
David berhasil menuntaskan game perekrutan karyawan milik Terra, kakak sepupunya di level delapan. Ketika hendak naik ke level sembilan pria itu terlalu ceroboh mengerahkan semua senjatanya. Baru tiga langkah pada game sembilan akun miliknya mati diserang virus asap.
"Game ini benar-benar menguji mental. Tau gitu dari awal satu persatu aku keluarkan senjata ku," keluhnya sedikit kesal.
"Kak!" panggilnya pada Terra.
David merebahkan tubuh menyender pada Haidar. Pria itu sampai kesal dibuat oleh Dav yang usilnya nggak ketulungan ini. Bisa dibilang Dav adalah Rion versi dewasa.
"Jangan nyender! kau pikir badanmu sekecil Dewa apa!" sentak Haidar menggeser tubuhnya.
"Ah, kukira kau kuat, ternyata kau lemah!" sindir Dav.
"Hei kau pikir dirimu kuat. Biar kesembilan anakku bersender di tubuhmu, baru kau tahu!" sengit Haidar.
"Kak, suamimu cerewet sekali!" lagi-lagi Dav menyindir.
"Kutendang kau sampai Eropa sana!' sentak Haidar kesal.
"Sudah cerewet, dia jahat lagi. Masa katanya aku mau ditendang hingga Eropa!" adu pria tampan itu.
"Hais!" Haidar langsung mengacak rambut David dengan gemas hingga dia tertawa.
"Papa ipu Om Pev bi papapin?" tanya Dewa dengan mimik lucu.
"Siapa yang mau kelitikin Om Dav?" tanya Haidar.
Dav langsung membenahi duduknya hendak melarikan diri. Sayang, Haidar menjegal langkahnya dengan menarik tangan pria itu.
"Selan Om Pev!" seru Rasyid semangat.
"Hiyaaa!"
Semua anak menyerbu Dav. Pria itu langsung kalah telak. Haidar tertawa senang melihat penderitaan adik iparnya itu.
Terra, Khasya dan Puspita hanya bisa geleng kepala. Virgou belum datang, is masih ada rapat di kantornya. Sedang Herman dalam perjalanan ke rumah di mana Bart tinggal.
Setelah kejutan kakek dari kemenakannya itu gagal dua hari lalu. Mereka kini selalu menyambangi Bart karena cucu dan cicit inginnya pulang ke sana setelah sekolah.
Maisya, Affhan dan Dimas datang lebih dulu. Mereka langsung mencari kakek mereka.
"Grandpa!"
Bart yang sedang duduk mengawasi cicitnya bermain langsung tersenyum.
Sedangkan di tempat lain nampak Virgou sedang mengurut pelipisnya membaca laporan yang menurutnya tidak begitu menyenangkan. Lagi-lagi ada beberapa hacker mencoba merusak datanya. Walau semua gagal, tetapi itu cukup meresahkannya.
"Tuan," sebuah suara lembut memanggilnya.
Virgou mendongak. Senyum manis terpatri di bibir merah merekah. Virgou makin pusing melihatnya.
"Tuan sepertinya tidak sehat. Apa perlu saya pijat?' tawarnya.
Virgou Black Dougher Young, seorang pria dengan ketampanan luar biasa. Siapa yang tidak akan tertarik dengannya, termasuk Zelia Dwiyanti, wanita berusia dua puluh lima tahun.
Zelia sudah bekerja cukup lama di perusahaan Virgou. Selama ini Pablo atau Fabio yang akan melayani atasannya untuk mengurus berbagai data. Sekarang dua orang asisten pribadinya itu tengah berada di dua proyek yang berbeda. Maka, Zelia merasa sudah saatnya ia masuk untuk sekedar meringankan beban atasannya itu.
Tak ada jawaban. Virgou seperti tak mendengar perkataan Zelia. Gadis itu mendekati pria dengan sejuta pesona itu. Menjulur tangannya hendak menyentuh kepala atasannya.
"Sekali kau menyentuhku, akan kupatahkan tanganmu!" sentak Virgou tajam.
Zelia langsung memundurkan uluran tangannya. Ia pun memundurkan tubuhnya. Lalu membungkuk hormat dan meninggalkan tempat itu.
Virgou membuka matanya. tangannya terkepal kuat. Andai saja, jika ia tak butuh sekretaris, maka ia akan menendang wanita itu sekarang juga.
"Apa aku harus seperti Terra ya. Menjadikan Fabio sekretaris dan menendang wanita penggoda itu?" gumamnya bertanya sendiri.
Tiba-tiba. Gubrak! Terdengar bunyi orang terjatuh. Virgou pun langsung keluar ruangan. ia melihat Zelia jatuh dadi kursinya dalam keadaan terjengkang hingga kelihatan **********. Paha putihnya tersingkap kemana-mana.
Dwi adalah karyawati OB. Melihat ada orang jatuh. Ia langsung menolongnya. Zelia mengaduh kesakitan Sungguh hatinya kesal bukan main. Sengaja bermain kursi hingga jatuh. Bermaksud agar Virgou menolongnya. Ia sudah menyiapkan kamera agar terlihat jika atasannya itu hendak melakukan hal senonoh dengannya.
"Periksa kursinya, jika memang rusak. Ganti!" titah pria itu dengan suar kelam.
Virgou mulai tak enak perasaan. Ia yakin sesuatu hal buruk akan terjadi jika ia terus berada di kantor ini. Sedikit menyesal mengerahkan dua asisten pribadinya untuk mengecek proyek karena ia sedikit malas keluar.
"Tahu gini gue yang keluar proyek, biar Fabio atau Pablo yang hadapin Zelia," gumamnya bermonolog.
Pria itu pun mengambil kunci mobilnya. Lalu mengirim pesan pada dua pria asisten itu, agar mengirim laporan melalui email.
"Tuan mau kemana?" tanya Zelia dengan raut kesakitan.
"Bukan urusanmu!' sahut Virgou pedas.
"Tuan, saya sakit karena jatuh, tolong dong perhatiannya," pinta Zelia memelas.
Virgou berhenti. Zelia tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi kau sedang sakit?" tanya Virgou dengan lembut.
Pria itu pun membalikkan tubuhnya dan menatap wanita yang kini tengah menantangnya dengan gaya sensual. Virgou makin pusing. Di benaknya wajah Puspita menghiasi.
Wanita yang melahirkan lima anaknya secara normal. Bentuk tubuhnya terlihat lebih padat. Tentu saja, itu semua ulahnya yang meremas semua bagian tubuh istrinya.
"Iya Tuan, saya sakit. Bokong saya perih, pinggul saya juga seperti mau patah," jelas Zelia dengan rengekan manja.
"Oh ... kasihan sekali," sahut Virgou dengan raut iba.
"Zelia," panggil Virgou lembut.
"Tuan," jawabnya dengan suara mendayu-dayu.
"Kau kupecat!" ujar Virgou dari tersenyum manis tiba-tiba berubah menyeringai seram.
Zelia tak percaya ucapan tuannya. Ia masih menggoda dengan bibir terbuka, bahkan dengan berani ia membuka kancing kemejanya. Mata Virgou mengelam.
"Tuaan .. ssshhh ... aahh!" racau Zelia menggoda Virgou. "Sentuh aku Tuan ...!''
Gerakan sensual Zelia membuat Virgou makin pusing kepala, ia malah merindukan Puspita yang menarik erotis di depannya belakang ini.
"Tuaaan!" panggil Zelia makin melirihkan suaranya.
"Tolong ada wanita kesurupan!" teriaknya ketakutan karena tingkah Zelia makin gila.
Orang-orang pun berdatangan. Zelia tersentak karena teriakan atasannya. Wajahnya merah karena malu. Fabio datang setelah mengecek proyek. Ia sedikit heran dengan orang-orang yang berkerumun.
"Tuan!" panggilnya.
"Fabio, pecat wanita itu. Aku ngeri melihatnya!" titah Virgou langsung.
"Baik Tuan!" sahut Fabio tegas.
Zelia terbengong. Virgou langsung melarikan diri. Ia ingin langsung pulang dan membawa lari istrinya ke kamar.
"Zelia, kau dengar perintah Tuan?"
Zelia pun menangisi kebodohannya. Ia pun menyusun semua berkas dan meninggalkan kantor dalam kepala tertunduk.
bersambung.
waah Zelia ... baru beraksi kok langsung dipecat.
next?