
Usai memeriksakan kandungan wanita itu, Saf ingin kembali ke tempat pertandingan.
"Makasih ya, Bu bidan," ujar wanita itu dengan wajah bahagia.
"Sama-sama," sahut Saf.
"Saran saya, jangan beritahu kehamilan ibu dengan mantan suami, saya takut, ibu nanti dicelakakan," lanjutnya.
"Tenang, Bu bidan. Saya akan rawat anak ini sendiri. Nggak peduli dengan mereka, toh saya yakin jika mereka sudah bahagia," ujar wanita itu dengan pandangan menerawang.
"Ini buku pemeriksaannya, setiap bulannya, saya harap anda rutin memeriksakan diri," jelas Saf memberi buku itu pada sang wanita.
Wanita itu pun pergi menuju ruang administrasi dan menebus resep yang diberikan padanya.
Saf kembali ke lapangan. Permainan sudah berjalan separuhnya. Gadis itu jadi hanya melihat-lihat saja.
"Bu, bidan!" panggil Lidya.
Saf menoleh, ia tersenyum dan mendatangi gadis yang bertubuh mungil itu.
"Eh, Dek Dokter, apa kabar?" tanyanya berseloroh.
Entah kenapa, Lidya langsung menggelayut manja pada Saf.
"Alhamdulillah, baik Bu. Ibu sendiri gimana?" tanya Lidya.
"Alhamdulillah baik, juga," Saf menatap Gio, pria itu mengangguk hormat padanya.
"Mas, sebaiknya anda diperiksa deh. Saya lihat sekarang anda sedang demam!" sahut Saf tiba-tiba pada Gio.
Lidya langsung menatap pria pengawalnya itu. Baru lah ia tahu maksud dari Saf. Terlihat sekali jika Gio tengah dalam keadaan tidak baik.
"Eh, bener loh, Om!"
"Saya tidak apa-apa, Nona," elak pria itu.
Haidar yang sedang mendatangi mereka langsung melihat wajah Gio yang memang sedikit pucat.
"Istirahat dulu, Gio. Tak masalah, kan ada banyak rekanmu di sini, aku akan panggil Budiman," ujar Haidar.
"Jangan ...."
"Bud!" panggil Haidar memotong perkataan Gio.
Gio memang sedang sakit, pukulan yang ia dapatkan kemarin mulai meradang dan membengkak, bahkan sedikit bernanah, karena Gio tak mengobatinya secara maksimal. Kepalanya bergoyang. Ia melihat ketua pengawal utama datang dengan pandangan samar, lalu tubuh besar itu pun roboh.
Saf dan Haidar yang paling dekat langsung memapah pria itu.
"Biar tak apa Bu bidan. Kami akan mengangkat Gio dan membawanya ke klinik," sahut Budiman mengambil alih.
Gio pun dilarikan ke ruang perawatan. Aini langsung berlari menyusul para pengawal, untuk memberikan pertolongan pertama. Ditya dan Radit kebingungan melihat kakak perempuannya pergi begitu saja.
"Mba!" panggil Radit langsung menangis.
"Hei ... tidak apa-apa, Baby. Kan ada Mas Darren dan lainnya di sini, Mba kerja dulu sebentar ya," ujar pria itu menenangkan.
"Mau ke Mba Aini ...," pinta Radit dengan mata mengembun.
Akhirnya, Darren membawa dua adik mantan kekasihnya itu ke ruang di mana Gio berada, karena yakin Aini ada di sana.
"Om Gio gimana?" tanya Darren.
"Masih dalam perawatan di dalam. Dokter Aini menanganinya," jawab Budiman.
Haidar menepuk bahu putranya. Terra belum datang. Ia akan hadir ketika penutupan sore harinya.
Tak lama Aini ke luar dengan hidung sedikit memerah. Sangat terlihat jelas ia habis menangis.
"Aini?" panggil Darren.
"Kejam sekali ...," ujar gadis itu lirih.
"Apa maksudnya?" tanya Darren tak mengerti.
Budiman dan lainnya memang tak mengetahui hukuman yang diterima oleh Gio, suatu aib bagi pengawal jika ketahuan berkhianat dan mengaku lalu kena hukuman.
"Punggung, Mas Gio nyaris membusuk, ia seperti habis dipukuli oleh rotan atau sejenisnya, lukanya sudah membengkak dan beberapa bernanah," jelas Aini dengan nada ngeri.
Mendengar penjelasan itu, kini Budiman dan tim mengerti. Walau mereka tak tahu untuk apa Gio mengakui sesuatu dan meminta hukuman itu.
"Lalu apa bisa sembuh?" tanya Haidar.
"Pasien harus dirawat intensif, secara berkala untuk menyembuhkan lukanya terlebih dahulu, baru pemulihan kulit secara bertahap," jelas Aini lagi.
"Dokter spesialis kulit akan menjelaskan secara rinci," lanjutnya.
Haidar pun mengangguk. Tak lama, dokter spesialis pun keluar. Ia mengatakan akan butuh waktu sekitar satu bulan untuk penanganan luka dan penyembuhan kulit pria itu.
"Beri perawatan terbaik, Dok. Dan tolong letakkan dia di ruangan VVIP," pinta Haidar.
"Mba, Mas Gio nggak kenapa-napa kan?" tanya Ditya dengan nada khawatir.
"Tidak apa-apa, Dek. Mas Gio butuh waktu istirahat saja," jelas Aini.
"Maaf ya, tadi Mba ninggalin kalian begitu saja," ujarnya dengan nada menyesal.
Darren juga sangat mengkhawatirkan pengawal adiknya itu. Lidya dan lainnya pun datang. Aini memilih membawa kedua adiknya untuk jajan, Radit minta dibelikan kue putu.
"Pa, gimana keadaan Om Gio?" tanya Lidya.
Aini sudah membawa dua adiknya ke area bazar.
"Gio tidak apa-apa. Hanya saja, dia harus dirawat selama satu bulan untuk penyembuhan lukanya," jelas Haidar.
"Loh, Om Gio luka apa?" tanya Lidya lagi.
"Entahlah, sepertinya dia dipukuli orang hingga punggungnya luka berat," jawab Haidar tak pasti.
Gio di bawa keluar oleh para suster. Tubuhnya dibalut perban, pria itu tidur dengan posisi tengkurap. Tampak obat merah dan bau sulfanilamit tercium. Lidya sedih melihat luka yang parah itu.
"Untuk Bu bidan kasih tau jika, Om Gio tak enak badan," ujar Lidya.
"Eh, Papa belum ketemu sama Bidan perkasa itu," sahut Haidar.
"Bud, kau urus Gio!" titah pria itu kemudian.
"Baik, Tuan!' sahut Budiman.
Budiman meminta rekan lainnya tetap menjaga dan mengawal tuan mereka. Ia pun melangkah lebar mengikuti brankar di mana Gio ada di atasnya.
"Ini, dia Bu bidan," ujar Lidya lalu memperkenalkan.gadis bongsor itu pada ayahnya.
"Halo, saya adalah ayahnya Lidya," ujar Haidar mengulurkan tangannya.
Saf langsung mencium punggung tangan pria itu.
"Oh, saya Safitri, Pak. Bidan baru di sini," jawab gadis itu ramah.
Darren menatap lekat gadis itu. Walau berkali-kali ia menggeleng cepat menolak rasa yang tiba-tiba timbul dari dalam hatinya.
"Ayo, kita duduk dan ngobrol bareng. Ibunya Lidya juga sebentar lagi datang," ajak Haidar.
Saf menurut, ia pun mengikuti pria dan Lidya untuk duduk di sebuah tempat duduk khusus di bawah tenda. Ada meja-meja dan kursi. Para pengawal menyusun meja agar memanjang dan menaruh kursi-kursi berhadapan. Mereka duduk, Lidya langsung mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Safitri.
"Aksi heroik kamu sempat viral walau langsung dibungkam oleh sistem yang ada," sahut Haidar dengan mata berbinar.
"Ah, saya hanya membantu selagi saya bisa, lagi pula saya tidak sendiri, Dek dokter Lidya dan Aini membantu saya," ujar gadis itu merendah.
"Tapi, kamu yang menanggung semua hukuman dan tidak menarik dua dokter yang menolong kamu," jawab Haidar.
Saf hanya tersenyum menanggapinya. Tak lama Terra datang bersama dua bayinya. Saf begitu semangat jika melihat bayi-bayi itu.
Tiba-tiba, Benua menarik baju Safitri. Gadis itu menoleh.
"Poleh dudut di syini?" tanya bayi itu.
"Oh, tentu," jawab gadis itu langsung mengangkat bayi gembul itu di pangkuannya.
"Manana spasa?" tanya Benua sangat ingin tahu.
"Namanya Safitri," jawab gadis itu gemas.
"Oh, Babitli," sahut Benua yakin menyebut nama dengan benar.
Safitri begitu gemas bukan main.
"Boleh cium nggak sih?' pintanya.
Gisel yang sedang mencari salah satu putranya nampak bernapas dengan lega, ketika melihat sang putra sedang merayu seorang gadis. Sky yang melihat itu lalu mendatangi saudaranya begitu juga Samudera. Bomesh dan Domesh pun juga sama.
Terra yang melihat gadis yang kemarin ikut berkompetisi bahkan memberi perlawanan luar biasa padanya, langsung senang.
Lidya memanggil Aini yang sedang berjalan membawa banyak makanan. Gadis itu ikut serta. Semenjak dirinya tak lagi memiliki hubungan dengan Darren, ia jauh lebih santai dan makin akrab.
Semua berkumpul mendengarkan para bayi yang bercakap-cakap dengan bidan cantik itu. Rion yang baru saja datang, tak digubris oleh adik-adik bayinya.
"Babitli, pindal pinama?" tanya Bomesh dengan malu-malu.
"Hei, panggil Kakak, jangan panggil nama, Baby!' tegur Lidya.
"Ata' Babitli, pindal pinana?" tanya bayi tampan itu ulang.
"Kakak tinggal di hatimu," gombal gadis itu.
Para bayi senang bukan main. Terra dan Gisel terkejut melihat betapa centilnya para bocah.
"Talo pi hati atuh, Ata' Babitli atan pahadia," ujar Bomesh yakin.
"Di atuh judha!" sahut Benua.
"Sty don ... batina beulbuat dali memas!" sahut Sky.
"Mendinan di hati Ata' Dallen aja, peubih bahadia ladhi!' sahut Samudera.
bersambung.
ah ... samudera bisaa aja kamu ...
next?