TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DARREN BUKAN ANAK HARAM



Tangisan pilu Darren makin membuat hati Terra tersayat. Bahkan Lidya yang tertidur ikut terbangun karena tangisan mereka. Kini gadis kecil itu berusaha menenangkan ibu dan kakaknya.


"Mama syama Tata danan nanyis don ... hiks ... hiks."


Lidya tak henti mencium pipi kedua orang yang sangat ia sayangi itu. Terra makin sesengukan mendengar itu.


"Ma ...."


Kini Rion ikut terbangun, bayi itu sepertinya terusik mendengar suara isak tangis ketiganya.


Terra mengurai pelukannya. Menatap ketiga anak yang matanya kini berkaca-kaca. Menciumi wajah mereka satu persatu.


"Dengarkan Mama. Kalian adalah anak-anak Mama. Kalian lahir dalam keadaan suci dan bersih. Tidak ada yang namanya anak haram. Kalian mengerti!" ujar Terra sambil terisak.


"Anak halam itu apa Ma?" kini Lidya bertanya dengan wajah sedihnya.


"Nak yayam?" tukas Rion sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tidak ... tidak ada istilah anak haram. Mama juga tidak tahu siapa yang sering mengatakan itu," ujar Terra menghapus jejak air mata di pipi ketiga anaknya.


"Kalian adalah anak Mama. Mengerti!" Darren mengangguk.


Lidya dan Rion mengikuti apa yang kakak mereka lakukan. Mengangguk. Terra tertawa. Mencium kembali pipi mereka.


"Ayo semuanya, bobo lagi," ajak Terra.


Semuanya ingin memeluk Terra. Gadis itu membiarkan ketiga anaknya mendusel tubuh mereka kepadanya. Secara perlahan akhirnya mereka pun tertidur. Ketika semuanya sudah terlelap. Barulah Terra membenarkan letak tidur mereka.


"Mama janji. Siapa pun yang akan menyakiti kalian. Mereka akan berhadapan dengan Mama. Mama akan melindungi kalian dengan nyawa Mama!" janji Terra penuh keyakinan.


Terra meraba kepala Darren. Pria kecil itu kembali demam. Setiap mengingat kejadian yang pernah menimpanya. Darren pasti demam tinggi.


Terra beranjak dari tempat tidur. Gadis itu pergi ke dapur, mengambil baskom lalu di isinya dengan air dingin yang dicampur es batu. Kemudian ia mengambil lap kering yang masih bersih di laci dapur.


Terra kembali ke kamar dan meletakkan baskom berisi air itu di atas nakas. Dicelupnya lap kering itu ke baskom kemudian diperas secara perlahan.


Dilipatnya bentuk persegi kemudian menaruhnya di kening Darren. Gadis itu mengambil termometer yang ada di laci. Kemudian mengukur suhu tubuh dengan menaruh benda lonjong itu di bibir Darren.


"37,5°."


Cukup panas bagi bocah seusia Darren dengan suhu tubuh seperti itu. Terra terus mengompres Darren.


Sudah satu jam. Suhu tubuh Darren belum turun. Bahkan kini pria kecilnya itu mulai menginggau.


"Mama ... jangan tinggalin Darren, Ma," igaunya dengan suara lirih.


Keringat dingin keluar dari tubuh Darren. Terra mulai menangis. Menciumi wajah putranya.


"Sayang ...."


Jika sudah seperti ini. Terra bingung. Hatinya benar-benar lelah. Sungguh ia ingin menyerah saja. Ia tak sanggup menanggungnya sendirian.


"Mama ... Darren bukan anak haram kan, Ma?"


Terra menggeleng kuat. Gadis itu kembali mencium putranya.


"Sayang. Kamu adalah anak Mama yang paling hebat. Kamu bukan anak haram, sayang."


"Mama ...."


"Sayang ... ini Mama sayang," Terra terus menciumi wajah putranya.


Darren mulai tenang. Keringat dinginnya sudah tidak keluar. Terra mengganti baju Darren yang basah. Mengelap seluruh tubuh pria kecil yang sudah mulai turun suhu tubuhnya.


Setelah mengganti baju Darren. Terra kembali mengukur suhu tubuh kecil itu.


"36,2°."


Hanya helaan napas berat. Besok pagi ia akan ada kuis di kampusnya. Sedang saat ini jam menunjukkan waktu pukul 02.45 dini hari. Matanya sudah berat untuk terpejam. Tapi, suhu tubuh Darren masih tinggi.


Kembali Terra mengompres kepala Darren. Dibelainya dengan sayang surai kemerahan yang tebal itu. Warna rambut Darren sama dengannya. Wajah mendiang ayahnya sama persis dengan Terra dan Darren.


Waktu sudah menunjukkan pukul 03.12. dini hari. Suhu tubuh Darren mulai menurun. Terra bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Di ambilnya air wudhu. Keluar dari kamar mandi. Terra ke sudut ruang kamarnya.


Sajadah tergelar. Terra telah mengenakan mukenah. Sejurus kemudian gadis itu khusyuk dengan ibadah sunnahnya.


bersambung.


berserahlah Te ... hanya pada Allah tempat mu kembali. 😥