TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CERITA DARREN



Hari berganti, waktu begitu cepat berlalu. Baby Rion yang sudah dua bulan diasuh oleh Terra mulai menampakkan bakatnya. Yakni melempar barang yang ada di dekatnya.


Untuk anak usia satu tahun dan belum mahir berbicara ini memiliki tenaga yang cukup kuat untuk anak usia batita.


Bahkan tak jarang lemparan-lemparannya tepat sasaran. Seperti hari ini. Bayi montok itu melempar semua buah yang lupa bik Romlah bawa ke atas.


Semua buah masuk ke dalam.keranjang sampah. Beruntung keranjang sampah itu bersih. Jadi bik Romlah hanya mencucinya sampai bersih.


Terra yang mengamati putra bungsunya itu hanya tersenyum. Gadis itu membiarkan Rion melakukan apa pun asal tidak membahayakan anak itu.


"Mama ... Iya mau tue ulan tauna Baby Lion lasya setobeli," usul Lidya dengan mimik serius.


"Ih ... kok stroberi sih. Itu mah kesukaan kamu. Mending coklat aja, Ma!" kali ini Darren memberi usul.


Ya,.pria kecil itu sudah mulai bebas mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Terra memberinya keluasan untuk berbicara.


"Ih ... badusan setobeli dali padha soslat!' protes Lidya.


"Hei ... kok, kakak-kakak malah beratem. Gimana kalo kita tanya sama Baby Rion saja, apa yang ia mau?" tanya Terra menengahi.


"Tapi, Baby Lion tan beyum bisya milih Ma!' protes Lidya.


"Kue stroberi nya pas kamu ultah aja, Ya!' timpal Darren yang membuat Lidya meruncingkan bibirnya.


Terra gemas melihat semua itu, hingga tak sabar mencium pipi Lidya yang menggembung.


"Baby ... Kamu sukanya rasa apa? coklat atau stroberi?' tanya Darren.


Bayi montok itu malah melangkah cepat ke arah Terra. Meng-hap pipi gadis itu hingga membasahi wajah Terra dengan air liurnya.


Terra tertawa. Ia menggelitik perut Rion dengan mulutnya hingga bayi itu tergelak.


"Mau apa sayang. Ditanya sama Kakak Darren?' tanya Terra pada Rion.


"Okat ...," jawab Rion dengan mimik lucu.


"Tuh kan bener," ujar Darren bangga.


"Beyyi ...," tiba-tiba Rion menjawab lain.


Terra tertawa senang. Ternyata jawaban itu membuat kedua kakaknya senang.


"Baby Rion ternyata bijak ya," jelas Terra bangga.


Baik Darren dan Lidya senang, karena kue yang akan dihidangkan adalah kesukaan mereka berdua.


Malam tiba. Baik Lidya dan Rion sudah tertidur lelap. Mereka masih tidur bersama. Terra belum mau tidur terpisah dengan ketiga anak-anaknya. Karena terkadang baik Lidya atau pun Darren masih mengigau.


Darren belum tidur. Ia duduk termenung menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tatapannya kosong.


Terra memasuki kamar setelah membereskan semua pekerjaan juga tugas kuliahnya.


"Dar ... ada apa?' tanya Terra langsung mendekati Darren yang mematung.


"Hei ... sayang!" Terra langsung menakup pipi putra kecilnya.


"Sayang!' tegur Terra. "Lihat Mama, Nak!"


Darren akhirnya tersentak kemudian ia menatap wajah yang sangat ia sayangi. Sungguh, pria kecil itu tak tahu jika Terra tidak hadir dalam hidupnya.


"Mama," panggil Darren lirih.


"Iya, sayang. Ini Mama!" jawab Terra lembut.


Satu buliran bening menetes di pipi merah Darren. Terra langsung mengusap air mata yang jatuh itu dengan jemarinya.


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Terra lembut.


"Mama beneran nggak akan ninggalin Darren dan adik-adik kan?" tanya Darren penuh ketakutan.


"Sayang ... kenapa kamu nanya kayak gitu?" ujar Terra menenangkan Darren, "Mama nggak akan ninggalin kalian."


"Ma ... dua hari kemarin Darren mimpi, Mama ninggalin kita," ujarnya sangat lirih dengan air mata yang mengalir.


"Sayang ... dengar Mama. Apa pun yang terjadi, Mama nggak akan ninggalin kalian!" jawab Terra yakin.


"Mama tau apa kata Tante Firsha dulu?" Terra hanya diam. Sungguh ia tak ingin putranya mengisahkan kejadian kelam masa lalunya.


"Tante bilang, tidak ada yang akan mau jadi Mama Darren, karena Darren anak haram."


Perkataan Darren membuat Terra terbelalak. Tak menyangka ada seorang ibu yang tega berkata buruk seperti itu kepada anak kandungnya sendiri.


"Ma ... anak haram itu apa ... hiks."


"Apa Darren ini, bab* atau anj**g?" tanyanya sambil terisak.


"Ma ... jawab Ma ... anak haram itu apa ... huuuu ... uuu ... hiks ... hiks!"


Terra diam. Ia langsung merengkuh Darren. Menenangkan pria kecil itu yang kembali bergetar hebat.


"Tante bilang ... tidak ada ulang tahun untuk anak haram ... hiks ... hiks ...!'


"Sayang ...," suara Terra tercekat.


"Ma ... anak haram itu apa?!" Darren menangis pilu.


Terra makin mengeratkan pelukannya. Ia salurkan seluruh cinta dan kasih sayang untuk menenangkan putra kecilnya itu.


Tangisan pilu Darren membangunkan Lidya. Gadis kecil itu terduduk dan menatap ibu dan kakaknya menangis. Gadis itu ikut menangis, ikut merasakan kesedihan. Lidya ikut memeluk keduanya.


"Mama syama Tata Dallen tenapa menyangis? Hiks ... hiks."


Lidya mencium pipi Terra dan Darren penuh kasih. Gadis kecil itu berusaha menenangkan kesedihan yang menimpa ibu juga kakaknya itu.


Terra memeluk Lidya. Gadis itu merasakan jika Lidya pasti mengetahui penderitaan kakaknya secara langsung.


bersambung


uh ... ☹️