TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MONSTER



"Siapa yang berani mengancam kakakku?!" tanya Rion lagi gusar.


Gea menatap remaja tampan itu. Mulutnya menganga lebar karena terpesona melihat ketampanan Rion. Remaja itu memang tengah mengadakan rapat pada petinggi rumah sakit bersama ayahnya. Ia ingin makan bersama kakak dan kakak iparnya. Haidar masih bercengkrama dengan kepala rumah sakit.


"Tutup mulutmu, sebelum aku masukan batu di sana Nona!" hardik Rion kasar.


Gea mengatup mulutnya cepat. Ia berjengkit kaget mendengar bentakan Rion.


Tatapan menghunus dengan wajah super dingin dan datar. Semua seperti terdiam dan takut mendengar bentakan Rion.


"Baby," panggil Lidya melembut.


"Siapa dia Kak?" tanya Rion sinis pada Lidya.


Remaja itu melewati begitu saja gadis yang memakai dress hitam super seksi. Dress itu berpotongan V dan rendah hingga memperlihatkan tonjolan dada yang membuat mata para hidung belang keluar dari sarangnya. Dress itu sangat pendek tingginya di atas dengkul hingga memperlihatkan pahanya yang mulus.


"Om Gio, bawa dia menjauh dari Kakakku!" titah Rion menatap jijik pada Gea.


"Mari ikut saya, Nona!" ujar Gio datar.


"Tapi saya belum selesai berurusan dengan wanita ini!"


Gea ngotot, ia menunjuk Lidya yang menamparnya tadi. Tangannya melayang.


Tap! Rion memegang pergelangan tangan gadis itu sebelum mendarat di pipi halus kakaknya.


"Aarrghh!"


Gea kesakitan. Rion seakan ingin mematahkan tangannya. Renjana itu pun menarik kuat gadis itu dari halaman rumah sakit. Rio, Nino dan Helmi yang menjadi pengawalnya berlarian mengikuti remaja itu yang menarik Gea.


"Lepas kan!" teriak Gea kesakitan.


Lidya dan yang lain pun diam saja. Mereka memilih membiarkan Gea diurus oleh Rion.


"Kita lanjutkan?" ajak Putri.


Semua tersenyum lalu mengangguk dan meninggalkan halaman rumah sakit. Banyak orang yang tak peduli dengan apa yang terjadi barusan. Mereka mengira itu adalah masalah keluarga.


Ada beberapa orang merekam kejadian itu. Sayang, ketika sudah ter-upload. Tayangan itu hilang sebelum lima detik. Bahkan rekaman di ponsel masing-masing juga hilang.


Rion menyeret Gea hingga jalan besar. Ia menghempaskan keras gadis itu hingga tersungkur di aspal panas.


"Kau kasar sekali!" bentak Gea sambil meringis sakit.


"Jangan ganggu kakakku. Aku pastikan dirimu akan kesulitan setelah ini jika kau terus mengganggu!" tekan Rion datar dan tak peduli ringisan Gea.


"Aku pastikan kau tak akan bekerja di mana pun! Kau sudah dipecat!" ujar Rion lagi.


"Aku tak bekerja padamu!" teriak Gea berani.


Gadis itu berdiri dan membenahi bajunya.


"Demian Starlight baru saja mengirimkan kuasa pada diriku untuk memecatmu Gea Adinda!" seru Rion.


"Jika kau tak percaya, silahkan kau ke kantor Kakakku sekarang dan lihat apa kau masih bekerja di sana atau tidak!" ujar Rion.


Remaja itu pun berlalu dari hadapan Gea, diikuti oleh tiga pengawalnya. Gea tercenung. Gadis itu masih tak percaya. Ia pun pergi menuju kendaraan motornya. Selama dua tahun bekerja, ia menghabiskan seluruh gajinya untuk berfoya-foya. Ia mengirim sedikit pada keluarganya dikampung.


Gadis itu memilih menyewa sebuah hunian yang cukup berkelas dibanding tinggal di mes karyawan yang memang disediakan perusahaan. Gea hanya membeli kendaraan roda dua secara tunai untuk akomodasinya.


Gea benar-benar pergi ke perusahaan di mana ia bekerja. Gadis itu ditahan oleh resepsionis.


"Gue kerja di sini. Ini kantor gue!" teriaknya marah.


"Maaf, Nona. Silahkan menunggu di ruang tunggu!" titah resepsionis baru.


Gea menatap sosok yang menghentikannya. Ternyata semua susunan perusahaan sudah berubah total. Padahal baru kemarin ia meninggalkan kantor ini karena di skors tiga hari tak boleh masuk.


Tak lama resepsionis tadi mendatanginya dan membawanya ke ruang HRD.


Tok ... tok ... tok!


"Masuk!" teriak orang dari dalam.


"Tuan!" panggil Gea dengan suara lemah.


Wajah gadis itu pucat ketika melihat tatapan tajam Demian. Di sana ada Tuan Bondan manager HRD. Suasana begitu mencekam. Kini Gea sangat paham jika dirinya sudah tak lagi bekerja karena mengusik milik orang yang paling berkuasa.


"Kukira kau tak peduli dengan perkataan adik iparku dan tak datang kemari Gea!" seru Demian datar.


"Sudah kukatakan berulangkali. Perusahaan ini memiliki peraturan sendiri. Lidya adalah istriku dan dia berhak memberikan teguran pada semua karyawan jika melanggar peraturan," jelas Demian penuh pemakan.


Gea tertunduk. Gadis itu mulai menyesali perbuatannya.


"Apa maksudmu mendatangi tempat kerja istriku dan mengawasinya?" tanya Demian dengan intonasi nada mulai meninggi.


"Istri anda menampar saya Tuan!" cicit Gea membela diri.


"Terus? Kau tau alasannya kenapa kau ditampar Gea. Kau mengatai kakak ipar istriku kacung!"


Gea terkejut, ia tak menyangka semua perkataannya dapat diketahui oleh pria yang sebentar lagi menjadi mantan atasannya.


"Aku serahkan semuanya padamu, Bondan!" ujar Demian mulai malas.


Pria itu meninggalkan ruangan. Bondan memberikan surat pemecatan pada Gea. Gadis itu menangis tersedu melihat amplop putih itu.


"Masih untung kau hanya dipecat Gea. Bagaimana jika Tuan Starlight mem-blacklist dirimu. Kau akan kesulitan mencari pekerjaan seumur hidupmu," jelas Bondan dengan nada kecewa.


Gea menerima surat pemecatan itu. Ia juga mendapat surat sakti agar bisa melamar pekerjaan di perusahaan lain. Gea juga mendapat pesangon yang cukup besar dari perusahaan itu.


Langkah gadis itu gontai. Ia menatap gedung pencakar langit. Dua tahun ia bekerja, penyesalan memang selalu datang terlambat.


"Lebih baik aku pulang kampung dan membuka toko," ujarnya lalu ia menghapus kasar pipinya yang basah.


Gadis itu pun memulai rencana barunya. Pulang ke kampung halaman dan memulai usahanya.


Sementara di tempat lain. Lidya tengah tertawa bersama dengan ayah, adik, kakak dan suaminya.


Demian segera pergi ke rumah sakit setelah memperingati Gea.


"Jadi, kau sudah memecat gadis itu?" tanya Haidar penasaran.


"Sudah Pa. Aku hanya tak habis pikir, dia itu lumayan cerdas dan bekerja cukup baik di divisinya," jelas Demian.


"Rapat untuk memecat Gea sedikit rumit karena prestasinya tadi. Tapi, melihat pelanggaran yang ia lakukan selama dua tahun bekerja membuat para tim bungkam. Ternyata selama ini para manager menikmati tubuh yang dipamerkan Gea!" jelas Demian dengan nada penuh kekecewaan.


"Terkadang, memang lelaki yang lemah iman yang tergoda dengan suguhan yang menggiurkan. Tontonan gratis dan bisa dijamah secara suka rela. Para pria enggan memakai wanita penjaja cinta, mereka memilih wanita yang dekat di sekitar mereka," ujar Haidar.


"Memang Papa tertarik dengan wanita seperti Gea?" tanya Lidya menyelidik.


"Papa pria normal, sayang. Suguhan itu lewat secara gratis, tentu terlihat. Tapi, sebisa mungkin Papa menundukkan pandangan lagi dan berucap istighfar dalam hati," jelas pria itu jujur.


"Ada yang halal menanti di rumah. Tapi memilih yang haram hanya untuk melampiaskan napsu," sela Darren.


Mereka usai menikmati makan siang dan kembali ke pekerjaannya masing-masing.


"Lid!" panggil Saf ketika mereka berjalan beriringan ke ruang praktek masing-masing.


Lidya menoleh.


"Apa Baby Ion menyeramkan seperti tadi?" tanya Saf sedikit bergidik mengingat kekejaman adik iparnya tadi.


Lidya hanya tersenyum menjawab pertanyaan Safitri. Ia pun mengangguk.


"Baby sudah galak dari dia bisa berjalan, Mam,"


Lidya menjawab sambil mengingat ketika Rion melempar Meita dengan gelas koktail hingga kepala wanita itu berdarah.


bersambung.


Rion itu sudah monster dari bayi.


next?