
"Kamu yang namanya Aini?" tanya seorang berkumis tebal melintang dan berperut buncit.
"Ya saya!" jawab Aini.
Pria itu menyeringai penuh napsu. Ia menatap gadis cantik dengan balutan hijab. Tak lama, motor ninja milik Putri datang berikut mobil Safitri yang membawa dua adik Aini, lalu mobil Lidya.
"Om, turun bantu Kak Aini!" titah Lidya lalu turun cepat.
Hendra menahan nonanya. Paling utama adalah keselamatan Nona mudanya. Tentu saja keahlian Lidya dalam melumpuhkan orang tidak ada yang bisa menahannya. Hendra dan Felix langsung kesemutan ketika mencoba menahan laju nonanya.
Safitri langsung turun, menarik Aini dan menyuruhnya menjaga adiknya.
"Ada apa?" tanya gadis itu gusar.
Delapan orang maju. Motor Aini mereka jatuhkan. Saf sedikit mundur dan merentangkan tangannya melindungi, Aini dan Putri. Ketika Lidya ada di sisinya. Saf juga merentangkan tangan meminta gadis itu berdiri di belakangnya.
"Saya ke sini mau menagih hutang pamannya!" bentak pria berkumis itu.
Gio dan lainnya maju. Tangan Felix dan Hendra masih kesemutan gara-gara ditotok Lidya.
"Berapa hutangnya?" tanya Gio, kini pria itu berdiri di depan Saf bersama Felix dan Hendra.
Delapan orang centeng Burhan hanya menatap remeh tiga pria di depannya. Tubuh, Gio memang sedikit kurus, karena ia baru saja pulih dari sakit, tetapi Hendra dan Felix bertubuh tegap.
"Ck ... nggak usah ikut campur urusan orang" sahut Burhan sinis.
"Hutang Dono sudah jatuh tempo. Tadinya lima puluh juta dengan bunga lima puluh persen jadi sekarang tujuh puluh lima juta," jelas Burhan sinis.
"Aku bayar," sahut Gio enteng.
"Aku kau tunai!' pinta Burhan juga tak kalah santai.
"Baik!" sahut Gio juga enteng.
"Dalam waktu lima menit!" ujar Burhan licik.
"Jika tidak maka bunganya akan naik sepuluh kali lipat!" lanjutnya mengancam.
Delapan centeng Burhan tertawa. Gio mengepal tangannya. Ia menelepon seseorang.
"Ketua, siapkan dana seratus juta dalam lima menit dari sekarang!" ujar Gio lalu menutup ponselnya.
Tak sampai lima menit, seluruh kawasan itu kini penuh pria berpakaian hitam-hitam. Burhan dan delapan centeng lainnya meneteskan keringat dingin. Gio melempar uang seratus juta ke hadapan pria berperut buncit itu. Budiman kini di sisi Gio.
"Dia siapa?" tanyanya.
"Paman dari Nona Aini berhutang padanya," jawab Gio.
"Oh," sahut Budiman enteng.
Burhan membuka resleting tas yang dilempar. Tumpukan uang langsung menyilaukan matanya. Sungguh, ia tak bisa berkutik.
"Apa ini asli?" tanyanya ragu.
"Kau pikir kami penipu sepertimu?' sindir Budiman mencela.
"Aku hanya memastikan. Kupikir kau seperti apa, ternyata nyalimu hanya segini saja," sindir Burhan sarkas.
"Kalau punya rekan seprofesi, tentu saya akan meminta bantuan mereka," sahut Gio tenang.
Para gadis kini lega. Semuanya disingkirkan dari sana. Burhan menatap Mereka di ujung gang.
"Bawa itu!' titahnya.
Salah satu anak buah yang tadi petantang-petenteng pun hanya bisa diam. Mereka kalah jumlah.
"Andai kita hanya berdua saja!" sergahnya.
Gio tak menanggapi perkataan mereka. Kesembilan pria itu berjalan melewati gerombolan gadis. Safitri yang lebih besar dari mereka menghalangi pandangan Burhan yang melirik, belum lagi para bodyguard yang juga menutup akses mereka bergerak lebih.
Aini dan Putri menggendong dua balita yang masih terlelap. Setelah Burhan dan kawan-kawannya menghilang. Aini menghela napas lega.
"Dek, kau jangan tidur di sini. Ikut ke rumahku!" ajak Saf seperti perintah.
"Tapi, Bu bidan," sahut Aini tak enak.
"Tidak ada penolakan!' ujar Saf.
Aini hanya mengangguk. Gadis itu mengambil keperluan dua adik dan juga dirinya. Memasukkan motornya dan mengunci pintu.
"Makasih ya Mas Gio dan Mas semua," ujarnya berterima kasih.
"Saya berhutang seratus juta, ijinkan saya untuk mencicilnya," pintanya.
Budiman mengangguk. Pria itu menyanggupi membawa uang tunai seratus juta dari brankasnya. Pergerakan semua anak buahnya terdata di BraveSmart ponselnya. Jadi dengan cepat ia menghubungi semua rekan untuk membantu Gio dan dua rekan lainnya.
Aini menaiki mobil Saf. Semua pun akhirnya meninggalkan tempat itu. Burhan menatap kepergian semuanya. Ia menyeringai licik.
Pria itu kembali ke rumah yang ia sewa. Ia dan delapan anak buahnya menyusun rencana.
Sedang dalam mobil Aini, mengucap seribu kata terima kasih. Gadis itu sangat beruntung Safitri menolongnya.
"Sudah, jangan ngucapin terima kasih terus. Kita sesama manusia harus saling menolong," ujar Saf.
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah cukup besar. Saf menekan klakson. Satu pria membuka pintu pagar.
"Baru pulang, Neng, Saf?" tanya pria itu.
"Iya, Mang," jawab Saf.
Setelah memarkirkan mobilnya. Sosok wanita paru baya membuka pintu rumah.
Saf mengangkat Ditya, sedang Aini mengangkat Radit.
"Mang Usep, tolong bawain tas di bagasi. Bik Nana siapin kamar tamu ya," titah gadis itu lembut.
"Iya, Non," sahut sepasang suami istri itu.
Mereka pun masuk kamar tamu. Usep membawa tas kecil dari bagasi mobil.
"Istirahatlah," ujar Saf lalu meninggalkan Aini dan dua adiknya.
Pagi berlalu. Aini hendak kembali membawa adiknya pulang. Hari ini dia tak bekerja karena libur.
"Adik saya mesti sekolah TPA," ujar gadis itu beralasan.
"Baiklah, aku antar," ajak Saf.
"Kita naik angkot aja," Saf menatap datar Aini.
Ditatap sedemikian rupa, membuat gadis itu menunduk takut.
"Ibu bidan," rajuknya.
"Ayo," ajak Saf tak bisa dibantah.
Sampai rumah sewa Aini. Saf memilih ikut masuk rumah sewa gadis itu. Hatinya masih diliputi kecemasan tinggi.
Mereka masak berdua dan mengajari kedua balita itu membaca dan menulis. Setelah tidur siang, keduanya sudah rapi dengan seragam TPA.
"Kita berangkat dulu, ya Mba, Bu bidan!" pamit Ditya.
Keduanya mencium punggung tangan dua perempuan itu bergantian.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!" sahut Aini.
Saf memilih mengikuti dua adik Aini sedikit jauh di belakang mereka. Aini heran. Karena penasaran, ia juga mengikuti bidan bongsor itu.
Hingga ketika sedikit lagi sampai. Dua orang laki-laki berlari dan menyambar Radit dan Ditya sambil membekap mulut keduanya.
Dugaan Saf benar. Dua anak itu tengah diincar. Gadis itu pun berlari dan berteriak.
"Maling!"
"Berengsek!" maki salah satu pria yang membopong Radit.
Keduanya diberi obat bius hingga jatuh pingsan. Saf begitu murka. Gadis itu langsung menyerang salah satunya. Aini langsung berteriak meminta tolong.
Semua orang keluar. Tapi, teman pria yang menculik langsung menyandra Aini.
"Berhenti, jika tidak dia celaka!" bentak pria itu mengancam.
Aini menangis. Ia memang tak memiliki bekal bela diri. Orang-orang yang keluar jadi masuk lagi karena ketakutan.
Saf mengepal kuat. Orang yang ia hajar sudah pincang karena tendangannya. Saf tak bisa bergerak lebih karena ada Radit di tangan pria itu.
"Sudah kubilang jangan ikut campur," ujar Burhan yang tiba-tiba muncul.
"Kau sudah dibayar!' bentak Saf.
Burhan terkekeh.
"Dan kau pikir aku membebaskan buruanku begitu saja?" tanya Burhan dengan seringai licik.
Bersambung.
duh ... gaswat nih ...
next?