TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TERRA DAN AINI



Budiman sudah menceritakan bagaimana Darren terpesona dengan seorang gadis bernama Aini Citra. Seorang dokter genius. Begitu penasarannya hingga ia pun mendatangi perusahaan di mana Darren bekerja. Tentu saja tanpa pemberitahuan siapapun. Ia berangkat setelah semua pekerjaan rapi.


"Bik Ani, Te titip anak-anak ya nanti," pinta Terra pamit.


"Iya, Nya," sahut wanita itu.


Kini ada dua pembantu baru di rumah Terra. Anak-anak sudah besar, pekerjaan pun pasti makin banyak terutama mencuci dan menyetrika. Wati telah lama keluar dari pekerjaan karena ia akan menikah dengan satpam komplek perumahan tempat Terra tinggal.


Terra ingat, ketika Wati meminta ijin untuk menikah, bahkan Setyo juga melamar Wati di hadapan Haidar.


Lima tahun Wati bekerja untuk Terra. Banyak hadiah yang ia berikan untuk pekerja rumahnya.


"Te, berangkat dulu ya Bik. Assalamualaikum!'


"Wa'alaikumussalam!'


Terra berangkat bersama Felix dan Koko. Haidar selalu meminta wanita itu berangkat dengan pengawalan, walau jujur ia merasa tak perlu.


Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke perusahaan Terra.Wanita itu menatap perubahan besar di perusahaan terutama bagian dekorasi resepsionis dan warna yang jauh lebih berani.


Sebagian banyak karyawan baru. Sudah lama juga ia tak menyambangi kantornya. Jadi ia memaklumi jika tak ada yang mengenalnya.


"Maaf permisi, bagian klinik di sini mana, ya?" tanya Terra pada resepsionis.


"Oh, ada papan petunjuk nya di sebelah kiri," jawab resepsionis tanpa mau melihat siapa yang datang.


Gadis itu masih asik mengikir kukunya. Felix ingin sekali mengebrak meja, tetapi langsung ditahan oleh Terra.


"Apa anda bisa sopan sedikit jika melayani tamu yang datang, Nona?" tegur Terra.


Wanita itu menatap malas pada sosok cantik di depannya.


"Anda tidak memiliki kepentingan apa pun dengan atasan saya Tuan Darren kan?" ujarnya sinis.


"Memang, tapi tugas anda sebagai resepsionis harusnya sigap dengan siapa pun yang datang. Bagaimana jika kolega penting yang datang secara mendadak?" tanya Terra lagi kini mulai gusar.


Gadis itu akhirnya berdiri.


"Jika anda tidak memiliki kepentingan lain selain bertanya di mana klinik, lebih baik, anda segera pergi," usir gadis cantik itu.


"Kurang ajar!" bentak Koko murka.


Baru kali ini dia mendapati seorang karyawan sangat kurang ajar. Ia heran, bagaimana bisa seorang yang jauh dari kata kompeten bisa masuk ke perusahaan yang semua pegawainya diseleksi dengan ketat.


Darren mengubah struktur penerimaan pegawai baru. Semua karyawan adalah fresh graduate. Hanya bagian-bagian staf penting yang butuh keahlian lah baru memilih yang berpengalaman, walau tak memungkinkan jika orang tersebut baru lulus pendidikan.


Mendengar bentakan kasar, membuat resepsionis itu makin berani bertingkah.


"Sekuriti!"


Sosok petugas berpakaian khusus datang dengan tampang sangar. Pria itu melotot pada tiga pria yang mengawal Terra.


Resepsionis bernama Anggie itu tak sadar ia berhadapan dengan siapa.


"Kenapa, Neng Anggie?" tanya pria bertubuh gempal itu.


"Usir tiga orang ini!"


"Berani-beraninya kau mengusir wanita ini!"


Sebuah suara keras menggema di seluruh ruangan. Semua yang ada di sana menoleh asal suara. Budiman begitu murka melihat karyawannya tak menghargai tamu yang datang.


"Tu ... Tuan!" sekuriti langsung membungkuk hormat.


Anggie langsung berwajah manis seketika. Ia juga membungkuk hormat.


"Apa kau tau siapa yang kau usir itu Anggie!' bentak Budiman dengan wajah memerah karena marah.


"Sa-saya tidak tau Tuan," cicit wanita itu takut.


"Aku beritahu pada kalian semua. Wanita ini adalah pemilik perusahaan ini, beliau adalah ibu dari atasan kalian Tuan Darren!"


"Aku pastikan kau dipecat, Anggie!' seru Budiman.


Anggie terduduk lemas. Tiba-tiba salah satu resepsionis datang tergopoh-gopoh. Ia baru saja dirawat karena tiba-tiba diare. Ia sudah meminta ijin setengah hari untuk beristirahat. Budiman mengetahui itu.


"Sudah-sudah. Antarkan aku ke klinik," pinta Terra menyudahi semuanya.


Budiman sangat tahu apa maksud kakak iparnya datang ke perusahaan. Darren tengah mengadakan rapat divisi, jadi ia belum tau kejadian ini.


Budiman mengantarkan Terra ke bagian klinik di sana, ada beberapa karyawan yang tengah mendapat perawatan karena kecelakaan kerja dan sakit mendadak.


Aini yang tengah mengobati seorang karyawati yang tengah mengandung dan mengalami kram di perutnya.


"Saya, sarankan untuk Bunda bed rest satu sampai dua hari ke depan ya," saran Aini.


"Ya, Dok," sahut wanita itu sedikit mengernyit sakit.


Terra mendatangi karyawati tersebut.


"Assalamualaikum, bagaimana jika saya nanti meminta supir mengantarkan anda, Nyonya," ujar Terra khawatir.


"Tidak usah, Nyonya. Suami saya akan menjemput saya, nanti," jawab wanita itu.


Terra meminta Budiman mengurus cuti untuk wanita itu. Budiman langsung mengangguk dan melaksanakan perintah Terra.


Aini sudah memberikan surat ijin darinya untuk keperluan data. Terra memandangi wajah cantik berhijab biru. Begitu juga Aini.


"Hai, saya Terra ibu dari Darren," ujar wanita itu memperkenalkan diri.


"Saya, Aini Citra, saya bekerja sebagai tenaga kesehatan di sini Nyonya," sahut Aini juga memperkenalkan dirinya.


Terra langsung merasa nyaman dengan gadis itu. Aini begitu sopan dan rendah hati juga bertutur kata lembut. Terlebih, Budiman telah memaparkan biodata gadis itu.


"Katakan, kenapa kau meninggalkan kampung halaman, bukankah sebagian keluarga ayah dan ibumu ada di sana?" tanya Terra penasaran.


Gadis itu baru saja menceritakan asal usulnya. Entah kenapa, ia begitu gamblang mengungkap jati dirinya pada wanita yang baru ia kenali.


"Memang, tetapi untuk apa saya di sana jika hanya menjadi sapi perah mereka?'' tanya Aini dengan mata menerawang.


"Mereka mengambil harta ayah dan ibu saya, menitipkan saya di panti asuhan. Tiba-tiba ketika saya menjadi dokter, mereka mengklaim telah menghabiskan banyak uang untuk saya?" lanjutnya lagi.


"Ah, maaf, Nyonya, saya jadi curhat," tiba-tiba ia sadar jika baru saja mengeluh di depan wanita yang baru ia kenal.


"Tidak apa-apa, aku senang kau mau terbuka denganku. Itu tandanya kau percaya padaku," jelas Terra tak mempermasalahkan.


Aini hanya tersenyum kecut. Netranya berkaca-kaca. Terra mengusap genangan itu.


Aini berjuang sendirian semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia. Bahkan hartanya diambil alih oleh orang-orang yang mestinya melindunginya. Tetapi mereka malah mencampakkan gadis malang itu.


Aini bercerita bagaimana ia berjuang untuk menjadi dokter di usia muda. Mengandalkan beasiswa, ia juga bekerja dengan membuka jasa laundry kiloan.


"Saya mencuci dengan modal tangan hingga memiliki mesin cuci dua dan memiliki dua karyawan," jelasnya malu-malu.


"Tetapi, Paman Dono mengetahui saya memiliki usaha, datang setiap hari meminta bagian. Padahal ia tak menanam modal apa pun di sana," jelasnya kemudian.


Terra mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan orang-orang yang mengambil untung dari harta anak yatim piatu seperti Aini.


"Saya bertahan hingga koas saya selesai dan langsung melamar pekerjaan di kota ini. Saya menjual semua aset laundry untuk keberangkatan saya tanpa memberitahu paman saya itu," jelasnya lagi.


"Maaf, apa itu paman dari mendiang ayahmu?" tanya Terra.


"Bukan, beliau adalah sepupu almarhumah ibuku," jawab Aini miris.


Makin marahlah Terra mendengar hal itu. Orang yang tak memiliki hak sama sekali mengambil keuntungan dari seorang gadis polos seperti Aini.


bersambung.


next?