TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KESERUAN LIBURAN



Acara penobatan selesai, kemarin. Hari ini semua rombongan akan bertamasya mengunjungi candi-candi. Terlebih dahulu, adalah candi Budha terbesar di dunia, yakni candi Borobudur.


Anak-anak sangat antusias untuk naik stupa paling tinggi di candi itu. Bangunan penuh dengan sejarah itu beberapa kali dipugar karena bencana alam dan usia bangunan. Terra dan lainnya juga begitu senang menaiki setapak demi setapak tangga. Para pria muda tentu dengan gesit sampai hingga atas dengan napas sedikit terengah.


Herman yang sudah lanjut usia, sudah begitu lelah hingga pertengahan. Pria itu tadinya tak mau melanjutkan hingga pucuk terakhir candi. Tetapi melihat Bram dan Bart juga Fery melanjutkan langkahnya, ia pun langsung mengerakan kakinya hingga atas candi. Begitu juga dengan Kanya dan Mia. kedua wanita itu tak mau kalah dengan Terra, Gisel dan Puspita yang jauh lebih muda darinya. Khasya pun juga demikian. Walau napas mereka sudah menipis. Semua menguatkan kaki dan dengkul mereka menanjaki tangga hingga ujung candi.


"Mashaallah ... indah sekali!" puji Mia ketika melihat hamparan rumput hijau.


Pemandangan cantik dan bangunan yang tampak dari kejauhan. Semuanya memandang takjub pemandangan. Virgou juga menghirup udara begitu rakus ketika di atas.


Anak-anak begitu sangat ingin tahu beberapa relif yang tertera di dinding candi. Semua perjalanan hidup sang Budha Gautama, terlukis di relief candi. Bahkan seluruh kehidupan rakyatnya.


"Papa imi batunna palin dedhe manana spasa?" tanya Bomesh ingin tahu.


"Hmmm apa ya?" Gomesh tampak berpikir keras.


Darren juga tak mengetahui tingkatan para patung yang berjejer di candi itu, begitu juga Lidya dan Rion. Semua anak-anak lupa dengan sejarahnya. Herman pun menjelaskan jika yang mereka lihat adalah stupa.


"Sputa?' tanya Bomesh dengan memiringkan kepalanya.


"Stu-pa!" ralat Herman lagi.


"Stuta!" sahut Sky dan Domesh bersamaan.


Herman memilih membiarkan apa saja yang dikatakan ketiga anak batita itu.


"Stuta ipu pa'a, Tate?" tanya Bomesh masih ingin tahu.


"Stupa merupakan lambang dari agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik. Pada bagian atas puncak mangkuk terbalik tersebut terdapat bagian berbentuk persegi empat atau segi delapan yang berbentuk tongkat di atasnya. Stupa merupakan identitas yang menandakan suatu bangunan suci beragama Buddha." (sumber Wikipedia)


Penjelasan Herman hanya ditanggapi anggukan saja oleh ketiga bayi sok tahu itu. Pria itu gemas bukan main. Ia pun menciumi ketiganya hingga tergelak.


Setelah puas, mereka semuanya turun. Banyak foto yang diabadikan oleh semua keluarga. Darren memberikan beberapa fotonya pada sang kekasih.


(Assalamualaikum, Dik. Apa kau merindukan aku?)


Tulisnya ketika mengirim foto dirinya yang tengah memandang hamparan pemandangan. Lama menunggu jawaban gadisnya. Tapi tak kunjung dibalas.


"Mungkin dia tengah sibuk," gumam pria itu.


Ia pun memasukkan kembali ke katung celananya. Semuanya kembali ke bawah dan mencari rumah makan sederhana di sana. Lidya mau mencoba nasi gudeg yang begitu terkenal.


"Siapa yang mau makan angkringan?" ajak Budiman.


"Saya!" sahut Dav.


Pria itu penasaran dengan nasi kucing yang terkenal itu. Diberi nama nasi kucing karena porsinya seperti memberi makan kucing dengan berbagai lauk.


Herman membawa mereka ke sebuah wilayah kampung Instagram. Suasana dan design juga warna sangat mewakili. Para remaja, seperti Kean, cal, Satrio, Arimbi, Nai, Sean, Al dan Daud sangat senang dengan spot-spot yang disuguhkan di lokasi itu. Mereka pun berfoto untuk dipajang di sosial milik mereka masing-masing.


"Ayah, Iya mau naik delman!" pekik gadis itu kegirangan ketika melihat kereta kuda.


Sebelas delman disewa. Semua naik dan tertawa gembira. Domesh bernyanyi ketika menaiki kendaraan antik itu.


"Bada hali mindhu tululut, papa tetota ... bait belman pistipewa dududut di muta. Dududut pampin Pat tusil yan sedan beleja ... pelendalai tuda bupaya pait dalanna ... hey ... tutitatitutitatitut ... tutitatitutitatitut ... suala pepatu tuda!"


Kusir tertawa mendengar lagu yang berubah liriknya itu. Ia pun ikut bernyanyi bersama Domesh. Rion yang mendengar keseruan kereta kuda di belakangnya pun ikut bernyanyi. Tapi, kali ini Rion bernyanyi sesuai dengan lirik lagunya.


Selesai satu putaran menaiki kereta kuda. Anak-anak langsung kembali ingin makan.


"Masih lapel tau Tate!" rengek Samudera.


"Ayo, makan lagi," ajak Herman.


"Kakek juga masih lapar," sahutnya.


Yang lain juga ikut makan walau hanya camilan saja. Mia mencari serabi Jawa yang terkenal itu. Di kampung itu tentu sangat mudah mendapat jajanan tradisional. Virgou begitu antusias melihat makanan enak di depannya, pria itu seperti lupa diri, begitu juga Gomesh.


"Di kota J nanti, susah dapetin ini dan pasti banyak kerjaan," ujar pria itu beralasan.


Haidar setelah diberi minum beberapa malam lalu, ia sudah tak mengalami kehamilan simpatik. Ia dengan lahap memakan semua makanan yang ia inginkan hingga perutnya buncit.


Haidar hanya duduk lemas karena kekenyangan.


"Nanti di istana mana bisa kek gini," ujarnya.


Semua mengangguk setuju, bahkan untuk makan saja, mereka harus diatur dan memenuhi jadwal.


"Kita pulang atau mau lanjut ke candi Prambanan?" ajak Herman lagi. "Atau mau ke wisata lain?"


"Sekalian capek !" serunya lagi.


"Te, lelah Ayah, Kak Maria juga pasti lelah?" ujar Terra sambil mengusap perut buncitnya.


Herman akhirnya mengangguk tanda mengerti. Kini semuanya pun pulang menggunakan bus kecil yang disewa Herman untuk membawa semuanya ke istana. Anak-anak kembali dipisah dari orang tua mereka. Bahkan bayi Harun dan Azha yang masih menyusui pun dibuat terpisah. Puspita dan Seruni harus memeras susu mereka untuk memenuhi kebutuhan bayinya masing-masing, walau terkadang ada waktu bagi mereka untuk menyusui secara langsung.


Hari demi hari dilewati. Keseruan mereka terus terukir dalam foto dan video. Kelucuan para bayi yang begitu menghibur sangat-sangat berguna bagi para orang tua.


Hingga waktunya mereka pulang. Kereta api jadi kendaraan pilihan mereka kembali walau naik pesawat pribadi yang mereka miliki pun bisa.


Lidya menatap hamparan taman di salah satu tempat wisata Gadis itu membuat video klip. Lagu "Secret love song" milik girlband Little Mix dan Jason Derulo. Gadis itu sendiri yang menyanyikan lagu itu.


"When you hold me in the street


And you kiss me on the dancefloor


I wish that it could be like that


Why can't it be like that?


Cause I'm yours


We keep behind closed doors


Every time I see you I die a little more


Stolen moments that we steal as the curtain falls


It'll never be enough


It's obvious you're meant for me


Every piece of you it just fits perfectly


Every second, every thought, I'm in so deep


But I'll never show it on my face


But we know this, we got a love that is hopeless


Why can't you hold me in the street?


Why can't I kiss you on the dancefloor?


I wish that it could be like that


Why can't we be like that?


Cause I'm yours!"


Gadis itu benar-benar menyimpan perasaannya pada sosok yang dari dulu sudah tertanam di hatinya. Sosok tampan beriris biru.


Virgou mendengar lagu itu. Tangannya mengepal erat dengan gigi geraham mengeras hingga berbunyi gemelutuk.


"Siapa pun pria yang ingin mendapatkan dirimu, pria itu harus terbaik dan terkuat. Tak kuijinkan dia menyakiti sedikitpun dirimu, Lidya!" sumpahnya dalam hati.


bersambung ....


Halah ... Demian .. kau akan benar-benar harus berjuang segenap jiwamu.


next?