TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ANOTHER BABY



Sepertiga malam, tiba-tiba Seruni terbangun. Wanita itu merasakan kontraksi. Memang kehamilannya memasuki bulan lahir. Mendengar suara istrinya yang merintih, Dav terbangun.


"Sayang?" tanyanya khawatir.


"Sepertinya, aku akan melahirkan, Kak," ujar sang istri.


"Kalau begitu, ayo bersiap. Sudah berapa menit kontraksimu," tanya pria itu.


"Ini selang lima menit," ujar Seruni kembali meringis.


Dav langsung menyambar bajunya dan celana training. Seruni memakai jilbab instannya. Wanita itu memakai daster panjang. Sang suami mengambil perlengkapan bayi dan istri yang sudah disiapkan. Dav memapah istrinya yang mulai kesakitan.


"Duh ... pinggangku mau patah!" keluh Seruni.


Dav menenangkan istrinya dengan bershalawat. Setelah Seruni masuk. Dav mengunci pintu dan membuka pintu pagar. Ia tak lagi memakai Juno sebagai supirnya. Juno menolak keras kembali setelah berseteru dengan tetangga Seruni. David belum menemukan rumah impiannya. Pria itu masih terus mencari perumahan di sekitar tempat tinggal Terra kakaknya.


Setelah menutup dan mengunci pagar. Pria itu langsung melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu sepuluh menit, ia sampai di rumah sakit.


"Dokter tolong. Istri saya mau melahirkan!" teriak Dav panik.


Para medis pun berdatangan dan membawa brankar. Seruni di rebahkan di sana, ketubannya pun pecah.


"Ah, sudah pecah ketuban!" teriak suster.


Seruni dilarikan ke ruang persalinan. Wanita itu sudah mulai, mengerang. Dokter perempuan dan dua bidan datang menangani persalinan.


"Sudah bukaan sempurna!" seru dokter.


"Tarik napas ya, Bu!" titah dokter lagi.


Sedang Dav berada di luar ruang persalinan. Seruni berteriak. Bidan keluar dan meminta Dav masuk dan menenangkan istrinya.


Pria itu masuk tepat ketika Seruni tengah mengejan. Dav langsung memegang jemari sang istri. Seruni meremas kuat telapak tangan suaminya.


"Tekan terus sayang ... kau pasti bisa!" seru pria itu memberi dukungan dan semangat pada istrinya.


Selama lima belas menit sekuat tenaga, Seruni mengeluarkan janin di dalam perutnya. Ia nyaris kehilangan tenaga. Dav terus memberinya semangat. Hingga terdengar lah tangisan kencang.


"Selamat, Ayah, Bunda. Bayinya laki-laki sehat dan tampan!" seru dokter.


Sepasang suami istri itu mengucap hamdalah. Tangis haru keduanya pun tumpah. Bayi diletakkan di dada Seruni. Bayi itu mencari sumber kehidupannya. Ketika ketemu, dengan kuat ia menghisap dengan kuat.


"Uh ... sayang ... pelan-pelan, Nak," ujar Seruni kaget.


Dav mengucap sejuta terima kasih pada istrinya itu. Ia begitu terharu di usianya yang ke tiga puluh satu tahun itu, ia mendapat keturunan dari wanita yang ia cintai.


"Terima kasih, sayang ... terima kasih."


"Ayah adzani dulu, ya," pinta Seruni.


Dav mengadzani buah hatinya. Suara adzan pria itu menyentuh hati semuanya. Seruni sampai menangis haru. Bayi langsung terlelap setelah kenyang, tampak ia melepas ****** yang tadi dia hisap. Dokter mengangkatnya. Ia meminta Dav membuka kancing baju dan meletakan bayi di dada pria itu.


Dengan penuh haru, Dav mencium bayi tampannya.


"Assalamualaikum, Nak," sapanya.


Bayi itu nampak menggeliat. Setelah itu barulah bayi diangkat dari dada ayahnya.


Satu jam berlalu. Kini ibu dan ayah bayi sedang berada di ruang VVIP. Keduanya tertidur kembali, sedang bayi mereka dalam box yang terletak di dekat ranjang.


"Oeeek ... ooeeek!"


"Kak, bayinya bangun," ujar Seruni lalu menggeliat.


Dav mengurai pelukannya. Pria itu masih memejamkan matanya. Seruni membiarkannya. Melihat jam di dinding sudah pukul 06.00 pagi. Perlahan wanita itu pun beranjak pada box. Masih terasa sakit dan perih. Wanita itu mengangkat bayinya dan duduk di sofa, lalu menyusuinya.


Setelah kenyang, baru ia masukan lagi anaknya di dalam box. Seruni mengecup pipi suaminya.


"Sayang ... sudah shalat subuh?" bisiknya bertanya.


Dav langsung membuka mata. Pria itu kesiangan shalat subuh. Seruni kembali berbaring di ranjang rumah sakit sedangkan suaminya ke kamar mandi untuk berwudhu dan mengejar shalat subuh yang jauh tertinggal.


Usai subuh, pria itu menyambangi boxnya dan mengecup putranya. Rambut bayinya kemerahan, kulitnya juga. Ia tersenyum menatap buah cintanya.


"Papi sudah telepon semuanya jika, bayi kita sudah lahir?" tanya Seruni.


"Belum," jawab pendek pria itu.


"Sayang ...," tegur Seruni.


Dav hanya terkekeh. Pria itu sudah memberitahu semuanya ketika Seruni masuk ruang persalinan.


"Paling sebentar lagi mereka datang," sahut Dav.


Benar saja. Bart muncul dengan heboh. Pria itu kegirangan ketika mengetahui jika Seruni melahirkan.


"Mana cicitku?" tanyanya.


Pria itu pun mendatangi box yang ada dekat ranjang, lalu mengambilnya secara perlahan dan hati-hati.


"Halo sayang," sapanya lalu mencium bayi tampan itu.


Yang paling heboh adalah Rion. Remaja itu sangat senang karena mendapat anak buah lagi.


"Assalamualaikum, Baby ... ba bowu," ujarnya.


Remaja itu terus mengajak bicara bayi yang baru lahir beberapa jam lalu.


"Baby, biarkan Babynya bobo," ujar Terra.


Rion mengerucutkan bibirnya. Remaja tampan itu meletakan bayi itu dalam boxnya. Tak lupa ia membawa buku catatan nama-nama para bayi.


"Namanya siapa Papi?" tanya Rion pada Dav.


"Ali Razka Bartazha Dougher Young," jawab Seruni. "Panggilannya Azha."


David mengangguk. Ia setuju. Rion langsung mencatat nama itu.


"Ini kalo ada door prize, yang dapet beruntung banget," seloroh remaja itu.


Semua terkekeh. Akhirnya waktu besuk sudah selesai, semua pulang ke rumah masing-masing.


Setelah sampai di rumah. Anak-anak yang memang tidak ikut langsung menyambangi dan menanyakan adik mereka.


"Mama, Babynya mirip Papi atau Mami?" tanya Rasya.


"Mirip dua-duanya," jawab Terra.


Haidar tersenyum. Ia juga rindu tangisan bayi di rumahnya. Tapi, melihat anaknya sudah sembilan. Ia pun merasa sudah cukup.


"Sayang," panggil Terra.


"Hmmm," jawab Haidar.


Wanita itu mendekati. Meletakan tangan sang suami ke perutnya.


"Doakan ini jadi ya," bisiknya.


"Sayang?" tanya Haidar tak percaya.


"Inshaallah, sayang ... doakan yang ini jadi," ujar Terra.


Wanita itu memang sudah putus asa untuk memiliki anak lagi. Berkali-kali terlambat datang bulan. Ia sudah memberi alat test kehamilan. Hasilnya dua hari kemudian, ia pun menstruasi. Merasa anak sudah banyak, akhirnya dia pun pasrah.


Hingga kini untuk kesekian kalinya ia terlambat haid, sudah dua minggu. Ia tak mau berharap banyak. Tetapi, ap salahnya jika tetap berharap.


Haidar mengecup perut istrinya. Hal itu diketahui oleh semua anak-anak.


"Mama hamil lagi?" tanya mereka kompak.


"Doakan sayang," pinta wanita itu pada semua anak-anak.


"Aamiin!" Lidya paling keras mengucap. "Mudah-mudahan cewe!"


"Cowo lah!" sahut Rion.


"Ih .. cewe dong ... masa cowok lagi!"


"Yang tim cowok, ke sini!" titah Rion.


Semua anak tentu berdiri di sebelah kakak laki-laki panutan mereka. Hanya Nai yang bingung. Ia juga mau adik perempuan. Tetapi, melihat semua saudaranya ada di pihak kakak laki-laki yang paling ia sayangi. Akhirnya berdiri di sebelah Rion.


Haidar hanya menggeleng dengan kelakuan anak-anaknya. Darren juga ingin adik laki-laki, jadi dia berdiri di sebelah Rion.


"Maaf sayang, Papa juga maunya sih laki-laki," ujar Haidar berdiri di sisi Rion.


Sedang Terra dan Lidya kalah suara. Keduanya hanya cemberut saja.


"Mau laki-laki atau perempuan toh sama saja," sahut Robert menimpali.


Lidya pun mengangguk setuju. Apapun jenis kelamin calon adiknya nanti, ia akan senang bukan main.


"Oh ... kak Robert, kemarin kenapa Kakak nggak bantuin Tuan Vox?" tanya Terra.


"Loh, bukannya disuruh hanya ngawasin saja, ya?" Robert mengulang perintah Terra.


"Iya sih ...," sahut wanita itu lirih.


"Tapi nggak gitu juga kali, Kak!" sungut Terra membela diri.


"Saya hanya menjalankan perintah, Nyonya," sahut Robert tak merasa bersalah.


Dan perdebatan pun dimulai. Semuanya menyingkir jika Terra dan bodyguard nya itu saling berdebat. Tak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya. Budiman datang barulah Robert mengalah untuk mengakhiri perdebatan.


Bersambung.


yah begitu lah.


next?