
Budiman nyaris mengambil semua pakaiannya. Sedikit menggaruk kepala. Menatap ranjang besar ya g tadi malam nyaris ditidurinya.
"Hmm ... andai tadi malam nggak mimpi buruk dan tiba-tiba pengen liat CCTV ...," ia pun bergidik.
Semalaman ia mengecek CCTV dari ponsel BraveSmart nya. Di mana saja Ratri melakukan hal tak senonoh di rumahnya.
Hanya kamar ini dan kamar mandi saja, yang digunakan gadis berotak miring itu untuk berfantasi mesum. Budiman tak tahu siapa yang di mesumkan gadis itu. Tapi, jika dilihat barang-barang yang dipakai. Budiman langsung tahu jika Ratri berfantasi tentangnya.
"Gue nggak mungkin bongkar semuanya kan?" ujarnya mulai putus asa.
Ia pun terpaksa menyewa tukang kembali. Membongkar kamar menjadi ruang kosong. Ia memindahkan kamar utama di atas. Memanggil seorang designer interior untuk merombak total juga mengganti bathtubnya.
Ia menyuruh siapa pun yang menginginkan ranjang king size-nya. juga semua baju-bajunya. Kecuali **********. Pria itu sudah membakarnya.
"Berapa lama selesai?' tanya Budiman.
"Sekitar satu minggu, Tuan," jawab pria yang pen-design.
"Baik. Saya akan tinggal kalian bekerja. Karena saya ada pekerjaan lainnya. Semua baju ini boleh dibagikan pada pekerja atau terserah. Bahkan ranjang ini kau juga boleh bawa!" titahnya.
"Benarkah Tuan?' tanya salah satu petukang.
"Iya, khusus di kamar ini saja, ya bukan yang lain. Ingat. Semua ruangan sudah saya pasang CCTV secara sembunyi. Jadi kalian tidak bisa seenaknya!" ancam Budi.
Semua mengangguk. Budiman pun pergi menuju carport dan menaiki mobilnya. Dalam sekejap ia pun meninggalkan rumah yang kini dirombak total.
"Setelah ini, gue sewain aja deh rumahnya. Mobil ini, gue jual lagi," gumamnya.
Ia pun sudah berada di sebuah dealer resmi. Mobil itu langsung terjual karena memang banyak peminat. Uang hasil penjualan sudah masuk dalam rekeningnya. Ia pun memesan taksi daring untuk sampai rumah kliennya.
Satu jam perjalanan. Ia sudah sampai di depan gerbang rumah yang ia rindukan. Deno membukakan pintu gerbang. Budiman masuk sambil mengulas senyum. Wajah yang sedari tadi datar dan stress hilang seketika ketika ia disambut oleh senyuman Lidya.
"Om Budi, udah pulan!" pekiknya senang.
Raga dan nyawa pun kembali jadi satu. Di sini, di rumah ini. Ia merasa dirinya dinanti. setetes air membulir di pipi tak sengaja. Lidya melihat itu. Wajahnya langsung ikut sedih.
"Om Budi tenapa meyanis?" tanyanya sendu.
Cepat-cepat ia menghapus jejak air mata. Ia pun menyamakan tinggi tubuhnya dengan nona kecilnya.
"Assalamualaikum, Nona," sapanya.
"Wa'alaitum syalam," balas Lidya lalu memeluk pria itu.
'Seandainya dirimu tak pernah hadir, Nona. Aku pastikan wanita itu hanya tinggal nama saja,' gumamnya dalam hati.
Kebaikan Lidya menular. Pria itu masih memikirkan nasib kedua orang tua gadis itu yang tak bersalah. Makanya ia memutuskan untuk menyewakan saja rumah pribadinya itu.
"Terima kasih, Nona," ungkap Budiman sambil mengurai pelukannya.
"Syama-syama," saut Lidya sambil tersenyum.
"Om Pudi!'
Rion datang digendong Romlah. Terra sedang kuliah, ia dikawal oleh Ridwan dan Hamdan, rekan satu tim. Sedang Dahlan mengawal Darren yang masih sekolah.
Rion langsung minta gendong. Budiman meraih bayi montok itu. Menciuminya dengan gemas hingga terpingkal-pingkal. Lidya pun ingin juga diperlakukan sama. Dengan senang hati Budiman melakukannya.
"Tuan Budi, apa sudah sarapan?" tanya Romlah sopan..
"Belum, Bik," jawab Budiman.
Pria itu sengaja tidak makan di luar. Ia rindu masakan rumah, makanya ia memilih langsung pulang.
"Kalau begitu masuk dulu, Tuan. Nyonya tadi sudah masak dan menyisihkan makanan untuk, Tuan," ujar Romlah memintanya masuk.
Budiman masuk sambil menggendong dua anak di kedua lengan kanan dan kirinya. Kemudian meletakan mereka di ruang bermain. Sedang Romlah langsung memanaskan makanan yang telah disisihkan oleh majikannya tadi, kemudian meletakkannya di meja.
"Tuan, sarapannya sudah saya siapkan," ucap Romlah memberi tahu.
Budiman pun berdiri setelah memastikan kedua balita yang menggemaskan itu bermain.
Menduduki kursi dan menyantapnya setelah berdoa. Setelah habis dan menandaskan minumannya. Ia pun kembali bermain dengan Lidya juga Rion.
'Aku sudah pulang!' ucapnya senang dalam hati.
Ya, Budiman menyatakan rumah Terra adalah rumahnya. Rumah sebuah keluarga yang selalu menyambut kepulangannya.
bersambung.
memang ... pulang itu kembali bersama keluarga yang menunggu. setuju?
next?