
Budiman mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Terra sudah mulai mengolah napas panjang, kontraksinya berlangsung selama 40–60 detik.
Semakin lama, kontraksi semakin teratur dan semakin kuat, tiap 5 menit. Ketika kontraksinya makin kuat, Terra sudah mengalami pecah ketuban, bertepatan dengan mobil yang sudah sampai di depan lobby rumah sakit.
Terra merasa kesakitan. Ia terus beristighfar. Keinginannya melahirkan secara normal sepertinya akan terlaksana. Herman sudah berteriak kepada petugas medis. Haidar keluar dari mobil dan langsung menggendong istrinya.
Melihat siapa yang datang, membuat semua sigap. Dua perawat langsung mendorong brankar untuk membawa Terra ke ruang persalinan.
Haidar terus menggenggam tangan istrinya yang basah. Herman berada di sisinya juga. Dua pria itu ikut keruang persalinan. Terra ingin keduanya ada di sisinya.
"Ayah ... Mas ... sakit!" rengeknya.
Herman menangis melihat kemenakannya kesakitan. Kemarin baru saja menghadapi persalinan cecar istrinya kini ia dihadapi oleh kelahiran normal kemenakannya.
"Bersalawat terus, Nak," pinta Herman..
Pria itu sedikit menjauh ketika para suster langsung mengenakan baju OK pada Terra. Kaki wanita itu langsung dilebarkan dan di taruh di penyangga.
"Ayah!" pekik Terra sambil mengerang.
"Wah, sudah bukaan sempurna, Bunda. Kita oleh napas, ya," anjur dokter perempuan yang kemarin menangani kehamilan Terra.
Terra mulai mengolah napasnya. Haidar dan Herman mengikuti ketika Terra mengejan kuat. Mata kedua pria beda usia itu sudah basah. Dua tangan Terra digenggam masing-masing oleh suami dan pamannya.
"Jangan diangkat bokongnya biar nggak sobek, Bunda!" peringat dokter ketika Terra sedikit mengangkat bokongnya ketika mengejan.
Butuh waktu dua belas menit Terra mengolah napas dan mengejan. Hingga..
"Berhenti mengejan Bunda. Kepalanya sudah keluar!" titah dokter.
"Ooaaak ... Oooaaak!" pekik tangis bayi terdengar.
"Selamat Bunda. Bayinya tampan sekali, semua lengkap dan sehat!" jelas dokter.
Terra menghela napas lega. Haidar mencium kening istrinya. Herman langsung membuka pakaian bagian dada Terra. Bayi yang sudah dibersihkan di letakkan di atasnya dan mencari sumber penghidupannya.
Ketika bayi itu menemukannya, ia langsung menghisap kuat. Terra sampai meringis. Herman terharu.
"Selamat sayang ... selamat."
Sepuluh menit kemudian, Terra kembali kontraksi. Walau yang kedua ini lebih mudah. Tetapi, jeritan dan teriakan Terra masih terdengar seperti yang pertama. Bayi kedua sempat tidak menangis, hingga membuat Haidar sedikit panik.
Namun, ketika dokter membalik tubuh bayi itu, lalu terdengar lah tangisan kencangnya.
"Bayinya tampan lagi, Bunda!"
Setelah dibersihkan bayi kedua juga diletakkan di atas dada wanita yang kini begitu bahagia karena merasakan melahirkan secara normal. Setelah yang pertama, Haidar menginginkan operasi cecar.
Dua puluh menit Terra sudah berada di ruang perawatan. Kini ia melakukan panggilan video di chat keluarga. Di sana Khasya dan Puspita menangis haru. Para bocah berisik ingin melihat dua adik jagoan mereka. Bart, juga langsung menangis ketika mendengar Terra sudah melahirkan secara normal. Virgou mengucap hamdalah berkali-kali.
"Apa kita kedatangan dua jagoan lagi?" tanya Frans di layar.
"Iya, Daddy. Ini dua jagoan lagi," jawab Haidar sambil memamerkan bayinya dalam gendongannya dan satunya dalam gendongan Herman.
"Balo padet payi!" sapa Kean ketika kamera di arahkan pada dua bayi.
"Sean pau pihat!" teriak Sean.
"Cal puluan!" pekik Cal juga tak mau kalah.
"Satlio!" wajah Satrio memenuhi kamera.
"Mama ... ba bowu!" ujarnya sambil tersenyum.
"Ba bowu pu ... baby," sahut Terra terharu.
"Nai judha!"
"Al puluan!"
"Kean!"
"Limbi!"
"Pimas, pulu!"
"Maisyaaaa!"
"Huwwaaa Daddy Affhan diputun Tata Cal!" adu Affhan.
"Babies!" sentak Rion.
Semua balita terdiam. Terra tertawa terbahak-bahak melihat semua balita tunduk pada bayi besarnya. Haidar hanya tersenyum lebar sedang Herman menggeleng saja.
Sedang Virgou, Bart, Gabe dan Widya tertawa. Frans dan Leon terbahak melihat kepatuhan para balita pada Rion. Sedang Meita dan Patricia memandang biasa saja.
"Satu-satu lihatnya. Gantian, jangan berebutan!" titah Rion garang.
"Grandpa dan Virgou akan datang ke mari nanti," lapor Herman.
Terra sedikit kurang enak jika kakek dan kakaknya itu meninggalkan acara pengantin lebih awal.
"Kenapa tidak menunggu acara selesai, sih. Te, jadi nggak enak sama Ibu Sriani dan Kak Wid."
"Mereka mempercepat acaranya. Mereka juga ikut ke sini untuk melihat langsung bayi-bayi mu," jelas Herman lagi.
"Sudah jangan banyak pikiran. Toh, mereka tidak keberatan kok," ujar Haidar.
Terra akhirnya pasrah. Ia tak mungkin melarang orang datang menjenguknya. Haidar mencium kening sang istri. Sedang Herman mengusap pipi bayi-bayi lucu itu hingga bunyi gemelutuk karena gemas.
"Assalamualaikum the next Rion," sapanya.
Terra merengek ketika mendengar perkataan pamannya. Bukannya ia tak suka. Tetapi, butuh keahlian ekstra untuk menangani kehadiran Rion selanjutnya itu.
Haidar terkekeh, ia akan meyakini jika dua putranya ini akan menjadi pengikut kakaknya yang memang super itu.
"Tidak apa-apa. Aku malah senang, semua anak-anak mirip Rion. Jantungku Hadi sehat karena berdetak lebih cepat," sahut Herman mengingat tingkah ketiga anaknya yang super itu.
Terra mengerucutkan bibirnya. Ia juga mendengar keluhan Puspita dan Khasya akan tingkah balita mereka. Herman terkekeh.
"Aku menyesal pernah tak menyukai anak-anak mu itu Te," ingat Herman sendu.
"Jangan ingat itu lagi, Ayah," rengek Terra.
"Terra malah dulu sempat meninggalkan mereka begitu saja," lanjutnya.
"Sayang, sudah ya. Sekarang waktunya berbahagia," tegur Haidar.
Terra mengangguk. Ia menghela napas panjang dan lalu tersenyum.
'Andai arwah Ibu tak datang waktu itu,' gumam Terra dalam hati.
Kemudian ia menepis semua kesedihannya. Wanita itu bahagia mengambil keputusan tepat, untuk mengasuh ketiga adik yang kini menjadi anaknya.
Tak lama, Bart, Virgou, Gabe, Widya dan Sriani datang. Bart langsung memeluk cucunya dan menangis haru. Menciuminya. Setelah Bart, Virgou pun memeluk Terra, Selanjutnya Gabe, Widya lalu terakhir Sriani.
Virgou menggendong salah satu putra adiknya itu. Bayi itu menggeliat lucu, bibirnya mengerucut. Pria tampan dengan sejuta pesona itu mencium gemas hingga bayi itu merengek.
"Apa kau sudah memikirkan nama mereka?" tanya Bart yang menggendong bayi satunya.
"Ya, sudah sejak mengetahui Terra hamil. Aku sudah menyiapkan nama mereka," jawan Haidar tegas.
"Siapa?" tanya Virgou penasaran.
"Ish, kepo sekali anda," sahut Haidar sinis.
"Ck ... kau ini. Eh, kemana Budiman?" tanya Virgou, dari tadi ia tak melihat pengawal adiknya itu.
Haidar mengendikkan bahunya. Setelah menurunkan Terra. Pria itu tak memperdulikan siapa pun kecuali istrinya.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam. Ah, panjang umur kau Bud. Baru saja aku mencarimu!" ujar Virgou.
"Ngapain Kakak nyari aku?" tanya Budiman bingung.
"Tidak ada yang istimewa sih. Hanya jika tidak ada kau serasa gimana gitu," sahut Virgou asal.
Budiman hanya mengendikkan bahu. Ia membawa beberapa barang keperluan Terra dan bayinya. Rupanya, pria itu sigap pulang ke rumah dan meminta Khasya menyiapkan baju dan peralatan dalaman kakak iparnya itu.
"Wah, kau cekatan juga ya!" sahut Bart menyindir Haidar.
Haidar hanya acuh menanggapi sindiran itu. Bart langsung berdecih.
"Tentu, sebagai adik ipar yang baik," sahut Budiman sombong..
"Ih ... nyesal aku memujinya!" seru Bart menyesal.
Terra hanya menghela napas panjang dan memutar mata malas. Ia mengucap banyak terima kasih pada Budiman yang tanggap. Jujur sekarang ia merasa risih karena tidak memakai dalaman.
Bersambung.
wah Selamat ya terra.
oke seson Satu selesai....
kita akan bertemu di seson kedua
"TERRA AND HER BIG FAMILIES"
Tamat seson satu.