
Hari ini Seruni pulang dari rumah sakit sakit. Sepasang suami istri itu memilih untuk pulang ke mansion Virgou di banding ke rumahnya sendiri. David benar-benar sudah tak betah di lingkungan itu. Gara-gara tetangganya yang racun itu, Juno sampai menolak menjadi supir pribadinya.
Pengawal Terra itu nyaris membakar rumah wanita bernama Adidah, jika Seruni tidak menahannya.
"Kak Juno jauh lebih gila dibanding Bu Didah!" seru wanita itu.
"Saya kesal, Nyonya. Saya difitnah ingin berselingkuh dengan anda!" runtuknya kesal.
David jadi ikutan marah. Rumah tangganya benar-benar bisa hancur jika terlalu lama tinggal di situ.
"Kak, ada rumah yang lain dari kemarin nggak?" tanya Dav ketika di dalam mobil Virgou.
Pria dengan sejuta pesona itu yang menjemput adik sepupu bersama istrinya itu. David memintanya. Virgou sudah tahu masalah tentang Juno yang nyaris membakar tetangga super spesial itu.
"Kenapa kau tak tinggal di rumah Grandpa? Beliau sendirian," jawab Virgou.
"Nanti, kalo Daddy datang?" tanya Dav.
"Mereka kalo ke sini kan lama, kasihan, jika mesti menginap di hotel," jawab David lagi.
'Kata Terra ada rumah tak jauh dari tempatnya tinggal, tetangganya Budiman menjual rumahnya," sahut Virgou.
"Nanti kita bicara lagi ya," lanjutnya.
David mengangguk. Pria itu serba salah tinggal di tempat istrinya. Tak banya tetangga yang risih dengan kelakuan bu Adidah itu. Dav pernah mengeluhkan itu pada ketua RT setempat. Bukan perempuan itu yang dinasihati, melainkan Dav yang disuruh banyak menyetok sabar.
Kalah suara, membuat Adidah di atas angin. Wanita itu makin lama makin pedas mulutnya. Entah bagaimana cara Dav membungkam mulut sampah Adidah.
"Apa, Baby Azha tidur?" tanya Virgou ketika melihat kaca spion tengah mobil.
"Iya, Kak, baby Azha, tidur," jawab Seruni dengan senyum.
Virgou tersenyum. Seorang ibu pasti akan lebih memperhatikan bayinya. Dulu, istrinya juga begitu ketika pertama kali melahirkan bayi kembar mereka.
"Nggak nyangka ya, yang di perut sudah berbentuk seperti itu. Nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan?!" sahut Virgou.
Seruni dan Dav mengangguk. Memang jika dipikir. Terbentuknya bayi dalam rahim sangat diluar jangkauan. Walau kini semua ilmu kedokteran telah menjelaskan rincian perkembangan janin. Tetapi, jika dipikir lagi. Bagaimana Allah bisa mengatur semua sel-sel begitu sempurna tercipta tanpa ada yang meleset. Walau terjadi perkembangan tak sempurna, dan itu ada penjelasan ilmiahnya.
Setengah jam berlalu. Mobil yang menjemput personil baru Dougher Young telah sampai. Semua orang telah berkumpul. Anak-anak menyambut dengan melompat-lompat kegirangan, bahkan Rion langsung mengambil alih bayi itu dan membawanya masuk.
Sky, Benua, Domesh dan Bomesh paling antusias dengan kehadiran adik mereka.
"Daddy, Payina bucu setali!" sahut Bomesh gemas.
"Mami, payi mananan spasa?" tanya Sky.
"Baby Azha!" jawab Seruni lalu mengigit gemas pipi gembul Sky.
"Mami .. atit!" pekik Sky.
"Oh, maaf baby, Mami kira pipimu adalah bakso, jadi karena Mamo lapar, digigit deh," kelakar Seruni gemas.
"Mami .. baneh!" sahut Benua sambil menggeleng kepala.
Karena sering berinteraksi dengan pada bayi yang selalu hadir setiap tahunnya, jadi Seruni sudah paham bahasa planet mereka.
"Kenapa bilang Mami aneh?" tanya Terra sedikit tak suka.
"Biya, paneh ... tan ipu pipi Sty tipilan patso!" sahut bayi itu.
Semua terkekeh mendengar argumen bayi berusia dua tahun delapan bulan itu.
"Iya Mami, itu kan pipi bukan bakso!" sahut Arsya membenarkan argumen Benua.
"Iya, Mami minta maaf deh," sahut Seruni mengalah.
"Ata' Ion ... pita ote-ote don!" pinta Bomesh.
"Oteh baby!" sahut Rion.
Semua anak pun meninggalkan bayi yang kini terlelap dalam gendongan Khasya. Lidya yang di sampingnya begitu gemas dengan bayi yang baru lahir.
Darren pun mulai membayangkan jika dirinya memiliki anak dari wanita yang ia cintai.
"Apa dokter Aini mau ya, jadi istriku?" gumamnya lirih.
"Apa Kak?" tanya Satrio.
"Nggak apa-apa," jawab Darren cepat.
'Nggak bisa ngomong pelan kalo masalah ini. Harus dalam hati aja,' ujar Darren bermonolog dalam hati.
"Mama, Kak Darren pengen punya bayi!" adu Satrio.
Darren terkejut bukan main. Ia sangat yakin jika dirinya mengucap hal itu sangat pelan. Semua kini menatap pemuda itu.
Terra mengira Darren menginginkan adik lagi dari dirinya. Wanita itu nyaris lupa memeriksa kembali.
"Te belum periksa," rengek wanita itu manja.
"Kalo Iya periksa mau nggak. Kan walau beda jurusan, Iya sedikit tahu loh," tawar Lidya.
"Bo-boleh," jawab Terra mengangguk.
Wanita itu masih takut, jika itu hanya terlambat biasa. Setelah kelahiran duo R, Terra selalu bermasalah dengan siklusnya. Kini usia duo R sudah enam tahun setengah. Mereka sudah kelas satu sekolah dasar.
Lidya membawa ibunya ke kamar tamu, Haidar mengikuti mereka. Sedang yang lain hanya menunggu dan mendengar anak-anak bernyanyi.
Lidya meraba perut ibunya. Keningnya sedikit mengernyit. Ada sedikit pemijatan di sisi perut Terra.
Kemudian Lidya tersenyum lebar. Kini posisi janin itu teraba. Gadis itu sangat yakin, jika ibunya benar-benar tengah mengandung.
"Mama beneran hamil loh!" sahutnya dengan senyum lebar.
Terra membola mata. Haidar mengucap hamdalah. Perut Terra yang tadi rata, tiba-tiba sudah sedikit berbentuk.
"Iya yakin, janinnya lebih dari satu!" ujarnya lagi memberi tahu.
Terra shock. Haidar senang bukan main.
"Kita ke dokter sekarang ya," ajak pria itu.
"Iya, Mama harus ke rumah sakit buat periksa apa dugaan Iya benar," sahut Lidya lagi senang.
"Lalu acaranya?" tanya Terra tak enak.
"Mereka pasti mengerti, kan ada Dokter yang akan menjelaskan nantinya," sahut Haidar sambil mengusap dan menjawil hidung Lidya.
Terra tersenyum. Ia pun mengangguk. Lidya langsung melakukan panggilan pada Putri. Sahabatnya itu kini sedang berdinas.
"Put, daftarin nyokap gue ke klinik kandungan dan kehamilan, dong," pintanya setelah mengucap salam.
".....!"
"Oke, makasih ya!" sahut Lidya lalu menutup telepon setelah mengucap salam.
"Tuh, udah didaftarin Putri. Jadi Mama ke sana langsung masuk ke klinik," terang Lidya.
"Terima kasih sayang," ujar Haidar mengecup pucuk kepala putrinya.
Ketiga orang itu pun keluar kamar. Haidar pamit ingin membawa istrinya ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
"Mama diyakinkan hamil!" sahut Lidya memberi tahu. "Kemungkinan janinnya ada dua!"
Semua mengucap hamdalah.
"Hati-hati, ya," ujar Khasya.
Setelah kepergian Terra dan Haidar. Anak-anak kembali bernyanyi. Darren sedikit lega, karena ia tak jadi tertuduh karena ucapannya ingin seorang bayi.
"Selamet ... selamet," ujarnya lagi sambil mengelus dada.
"Kean yakin, sebenarnya tadi Kak Darren maksud bukan bayi dari Mama, kan?" celetuk Kean, Cal yang selalu ada di sebelah saudara kembarnya mengangguk membenarkan.
Darren mulai salah tingkah. Jika ia mengelak maka makin gencar adik-adiknya ini akan mencecarnya.
"Daddy sebenarnya ...."
"Kakak akan belikan PS terbaru untuk kalian!" sahut pemuda itu memotong perkataan Kean.
"Bener?" sahut keduanya.
"Darren!" tegur Virgou.
Pria itu melarang keras mainan itu. Bukan ia tak mampu beli. Dulu, Kean pernah menabung uang jajannya dan membeli benda itu. Tetapi, baru sehari dimainkan Virgou sudah melempar benda seharga 14juta rupiah itu.
"Mereka nggak akan belajar nantinya, adik-adiknya ikut!" larang pria itu.
"Kak Darren tadi itu ...."
"Aku belikan kalian mobil mini Cooper satu orang satu!" teriak Darren.
"Buat apa!" bentak Herman, Budiman dan Virgou bersamaan.
"Daddy, Ayah, Baba!" keluh pemuda itu.
Dan semuanya kini meledek Darren, karena Kean akhirnya memberitahu tentang masalah bayi tadi.
bersambung ...
Pan pabal ya, Blo Dallen.
next?