
Terra keluar ketika baru menyusui empat anaknya. Tubuh wanita itu sedikit berisi. Rion dalam gendongannya. Melihat Gisel sedang melamun. Rion minta turun.
"Ata' Bisel penata?" tanyanya dengan mata bulat ingin tahu.
Gisel menatap balita itu lalu memangkunya. Menciumi Rion hingga tergelak. Lidya datang. Ia juga mau seperti adiknya. Gisel tak keberatan. Dua-duanya langsung diberi ciuman gemas hingga keduanya tergelak.
"Ampun Tata!" pinta Lidya sambil tertawa.
Akhirnya Gisel menghentikan aksinya. Mukanya masih muram. Terra memperhatikannya.
"Baby dan Kakak Iya, main dulu sana," titah Terra.
Rion dan Lidya pun menurut. Mereka bermain. Sedang Darren tadi masuk ke kamarnya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Terra sambil mengelus kepala Gisel dengan sayang.
Gisel memeluk manja pada Terra. Ia menyurukkan kepalanya pada dada Terra.
"Kakak," rengeknya.
"Kenapa, sayang?" tanya Terra.
"Kak, tadi aku bikin masalah," adunya.
"Masalah. Masalah apa?" tanya Terra bingung.
"Tadi pas pulang, aku diganggu sama empat orang cowo. Mereka ngaku dari genk kobra. Kek nya banyak yang takut deh, ama genk itu," keluh Gisel lemah.
"Trus?"
"Aku tadi membanting salah satu orangnya. Trus temen-temen pada belain aku. Mereka ngancam akan bakar kampus," ujar Gisel melanjutkan aduanya.
"Siapa yang mau bakar kampus?' tiba-tiba Haidar datang bersama Budiman.
Pria itu baru saja mengajak pengawal setia istrinya itu ke mal membeli popok sekali pakai dan susu untuk ibu menyusu.
"Assalamualaikum, Mas!' salam Terra sedikit menekan perkataan.
"Wa'alaikum salam," balas Haidar dan Budiman sambil terkekeh.
Romlah datang membawa tas kresek berisi belanjaan yang dibawa Budiman. Kedua pria itu duduk menghadap Gisel.
"Siapa yang mau bakar kampus?' tanya Haidar lagi.
Gisel pun menceritakan apa yang baru saja ia alami tadi di kampus. Haidar pun mengangguk. Belakangan ini ia mendapat laporan jika ada beberapa preman melakukan pemalakan dengan atas nama genk yang dikatakan Gisel.
"Bagaimana jika besok, Abang yang antar jemput Nona Gisel?' tawar Budiman dengan raut wajah menahan amarah.
"Cieee ... Abang, nih yeee!" ledek Haidar.
Blush! pipi keduanya merona. Budiman akhirnya tak ambil pusing dengan ledekan Haidar. Ia sudah terlanjur malu. Semenjak tinggal dan bekerja bersama Terra dan keluarganya. Pria dingin dan datar itu berubah seratus delapan puluh derajat.
"Tapi, Abang kan jagain Kak Terra. Mana bisa lepas tugas?" tanya Gisel.
Memang benar. Terra adalah klien Budiman yang tak boleh ia tinggalkan. Budiman merupakan kepala pengawal yang menjaga Terra.
"Nanti, Kakak minta Kak Dahlan yang jaga Kakak. Biar Kak Budi jagain kamu," sahut Terra. "Kan kamu adikku, jadi bisa dong."
"Benar kata Kakakmu, Gis. Biar Dahlan yang gantiin posisi pengawalan. Budiman dan beberapa tim lain akan menjaga kamu sementara," sahut Haidar menyetujui perkataan Terra, istrinya.
"Ya, boleh lah. Aku juga sih sebenarnya penasaran. Senekat apa mereka gitu," ujar Gisel.
Adzan maghrib berkumandang. Semuanya pun bersiap untuk shalat. Gisel tengah kedapatan siklusnya jadi ia tidak sholat.
******************
Ke esok harinya. Gisel mendapat mata kuliah pagi. Gadis itu lupa jika harus berangkat dengan Budiman sesuai kesepakatan.
Dengan menggunakan taksi daring. Ia sudah sampai setengah jam sebelum mata kuliah dimulai. Bisnis agriculture sebanyak empat semester. Berarti selama dua jam gadis itu berada di kelasnya.
Tepat pukul 10.23. mata kuliah Bisnis agriculture selesai. Ia akan berlanjut dengan mata kuliah lain pukul 14.30.. Gisel memilih tetap berada di kampus dari pada pulang. Tara bersamanya, kini mereka berdua berada di kantin.
"Gue belum sempet sarapan tadi," sahut Gisel langsung melahap gorengan yang ada di meja.
"Mba Min. Aku bikinin Emih goreng ya!" pintanya dengan makanan masih berada dalam mulutnya. "Telornya didadar!"
"Iya!' sahut Minah segera membuat pesanan Gisel.
"Aje gile Lo. Telen dulu tuh makanan!" peringat Tara yang ditanggapi cengiran oleh Gisel.
"Gue heran sama Lo ya. Kamu itu bule apa orang udik sih?" tanya Tara penasaran.
"Bule keudik-udikan," jawab Gisel asal.
"Mana ada!" seloroh Tara kesal.
Gisel hanya tertawa. Mba Minah, penjual sekaligus pemilik dari kantin. Memberi mie goreng pesanan Gisel.
"Mba, ada nasi nggak?" tanya Gisel.
"Ada, mau?' Gisel mengangguk.
"Jangan banyak-banyak! setengah sendok makan aja," pinta Gisel.
Satu piring nasi terhidang. Tara ikut membantu makan mie Gisel. Mereka sering berbagi makanan. Tara bukanlah gadis sekaya Gisel. Tapi, perbedaan status sosial juga bangsa yang berbeda tidak menyurutkan persahabatan mereka. Herannya.
Gisel yang memang tidak bisa memiliki teman, hanya Tara yang mampu mengerti dirinya. Walau bukan hanya Tara yang ingin bersahabat dengan Gisel. Tapi pembawaan Gisella Elizabeth Dougher Young yang dingin dan datar itu. Sulit beradaptasi dengan teman sebayanya. Kecuali Tara.
Usai makan. Mereka pergi ke perpustakaan. Banyak yang menyapa keduanya. Hanya ditanggapi senyum ringan dan anggukan kepala. Tak jarang, mereka dipanggil duo putri salju.
"Eh, denger-denger Lo bikin masalah sama Genk kobra ya?" tanya Tara berbisik ketika di perpustakaan.
Gisel mengangguk. Tara tak lagi bertanya. Pak Sueb petugas perpus tengah berkeliling.
"Trus gimana?" tanya Tara berbisik kembali setelah petugas pergi.
"Nggak tau. Gue mau liat ntar kek gimana," jawab Gisel juga berbisik.
"Ehem!" Pak Sueb berdehem. Kedua gadis itu langsung kicep.
Bel berbunyi. Gisel dan Tara akhirnya bisa pulang. Semua mahasiswa pun berhamburan keluar kelas. Banyak dari mereka masih nongkrong di koridor kampus. Sangat berisik hingga perlahan kembali sepi setelah satu persatu mereka menaiki kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Tara menaiki motor ayahnya. Hari ini sang ayah tak menjemputnya karena banyak kerjaan. Makanya motor butut itu menjadi kendaraannya sekarang.
"Yuk, Gue anterin Lo pulang!" ajak Tara sambil mengengkel motornya.
Terdengar mesin motor yang sember. Tara memberi helm pada Gisel. Ia juga telah memakai helmnya. Mereka pun keluar kampus. Baru saja mereka sampai pada belokan jalan besar. Motor Tara dipepet oleh mobil bakter warna hitam. Sekitar sepuluh pemuda memakai kupluk menutup mukanya.
Tara berhenti. Gisel pun langsung turun. Gadis itu menyandarkan motor bututnya. Gisel melindungi Tara. Ke sepuluh pemuda menggunakan tongkat untuk menghajar dua gadis.
"Tar, mending kamu pergi dari sini dan cari bantuan!' titah Gisel.
"Nggak. Gue ikut Lo!' tolak Tara.
Ia membuka jok motor. Dua dobel stick ia keluarkan.
"Lo bisa pake ini?" Gisel bengong, lalu kemudian mengangguk.
"Ayo kita hajar mereka. Udah lama juga Gue nggak hajar orang," ajak Tara sambil menyeringai bengis.
Gisel tersenyum. Satu lagi fakta mengejutkannya. Sahabatnya bisa bela diri juga.
Baku hantam yang sangat tidak adil pun terjadi. Kesepuluh preman yang hanya mengandalkan senjata pun kelabakan.
Bag! Bug! Bunyi pukulan mengenai wajah pada preman. Hingga tiba-tiba.
"Cepat bantu mereka!"
Sebuah teriakan mengagetkan semuanya.
bersambung.
Duh ... yang Dateng mang Pudi kah?
next?