
Hari senin tiba. Pagi-pagi Terra sudah bangun, begitu juga Darren. Mereka berdua sibuk mengurus keperluan mereka masing-masing.
Sedangkan dua balita lainnya dengan santai menatap dua orang dewasa tengah sibuk.
'Mama bibuk samat!" celoteh Rion.
Terra berhenti dari kegiatannya. Mendatangi bayi cerdas itu dan menciumi wajah juga tubuh gempalnya.
Terdengar tawa renyah dari mulut Rion. Lidya juga minta dicium oleh ibunya. Dengan senang hati Terra menciumi gadis kecil itu.
"Ayo, bangun semuanya. Mandi, trus sarapan, trus anter Kakak Darren sekolah," ujar Terra.
Gadis itu mengangkat Lidya terlebih dahulu, kemudian memandikannya. Usai Lidya rapi dengan pakaiannya. Terra menyuruh Darren membawa adik perempuannya itu ke meja makan.
Darren yang sudah tampan dengan seragam putih-putih. Hari ini dia bertugas menjadi pengibar bendera. Kemarin sore, Terra mengantarkannya untuk berlatih paskibra. Betapa bangganya Terra melihat putranya berlatih.
Bahkan Rion ikut berlatih gerak jalan. Walau hasilnya pasti rusak dengan tawa tak berkesudahan jika bayi montok itu beraksi. Bahkan Terra nyaris ribut dengan salah satu wali murid yang ada di sana gara-gara hendak mencubit pipi gembil Rion. Jika tidak dipandang horor dari Terra.
Beruntung, ada para bodyguard Hingga para ibu-ibu gemas akan tingkah bayi itu hanya bisa mengepal erat tangan mereka karena kegemasan. Mereka takut mendatangi Rion karena ada delapan bodyguard yang menjaganya.
Terra memandikan Rion. Yang pastinya ada drama di sana. Gadis itu dengan sabar melayani apa saja yang anak bungsunya itu katakan.
"Mama ... pentaulah pulan pumana mang sebinal pi lamit," rayu Rion.
Terra hanya bisa menggosok keningnya mendengar kata-kata Rion. Gadis itu harus segera menyudahi mandi bayi menggemaskan itu. Sebelum ia mendengar perkataan absurd lainnya dari mulut Rion.
Rion sudah rapi. Mereka sekarang ada di ruang makan. Budiman juga ada di sana.
"Memamat padi Om Pudi," sapa Rion.
"Selamat pagi Tuan Baby," saut Budiman.
Mereka memakan nasi goreng, kecuali Rion. batita itu makan bubur ayam yang Terra buat sendiri.
Terra ada mata kuliah jam sepuluh pagi. Ia masih sempat melihat putranya bertugas. Baru sudah itu ia akan pergi ke kampus dan membawa dua anaknya serta.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15. Darren sudah ribut. Pria itu takut terlambat. Terra sudah membawa perlengkapan untuk Lidya dan Rion. Gadis itu membawa bik Romlah serta bik Ani untuk menjaga Lidya dan Rion di mobil ketika ia di kampus nanti.
Seperti biasa. Budiman menjadi sopir Terra. Darren duduk di sebelah kursi kemudi. Terra di belakang bersama Rion dan Lidya yang memakai kursi khusus mereka. Sedang dua asisten rumah tangga berada di kursi belakang.
Hanya butuh tujuh menit untuk sampai halaman parkir sekolah. Sudah ada banyak anak-anak. Darren sudah berlari menuju teman-teman satu tim pengibar bendera.
Sebenarnya Terra sedikit heran. Darren baru kelas tiga, tapi sudah diberi tanggung jawab besar. Apa karena tubuh tinggi pria kecil itu? Tapi Terra senang, karena Darren tidak keberatan dengan tugasnya.
Terra meminta ijin pada pihak sekolah untuk mengabadikan putranya yang sedang bertugas. Kepala sekolah mengijinkan dengan senang hati.
Banyak mata yang menatap Terra. Ada yang kagum dan tak banyak ada yang mencibir. Bahkan mata para kaum adam seakan ingin menjelajahi tubuhnya. Jika Haidar ada di sana, sudah pasti akan ada keributan.
Budiman yang mengantar pun jadi sasaran incaran para kaum hawa. Tidak hanya Budiman, tapi seluruh tim bodyguard yang kemarin bersama Terra menjadi bahan gosip dan godaan genit dari para ibu-ibu genit. Bagaimana tidak. Semuanya adalah pria dengan standar ketampanan tinggi dengan tubuh proporsional.
Pemandangan hari ini jadi terpecah. Antara kubu ibu-ibu yang mengagumi paras tim bodyguard. Dan tim bapak-bapak atau pemuda yang mengagumi paras Terra.
Terra tak peduli dengan pandangan orang terhadap dirinya. Hari ini ia akan mengabadikan momen bersejarah baginya.
Upacara dimulai. Semua bersiap. Terra juga bersiap dengan kamera ponselnya. Tiga pria kecil dengan tinggi sama juga tampan. Berjejer rapi. Darren bertugas sebagai pengikat bendera nanti. Seragam putih-putih, Darren mengenakan peci hitam dan kaus tangan. Kaus kaki panjang di bawah lutut. Sepatu conv*** hitam. Benar-benar tampan.
"Pengibaran bendera merah putih!" saut pembawa upacara.
Darren dan dua lainnya meluruskan barisan. Mereka melakukan gerak jalan di tempat. Darren yang memimpin.
"Jalan di tempat grak!"
Terdengar derap langkah.
"Tiga langkah tegak maju, jalan!" titah Darren.
Terdengar langkah di tempat tiga kali dan baru mereka berjalan dengan tegap. Karena jalan agak menyerong. Darren memberi perintah tiga langkah sebelum menyerong.
"Serong kiri, grak!"
Langkah menyerong. Ketika hendak sampai Darren kembali memberi perintah untuk berhenti.
"Berhenti, grak!"
Darren mengambil pengikat bendera. Setelah yakin ikatannya kuat. Darren mulai membentangkan bendera itu.
Sret!
Bendera terbentang sempurna. Tidak terlipat atau terbelit.
"Bendera siap!" teriak Darren.
"Kepada bendera merah putih. Hormat grak!" seru komandan upacara. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Terra menitikkan air mata haru. Semua menghormati pada bendera yang sedang ditarik.
Bahkan para pengawal Terra juga menjadi peserta upacara yang berdiri di belakang barisan anak-anak ikut hormat.
Waktu bergulir. Upacara selesai. Terra mencium putranya terlebih dahulu, kemudian ia berangkat membawa serta dua anak lainnya ikut.
"Darren nanti di jemput sama Om Rudi ya," Darren mengangguk.
Rudi adalah salah satu tim bodyguard. Terra memecah tim menjadi dua. Satu tim untuk putranya Darren. Gadis itu tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya itu.
Setelah itu. Terra pun pergi menuju kampus. Hari ini adalah mata kuliah calon suaminya. Ia harus duduk lebih awal jika tidak ingin dicoret daftar hadirnya.
bersambung.
Darren ganteng banget ih ...