
Lidya ditemani Gio, Hendra dan Felix. Kini mereka menjenguk dua adik dari salah satu rekan seprofesinya. Aini memang sudah selesai praktek. Kini ia sedang berada bersama adik-adiknya di ruang kelas satu. Sebagai seorang dokter, tentu ia memiliki fasilitas di rumah sakit. Gadis itu memilih untuk menempatkan dua adiknya di ruangan yang sedikit terjangkau olehnya. Sebagai dokter baru di rumah sakit itu. Pendapatannya belum ia dapatkan, terlebih gajinya masih lima hari lagi baru ia terima.
"Selamat siang, Dok!" sapa Lidya.
"Selamat siang juga," sahut Aini dengan senyum lebar.
Gio menyerahkan sebuah parsel buah, sedang Felix memberikan satu kantung mainan anak laki-laki. Ditya dan Radit begitu senang dengan mainan itu.
"Terima kasih, Dok," sahut Ditya dengan wajah ceria.
Wajah itu tak lagi mengandung kesedihan. Walau ada binar rindu di kedua netra jernihnya. Sedang sang adik memang senang, tapi ia kembali menunduk.
"Hei, kok sedih?" tanya Lidya ikutan sedih.
Gio, Felix dan Hendra menunggu di luar ruangan. Aini memeluk adiknya itu. Ia menenangkan Radit yang kini terisak. Ditya pun jadi ikutan sedih.
"Mereka merindukan kedua orang tuanya," ungkap Aini lirih.
Lidya terdiam. Ia ikut sedih. Gadis itu mengusap punggung kecil yang kini bergetar.
"Ceritain sih Kak?" pinta Lidya.
Aini menghela napas panjang. Ia pun menceritakan semuanya. Hingga ketika ia pulang rumah dalam keadaan gelap. Kedua adiknya yang tidur menghalangi pintu dan tidak mendapati paman dan bibinya.
"Aku nggak tau mereka pergi ke mana, Dok!" ujarnya lirih.
Lidya ikut merasakan bagaimana ditinggalkan orang tua, karena dulu ia juga mengalaminya, walau dengan kejadian yang berbeda.
"Kak, gimana kalo aku bantu kakak nyari Paman dan Bibi?" tawarnya kemudian.
"Bisakah?" tanya Aini masih ragu.
"Kita lapor polisi gitu?" tanyanya lagi.
"Emang kakak punya foto keduanya?" tanya Lidya yang ditanggapi gelengan oleh Aini.
Lidya pun memanggil Gio. Pria itu pun datang lalu membungkuk hormat.
"Om, bisa minta tolong mencari tau di mana paman dan bibi kak Aini?" pinta gadis itu.
"Baik, Nona!" sahut Gio kembali menunduk hormat.
Pria itu kembali ke luar ruangan. Ia mengambil BraveSmart ponsel. Lalu memindai rumah sewa Aini dan memeriksa seminggu sebelumnya.
Putri datang juga membawa satu kantung buah. Hendra mendatangi gadis itu dan mengambil kresek yang ada di tangan Putri.
"Biar saya bawakan, Nona," ujarnya.
"Terima kasih," sahut Putri dengan senyum manis.
Gio melirik Hendra yang acuh saja. Felix yang tak tau apa-apa hanya diam ikut mengamati pergerakan pada layar ponsel canggih pria itu.
"Ketua, sepertinya kita memundurkan satu hari lagi deh," ujar Felix membuyarkan lamunan Gio.
"Oh, kau benar. Kan kejadian itu sudah lebih dari satu minggu ya," ujar Gio cepat.
Hendra meletakan kantung kresek itu di atas nakas. Lalu ia pun undur diri setelah Putri kembali mengucap terima kasih. Melihat Lidya, Aini dan dua anak yang habis menangis. Membuat dia penasaran.
"Ada apa. Kok sedih banget, sih?"
Lidya pun menceritakan apa yang dialami dokter itu. Putri terkejut mendengarnya. Kisahnya sama dengan apa yang dialami oleh sahabatnya dulu, hanya saja beda versi.
"Kita doakan, agar keduanya baik-baik saja," ujar Putri menenangkan.
"Aamiin," sahut Aini mengaminkan.
Gadis itu berharap, Paman dan bibinya bisa ditemukan. Ia sungguh tak tega melihat kesedihan dua adiknya yang masih butuh belaian kedua orang tuanya.
Sedang di tempat lain. Demian kini tengah duduk dengan mata menerawang. Ia sangat merindukan kekasihnya. Begitu juga Jacob.
"Jac!"
"Tuan!"
Keduanya saling tatap. Lalu terdengar helaan napas panjang.
"Haaaah!"
"Aku merindukan Lidya, Jac!"
"Saya merindukan Putri, Tuan!"
Keduanya saling tatap kembali. Lalu Demian pun bangkit.
"Ayo kita berkunjung ke rumah sakit!" ajaknya.
Setelah tumpukan pekerjaan selesai. Keduanya kini memiliki waktu untuk sekedar mengecek kesehatan mereka ke rumah sakit, sekalian menghampiri gadis-gadis yang mereka rindukan. Keduanya pun menempuh perjalanan selama dua puluh dua menit.
Setelah mendaftar, Demian berinisiatif bertanya pada suster di mana Lidya berada.
"Oh, Dokter Lidya sedang berada di ruang perawatan, menjenguk salah satu pasien anak," jawab suster itu.
"Di ruangan mana?" tanya pria tampan itu.
"Di ruang Anggrek satu," jawab Suster sambil memandangi wajah pria itu dengan pandangan memuja.
"Oh, baik. Terima kasih," ujar Demian lalu mengajak pria bawahannya.
Suster itu belum melepas pandangannya dari sosok tinggi menjulang yang kini menjauhinya itu.
Melihat tiga pria yang sedang melihat ponsel yang juga dimiliki oleh Demian. Membuat ia sedikit mengerutkan kening.
"Selamat siang," sapanya.
Tiga pria itu menoleh. Lalu, semuanya bersikap sempurna.
"Selamat siang Tuan Starlight," sahut Gio datar.
Baru saja, Demian hendak membuka mulut. Putri keluar ruangan. Menatap para pria yang menoleh padanya.
"Tuan Starlight, Tuan Jacob?" sapanya.
"Ada keperluan apa, Tuan berdua ke ruangan ini?" tanya gadis itu.
"Ah, saya mendengar jika Dokter Lidya menjenguk adiknya di sini," jawab pria itu.
"Oh, bukan adik, sih. Tetapi, adik dari Dokter Aini, rekan seprofesi kami," sahut Putri memberitahu.
"Oh, begitu rupanya, boleh kami ikut menjenguk?" tanya pria itu meminta ijin.
"Tentu, silahkan masuk," jawab Putri lalu membuka lebar pintu itu.
Demian dan Jac masuk. Sungguh Gio tak menyukai kedatangan dua pria itu. Jiwa posesifnya langsung muncul, jika ada pria yang mencari keberadaan nona mudanya.
Namun, ia harus menahan niat untuk tidak berbuat lebih. Terutama ini adalah rumah sakit. Ia hanya mengawasi saja.
"Ketua, sepertinya, Paman dan bibi dari Dokter Aini menaiki angkutan umum menuju halte!"
Perhatian Gio pun beralih. Ia pun menatap layar ponsel dan mengulang dua kali pergerakan dua manusia itu. Ia pun sangat meyakini jika dua orang itu adalah paman dan bibi yang meninggalkan dua anaknya.
Wajah samar itu pun terlihat jelas setelah Gio menekan bilik tulisan Scan pada layar. Ia pun masuk ke ruangan.
"Maaf, mengganggu. Dokter Aini, ada yang ingin saya tanyakan," ujarnya langsung.
Aini pun mengangguk. Gio menghampiri gadis itu dan memperlihatkan ponselnya.
"Apa ini paman dan bibi, Dokter?" tanya pria itu memastikan.
"Iya, ini paman dan bibi, saya," jawab Aini sedikit terkejut.
Gadis itu begitu kaget melihat kecanggihan ponsel yang ada di tangan pria pengawal Lidya. Demian yang menatap ponsel itu pun sangat mengenalnya, karena ia juga punya benda tersebut.
Gio lalu mengambil ponselnya dan menelusuri pergerakan kedua manusia yang mulai menaiki bus. Butuh waktu sangat lama untuk melihat pergerakan selanjutnya. Aini penasaran begitu juga yang lainnya.
"Apa tidak bisa dipercepat waktunya?" tanya Jac gusar.
Gio hanya melirik tajam pria itu. Lidya juga sama penasarannya dengan Jacob.
"Om, lama banget!"
"Kalau kita percepatan, takutnya ada pergerakan yang terlewat. Kita memastikan jika kedua orang tua adik ini tidak turun lagi atau turun di pinggir jalan mana saja, Nona," jelas Gio menjelaskan.
Akhirnya semua pun diam menanti jawaban. Hingga waktu besuk usai. Salah satu petugas mengingatkan jika semua pengunjung harus keluar ruangan kecuali para pendamping pasien. Aini sudah minta ijin pada perusahaan Darren jika ia tak membuka prakteknya hingga kedua adiknya sembuh total dan keluar dari gizi buruk.
Gio mengunci pergerakan Dono dan Marni. Semua harus keluar dari ruangan. Aini masih penasaran dengan apa yang terjadi setelahnya.
"Paman dan Bibi mau ngapain ke kota D?" gumamnya bertanya lirih.
Ketika di luar ruangan Lidya, Gio kembali melihat pergerakan bus yang membawa dua orang yang diikutinya. Hingga di sebuah waktu, menunjukkan satu peristiwa mengerikan terjadi. Gio membola.
"Innalilahi wa innailaihi radjiun!"
bersambung.
hmmm ....
next?