pada tangan salah satu teman kelasnya itu.


Rion meletakkan alat tulisnya. Ia pun berjalan mendekat. Kini, terlihat jelas jika hampir di seluruh tangan Nuria lebam.


"Nur, kamu kenapa?" tanyanya.


Nuria mendongak. Rion kaget. Sudut bibir gadis kecil itu terluka, pipinya bengkak. Rion sangat yakin jika Nuria habis dipukuli.


"Hiks ... hiks!"


"Aku akan lapor Guru!'


"Jangan!" Nuria melarang Rion.


"Jangan lapor. Nanti, aku akan lebih dimarahi lagi," ujarnya menghiba.


"Tapi, ini sudah keterlaluan, Nur. Tubuh kamu penuh luka!" sentak Rion.


Nuria menggeleng cepat. Lagi pula percuma juga jika melapor ke dewan guru. Kemarin sudah ia coba. Bahkan tadi wali kelas melihat keadaannya, tapi tak ada yang peduli dengan kondisinya.


"Sudahlah, Ion. Aku tidak apa-apa. Doakan saja keselamatan ku," sahut Nuria pasrah.


Gadis kecil itu pun kembali menutup wajahnya pada lipatan tangan. Rion kembali ke bangkunya. Mengambil kotak bekal miliknya.


"Ini, buat kamu," Rion menyerahkan bekalnya.


"Tapi, kamu ...."


"Sudah, makanlah," titah Rion lalu membuka bekal nasi goreng seafood dan sendok pada Nuria.


Bocah lelaki itu mengambil roti yang juga ia bawa dari rumah. Nuria yang memang tidak diberi makan oleh ibu tirinya dari kemarin pun makan dengan lahap.


Bel berbunyi. Semua anak kelas satu berhamburan keluar ruangan termasuk Rion. Nuria dengan lesu pulang ke rumah.


Rion memperhatikan wajah pucat teman sekelasnya itu. Gadis kecil itu menoleh pada Rion. Lalu ia menggenggam tangan teman sekelasnya.


"Rion, makasih ya, atas makan siangnya, enak banget. Jika besok aku nggak masuk, tolong doakan aku ya," ujar Nuria sebelum pamit pulang.


Rion menatap punggung ringkih temannya. Bocah itu yakin, hari ini adalah hari terakhir ia melihat Nuria sekolah.


Hari pun berganti. Kesehatan kedua orang tua Budiman kembali pulih. Wajah Mia pun kembali segar begitu juga Fery. Budiman senang Bayang-bayang gizi buruk pada orang tuanya hilang. Pengobatan mereka berhasil.


Sedang di sekolah Rion mendengar kabar duka. Nuria meninggal dunia karena kekejaman ibu tirinya. Gadis kecil malang itu ditemukan ayahnya terikat di kamar mandi.


Ayah yang bekerja sebagai supir bus anyar kota jarang pulang. Ibu Nuria telah lama meninggal dunia. Menikah kembali bermaksud ada yang menjaga putrinya. Malah membawa Nuria pergi selama-lamanya.


Bersambung.


Masih banyak orang tua yang menyiksa anak-anaknya. Tanpa alasan jelas.


Othor menyerukan "Stop kekerasan pada Anak!"


next?