
Mendapati Rion yang menangis seperti kesakitan dan ketakutan, membuat Terra ikut menangis.
Hanya karena melihat wanita memakai make up begitu tebal. Bayi montok itu seperti ini. Budiman sangat kesal terhadap wanita itu. Pria itu bersyukur, kliennya sudah memecat wanita itu.
"Sayang, jangan takut. Ada Mama di sini," ujar Terra menenangkan Rion.
'Kisah apa lagi yang kalian semua alami?' tanya Terra dalam hati miris. 'Bahkan kejadian buruk itu menimpa bayi yang mestinya tak mengerti apa-apa."
Lidya pun ikut memeluk ibunya. Mereka semua kini berada di dalam kamar khusus. Romlah dan Ani hanya memandang majikan mereka dengan wajah sendu.
"Mereka belum mau makan. Mereka nungguin, Non," ucap Ani memberitahu.
Dengan sigap, gadis itu mengambil makanan dan menyuapi mereka. Tidak biasanya mereka makan dengan lahap.
Baru beberapa suap. Mereka enggan membuka mulut mereka. Terra sedih melihatnya.
"Ayo dong sayang. Kasihan makanannya. Di luar sana banyak loh, anak yang nggak bisa makan karena tidak ada uang," rayu Terra.
Mendengar hal itu. Ketiganya pun mau melanjutkan makan. Terra kembali menyuapi mereka. Romlah dan Ani jadi senang.
"Bik, sudah kasih Kak Budi makan?" tanya Terra.
"Sudah saya siapkan di luar, Non. Mungkin sekarang sedang makan," jawab Romlah sambil tersenyum.
Terra menganggukkan kepalanya. Selesai menyuapi anak-anak makan, ia pun kini menyuapi dirinya sendiri.
Selesai makan, anak-anak disuruh tidur siang. Rion sudah terlelap dalam pelukan Terra. Tubuh mungil dan montok itu sudah turun suhu badannya.
"Sayang, cerita apa lagi yang kalian alami sampai Rion seperti ini?" tanyanya pada Darren.
Darren menatap netra Terra. Ada sedikit kekhawatiran di sana, juga ketakutan. Setelah ia berhasil menenangkan diri. Darren bercerita.
"Waktu itu, Rion menangis karena haus. Tante Firsha baru saja menghisap tabung. Darren nggak tau itu apa. Darren mau menyiapkan susu untuk Rion tapi, sudah habis."
"Tante Firsha marah. Ia mengolesi wajahnya dengan riasan sangat tebal. Lalu menakuti Rion."
"Diam, atau aku akan membunuhmu!"
"Begitu, Ma."
Terra menahan nafasnya. Gadis itu menciumi pipi gembul yang memerah karena kebanyakan menangis.
"Sayangku, pantasan takut sama wanita tadi," keluh Terra.
Gadis itu jadi menyesal mengubur secara layak wanita berhati iblis itu. Namun, sejurus kemudian ia pun beristighfar.
"Apa masih banyak kisah lain, Nak?" tanya Terra dengan suara lemah.
Darren mengangguk. Ketika pria kecil itu membuka mulut, tiba-tiba Haidar masuk. Pria itu mendatangi Terra dengan wajah penuh tanda tanya.
"Sayang," panggilnya.
"Assalamualaikum, Mas," ucapan salam Terra membuat Haidar tersenyum kikuk.
"Wa'alaikum salam. Maaf, Mas lupa," sautnya.
"Jangan membiasakan diri, Mas," saut Terra dengan wajah malas.
"Sini, Nak," ajak Haidar menepuk ruang kosong di sebelah adiknya.
Darren pun naik dan tidur di tempat yang ditunjuk Haidar. Dengan tangannya yang panjang, ia memeluk tubu keduanya. Mengecup pucuk kepala mereka.
"Ada apa lagi, kenapa mereka sepertinya habis menangis?" tanya Haidar.
Terra menceritakan semua. Pria itu mendengkus. Mungkin akan ada kisah lain yang lebih menyeramkan dari ini.
Terra menurunkan bayi montoknya ke atas ranjang dan merebahkan diri di sebelahnya. Mendekap bayi itu penuh kehangatan.
Netra Terra dan Haidar saling memandang. Pria itu merengkuh tangan yang memeluk Rion. Mengelus punggung tangan gadis yang dicintainya.
"Sayang, aku ingin merasakan menjadi dirimu sebentar saja. Bagaimana kau menghadapi mereka yang penuh dengan kisah pilu," ujar Haidar.
"Sebentar lagi, Mas. Kau akan tau," ucap Terra.
Dan benar saja. Lirihan kecil keluar dari mulut Lidya. Gadi mungil yang selalu ceria itu menyimpan banyak luka. Haidar sampai meneteskan air mata mendengar igauan Lidya.
"Danan Ma ... hiks ... danan putul Tata ... hiks."
Baik Terra dan Haidar menangis tertahan. Pria itu memeluk tubuh kecil dengan segenap kasih sayang.
Berkali-kali, ia mengusap punggung kecil yang gemetar. Sesaat gadis itu tenang. Tapi, tidak lama, Lidya kembali mengigau.
Haidar sangat sedih. Kini pria itu tahu hari-hari yang dialami kekasihnya itu. Bahkan tiap malamnya.
"Dulu, Darren suka mengunci mereka di kamar, agar Tante Firsha tidak langsung masuk dan memukul salah satu dari mereka. Ayah, tahu kami disiksa, tapi sepertinya ayah tak bisa berbuat banyak," jelas Darren lagi.
"Ayah datang dan kami tidak akan disiksa selama ada Ayah. Kami, bisa tidur nyenyak dan makan enak. Walau Tante Firsha tidak pernah sayang kamu walau Ayah datang. Tapi setidaknya kami, tidak disiksa," lanjutnya.
Terra mengusap kepala Darren sayang. Gadis itu berkaca-kaca, mendengar kisah kelam mereka.
"Maafin Darren dan adik-adik ya, Ma," ucapnya lirih sambil menatap wajah ibunya.
"Kenapa kau minta maaf, sayang?" tanya Terra dengan suara sendu.
"Karena gara-gara kami, Ayah meninggalkan Mama ... huuu ... uuu ... hiks ... hiks."
Terra menutup mulutnya dengan tangan. Haidar langsung mengusap air pria kecil itu.
"Ssshh ... jangan katakan seperti itu, sayang," ujar Haidar.
Terra pun mencium kening putranya penuh kasih sayang. Ia sangat yakin betapa terlukanya Darren yang memiliki rasa bersalah padanya.
Jujur Terra juga ikut terluka. Namun, membandingkan penderitaan ketiga anak ini dengan dirinya. Sepertinya tidak sepadan. Terra masih mendapatkan kasih sayang dari ibunya, bahkan ketika ayahnya datang makin melengkapi kasih sayang itu.
Sedangkan Darren, Lidya dan Rion, mereka meringkuk dalam siksa yang didapati dari ibu kandungnya sendiri.
bersambung.
hufh ... bayangin jadi Darren ... othor nggak kuat.
next?
mohon maaf ya, dari kemarin sudah up kisah sejak Maghrib. entah kenapa belum di review sampai seharian penuh.