
Budiman yang sedang mengintai target dalam ponselnya, memicing tajam. Pria tampan itu mengamati seseorang yang sedang berinteraksi kembali dengan anak pemulung tersebut.
Anak itu sepertinya menolak. Namun, orang itu memberinya dua lembar uang. Mungkin karena butuh uang. Anak itu terpaksa menjalankan apa yang diinginkan oleh orang tersebut.
Setelah menerima barang yang diberikan. Anak itu pun berjalan dengan lesu sambil menenteng karung kosongnya.
Budiman sudah minta ijin untuk pergi menuju kediaman anak itu pada kliennya. Walau tadinya Terra melarang keras karena terlalu beresiko tinggi.
"Jangan Kak. Ini terlalu berbahaya!"
"Nona, saya akan berhati-hati. Lagi pula saya bersama tim. Jadi tidak ada yang terjadi dengan saya," ujar Budiman bersikukuh.
Terra hanya menghela napas panjang. Ia pun akhirnya mengijinkan pengawalnya melakukan pelacakan.
"Pulang dengan selamat ya, Kak," pinta Terra.
Nyes!
Seperti ditetesi embun. Sejuk dan hangat. Budiman merasa berada di antara ribuan bunga. Dulu, tak ada yang memperhatikannya, mau ia hidup atau mati.
Kini. Ada orang lain yang baru ia kenal. Menginginkan ia selamat dan menunggunya pulang.
"Baik, Nona!"
Budiman berada di sebuah perkampungan kumuh. Ia mencurigai sesuatu. Bagaimana bisa orang itu tau tempat tinggal Terra. Sedang tempat tinggal anak itu berjarak empat kilometer dari tempat tinggal kliennya.
Budiman mengecek rekaman jejak seminggu, target yang dicurigainya, sambil mengikuti anak pemulung itu. Pria itu juga menyamar sebagai pemulung.
"Ah ternyata, kau sudah mengamati rumah majikanku selama ini," ujarnya bermonolog.
Pria itu memasukkan ponselnya ke kantung semen yang ia bawa. Pria itu mengambil beberapa botol bekas. Berusaha menyusul bocah tadi bertemu orang yang dicurigai Budi.
Sudah selama lima belas menit anak itu berjalan. Sesekali dirinya mengais tong sampah mencari botol plastik yang terbuang. Setelah mendapatkan barangnya. Anak itu kembali berjalan. Budiman sangat hapal jalan menuju rumah kliennya. Ternyata bocah laki-laki itu memotong jalan lewat rawa-rawa. Jadi jarak dipersingkat sejauh satu kilometer saja.
Anak itu duduk di lantai sebuah toko yang tutup. Pria kecil berbaju kumal itu menatap kertas coklat yang tadi diberikan oleh orang yang menyuruhnya. Kemudian ia melihat uang digenggaman. Hanya sebesar empat puluh ribu saja. Tapi, baginya uang itu sangat berarti.
"Mak, benarkah uang ini halal?" tanyanya dengan air mata menetes.
"Didi dapat uang ini dari orang jahat. Surat ini ingin mengancam kenyamanan seseorang, Mak. " ucapnya parau.
"Tapi, kalo nggak ada uang ini. Nanti Emak nggak bisa beli obat dan orang itu ngancam akan nyakiti, Emak. Didi harus apa, Mak?" ujarnya lagi sambil terisak.
"Didi seperti makan buah simalakama, Mak ... huuuuu ... uuuu!" tangisannya terdengar pilu.
"Ehem ...!' Budiman berdehem.
Bocah laki-laki yang ternyata bernama Didi itu langsung terkejut dan menghentikan tangisannya. Ia buru-buru menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Eh ... Pak!' ucapnya sopan sambil mengangguk kepalanya.
"Dik ... maaf, saya dengar perkataan adik tadi. Maaf, bukan ingin ikut campur juga. Tapi, ada apa. Kenapa kau sedih seperti ini?" ucap Budiman dengan nada prihatin.
Didi hanya menggeleng. Ia takut bercerita. Ia sudah bersumpah untuk tidak mengatakan apapun. Ia takut terjadi sesuatu pada ibunya.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya asal bicara," saut Didi mengelak.
"Jangan bohong, Dik. Itu dosa."
Deg!
Didi takut berbuat dosa. Tapi, ia kembali merenungi perbuatannya selama ini pun sudah dosa. Jadi apa salahnya. pikirnya.
"Jangan menutupi dosa dengan dosa yang lain. Bukankah dosa yang tidak diampuni Allah salah satunya adalah berbohong atau menipu?" ujar Budi lagi mulai menemui titik lemah anak malang itu.
"Tapi, saya sudah bersumpah tidak mengatakan apapun," jawab Didi spontan.
"Jika kau bersumpah untuk keburukan itu berdosa, Nak!" timpal Budiman yakin.
Wajah Didi terangkat. Ia menatap netra pekat di depannya. Anak itu menilai sosok yang menjulang di hadapannya. Ia sangat yakin jika pria ini bukan orang biasa, melainkan seperti polisi yang sedang menyamar.
Otak Didi tercerahkan. Dalam hati ia mengucap basmalah dan berdoa agar ibunya baik-baik saja. Karena tadi ia disuruh bersumpah atas nama ibunya yang sakit.
"Tadi saya bersumpah atas nama Ibu saya yang sedang sakit, Pak," ucapnya dengan tatapan mata berani.
Budiman dapat menilai anak ini akan menjadi orang besar nantinya. Pria ini menyunggingkan senyum.
"Saya menjamin sumpahmu tidak berlaku karena kamu sedang berjihad di jalan kebenaran," saut Budiman tegas tanpa ada keraguan sedikitpun.
Didi sepertinya masih ragu. Budiman duduk di sebelah pria kecil yang tengah bergolak hatinya itu.
"Nak. Langkahmu harus kau mulai dari sekarang. Selamanya menjadi pecundang karena ditindas atau berani melangkah melawan ketidak adilan. Jika nanti ibumu yang harus dikorbankan. Yakin lah, jika pengorbanan ibumu itu tidak sia-sia, beliau pasti bangga padamu, Nak!" saran Budiman panjang lebar.
Didi terkisap dengan penuturan pria di sebelahnya. Tidak ada bau apek yang tercium dari tubuh sosok tegap yang duduk di sisi kirinya itu. Didi makin yakin jika pria ini bukan orang sembarangan.
"Saya disuruh meneror seseorang bernama Budiman yang bekerja di rumah besar di jalan XX, Pak!"
Jawaban Didi membuatnya cukup terkejut. Tidak ia sangka ternyata dirinyalah tujuan peneror itu selama ini.
"Wanita itu mengancam saya ...."
"Tunggu. Kau bilang wanita?" tanya Budiman memotong pembicaraan Didi.
Didi mengangguk membenarkan. Budiman makin bingung. Wanita? Siapa yang ingin menerornya? pikirnya.
"Mba Leana ...."
"Siapa? Leana?" lagi-lagi Budiman terkejut mendengar nama yang baru saja disebutkan Didi.
Pria itu langsung mengepal kan tangannya kuat, hingga memutih. Rahangnya pun mengeras, matanya menukik tajam. Sedangkan di telinganya langsung tersentak ketika Budiman menyebutkan nama itu.
bersambung.
Leana? Siapa tuch Bud?
next?