TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN GIO



Hari yang ditunggu datang. Dua insan kini dengan debaran di dada. Aini kini meremas jemarinya. Ia ditemani Safitri dan Lidya. Gadis itu tak berhenti menitikkan air matanya. Gio sudah siap di depan penghulu. Petugas pencatat itu bersedia menjadi wali nikah gadis itu. Sedang dua adiknya belum cukup umur terlebih keduanya dari pihak ibu. Ditya dan Radit duduk tenang bersama yang lainnya. Gio tampak sedikit gemetar. Ia tak mengira setegang ini. Haidar menenangkan pengawal istrinya itu. Gio telah bersama mereka ketika usia Rion lima tahun. Waktu itu usia pria itu baru delapan belas tahun. Nyaris semua pengawal yang bekerja dengan Terra sama dengan Budiman. Bedanya, pria itu beruntung kedua orang tuanya kembali. Sedang Gio sampai saat ini, ia tak tahu di mana dua orang tuanya itu.


"Tenanglah, Nak!" ujar Bart ikut menenangkan pria itu.


Semua pengawal Terra sudah berada di sana ikut memeriahkan acara. Gedung telah disiapkan dengan segala pernak-perniknya. Pesta cukup meriah. Aini mengundang beberapa teman sekerjanya.


"Siapa yang jadi saksi pria dan wanita?" tanya penghulu.


"Saya!" sahut Darren dan Budiman.


Demian juga hadir bersama Jac dan istrinya. Sedang Dominic telah pulang ke negaranya. Pria itu patah hati karena sang wanita menolak cintanya. Guru itu beralasan masih mencintai mendiang suaminya dan ingin bersama suaminya di surga kelak. Wanita itu tak berniat untuk menikah lagi.


Demian mencari keberadaan gadisnya. Rion yang ada di sebelahnya berbisik.


"Kakak ada di kamar pengantin."


Remaja itu tak lepas dari sisi pria tampan yang sebentar lagi menjadi kakak iparnya itu.


"Sini duduk. Jangan malu-malu!" seloroh penghulu.


Gio mengusap keringat di dahinya. Penghulu malah menggodanya.


"Belum malam pertama kok udah keringetan!"


Seluruh tamu jadi terkekeh mendengar selorohan itu. Gio duduk di depan penghulu yang akan menjadi wali nikah Aini.


"Ada yang keberatan dengan pernikahan ini?" tanya penghulu.


Semua diam. Bahkan Bomesh, Domesh, Sky dan Benua yang biasa berbuat ulah. Mereka tampak hening duduk di antara kakak-kakaknya. Rumah kecil itu tampak penuh sesak dengan orang dan anak-anak.


"Mari jabat tangan saya!" titah penghulu.


Gio mengeratkan genggamannya.


"Dingin," seloroh penghulu lagi.


Semua tersenyum. Gio menenangkan deguban jantungnya yang menggila. Pria itu berkali-kali mengucap istighfar dan basmalah.


"Sudah siap?"


"Insyaallah saya siap!"


"Baik. Ananda Gio Prakoso saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan ananda Aini Citra Binti Susilo almarhum dengan mas kawin uang sebesar dua juta dua ratus dua puluh dua ribu rupiah dan cincin emas sepuluh gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawin Aini Citra Binti Susilo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Satu kalimat dengan satu tarikan napas berhasil Gio ucapkan.


"Bagaimana para saksi, Sah?"


"Sah!" sahut Darren dan Budiman bersamaan.


"Alhamdulillah ..."


Semua pun mengucap syukur. Di kamar, Aini mulai bisa menenangkan diri. Para perias harus berkali-kali memoles wajah cantik gadis itu.


"Jangan nangis terus sih. Cape tau ngeriasnya!" gerutu perias mengeluh.


"Wah, mau dapat review jelek ya, Mba!" ancam Safitri galak.


Perias kampung itu menelan saliva kasar. Padahal, Terra sudah menyiapkan perias sekelas MUA. Tapi, Aini menolak keras. Ia sudah cukup banyak menyusahkan wanita itu.


"Assalamualaikum!" sahut seseorang dari balik pintu.


Lidya membuka, wajah ibunya tersenyum. Lalu meminta pengantin wanita keluar kamar.


"Alhamdulillah, kau sudah menjadi seorang istri dari Gio, sayang," ujar Terra haru.


Aini tersenyum dan kembali menitikkan air mata.


"Huuuh ... nangis lagi ... nangis lagi. Kek, awet aja perkawinannya entar!"


Doa buruk terlontar dari bibir perias yang juga wanita. Safitri geram bukan main. Ia sudah ingin meninju wajah jutek perias itu dari tadi.


"Bu!" peringat Lidya.


"Sayang," panggil Terra.


"Nih, uang bayarannya plus bonus. Silahkan pergi deh!" usir Terra.


Wanita itu mengambil begitu saja uang itu dan pergi setelah memasukkan semua alat riasnya.


"Sudah, ayo keluar. Temui suamimu," ajak Terra lagi.


Aini datang. Gio menatapnya dengan penuh kekaguman. Sedang Darren menatap Safitri dengan pandangan penuh arti. Ia hanya berpikir jika ini adalah pernikahannya dengan gadis bongsor itu.


"Cantik kan istrinya, Pak?" seloroh penghulu lagi.


"Cantik ... sangat cantik," jawab Gio dengan pandangan pemujaan..


"Ayo, cium tangan suaminya," titah penghulu lagi.


Aini mencium punggung tangan suaminya. Sedang Gio mengecup lembut kening istrinya. Pria itu menyematkan cincin di jari manis sang istri. Kini ia sudah punya tanggung jawab penuh pada gadis itu dan dua adiknya.


Usai tanda tangan buku nikah. Mereka berfoto-foto untuk mengabadikan momen itu. Semua kegiatan memang tak lepas dari bidikan Virgou dan Herman. Kedua pria itu juga tak kalah sibuknya.


"Serasa gagalnya Darren kemarin terbayar sudah, ya!" celetuk pria beriris biru itu.


"Ya, Alhamdulillah. Pernikahan kembali terjadi. nanti tiga bulan lagi anak perempuan kita akan menikah," sahut Herman.


Virgou terdiam. Ia menatap gadis bertubuh mungil itu yang kini bersandar di bahu Terra dan terkadang di bahu Safitri. Rion masih betah bermanja dengan Demian.


"Aku yakin, Demian bisa membahagiakan Lidya jauh lebih bahagia dari pada kita," ucap Virgou yakin.


Herman mengangguk setuju. Acara akad nikah selesai. Para tamu kini mulai beranjak ke sebuah gedung. Jaraknya lima kilometer dari rumah Aini. Gio selalu menggenggam tangan istrinya.


Pesta meriah di mulai hanya dua hingga tiga jam ke depan. Banyak tamu undangan hadir selain para pengawal dan ketua SavedLive yang adalah Virgou sendiri.


Para kolega Haidar juga ikut diundang. Rekan kerja Aini juga mulai berdatangan. Putri lebih dulu memberi selamat pada gadis baik itu.


"Selamat ya Bu Dokter!"


"Terima kasih!"


Putri memberikan pelukan sedang Jac memberi pelukan pada suami gadis itu. Sedang pada Aini hanya menakupkan dua tangannya di dada. Di susul Lidya dan Demian, hal sama dilakukan keduanya. Lalu Saf dan anak-anak yang beriringan mengikuti bidan cantik itu.


"Anak-anaknya banyak sekali, Bu," seloroh Gio.


"Iya, tau nih Ayahnya ke mana!" sahut Saf ikut bercanda.


"Ibu, itu ayah sama cewe ngobrol!" adu Kean menunjuk Darren tengah berbincang dengan seorang gadis cantik.


"Wah ... kita harus memperingati ayahmu! Sudah punya anak banyak, masih saja lirik-lirik cewe lain!" seru Safitri.


Terra yang duduk menjadi pendamping pria hanya bisa geleng-geleng saja. Sedang Haidar tampak menikmati pesta.


Safitri mendatangi Darren bersama kesebelasan. Gadis itu menepuk bahu pria itu pura-pura marah.


"Begini ya. Apa kau tidak lihat anakmu sudah bereret seperti tikus!"


Darren terkejut. Ia memang tengah berbicara pada salah satu rekan bisnisnya. Seorang wanita cantik. Kebetulan wanita itu datang bersama pria yang adalah rekan bisnis Haidar.


"Jadi kau sudah punya anak banyak?" tanya wanita itu tak percaya.


"Iya, anaknya ada ...."


Safitri menghitung anak-anak yang berdiri di belakangnya. Darren terkekeh melihatnya.


"Tapi, kenapa wajahnya lain semua?" tanya wanita itu.


"Lain dari mana? Semua mirip ayahnya!" tekan gadis bongsor itu.


"Sayang, hentikan!" pinta Darren.


Pria itu mendekati sang gadis lalu berbisik.


"Sebelum aku kehilangan kendali dan menciummu di sini."


Safitri terdiam. Ia menatap pria itu. Tapi, melihat kesungguhan Darren dalam ancamannya. Gadis itu pun berpikir ulang untuk melanjutkan dramanya.


"Ibu ... kok diam. Ayo hukum ayah!" sahut Rasya.


"Iya ... hukum Ayah!" tekan Dewa dan Satrio mendukung.


"Hukuman untuk ayah apa?" tanya Darren ingin tahu.


"Cium Ayah, Ibu!" sahut semuanya kompak.


bersambung.


nah loh ... kan cari perkara sih Saf, hehehe...


next?