
Gio sudah kembali pulang ke kota. Setelah kemarin ia berziarah ke makam kedua orang tua Aini. Mereka hanya tiga hari di sana. Aini yang berencana melahirkan di sana pun urung.
"Mau sama Uma Saf!" rengek wanita itu.
Gio menuruti keinginan istrinya. Dua adiknya tampak menikmati saja perjalanan mereka. Toh, keduanya belum bersekolah umum.
Butuh delapan jam untuk sampai rumah mereka. Banyak oleh-oleh yang akan dibagikan pada tetangga dan juga keluarga.
Baru tiga jam sampai. Tiba-tiba Aini mengaduh. Ia merasakan perutnya kontraksi. Memang usia kandungannya sudah lewat sembilan bulan.
"Udah sembilan bulan lewat dua puluh hari," gumam Gio.
Ia kembali meminta dua adik iparnya ikut, lalu mereka ke rumah sakit.
"Allahuakbar!" pekik Aini kesakitan.
"Sepertinya mau melahirkan!" teriak wanita itu lagi.
Aini benar-benar tak kuat jika harus sampai di rumah sakit. Bibir di bawah sana sudah terasa panas. Bahkan, ia sudah mengangkang.
"Tahan sayang. Sebentar lagi!" teriak Gio berusaha menenangkan diri.
Ditya dan Radit memanggil-manggil mbaknya.
"Mba ... sabal mbak!" ujar Radit ketakutan.
"Sayang, tahan ya," pinta pria itu.
Aini merapatkan kakinya. Ia terus bertasbih dan berdoa meminta kekuatan. Peluh membanjiri dirinya. Ia sudah buram. Perutnya terus kontraksi.
"Tolong istri saya sudah pecah ketuban!" teriak Gio.
Saf yang baru saja keluar ruang administrasi. Wanita itu berlari membawa kursi roda. Ia lupa jika di perutnya ada tiga bayi.
"Astaghfirullah, Bu bidan hati-hati!" teriak Gio.
Saf membantu Gio mengeluarkan Aini. Baju wanita itu sudah basah. Bahkan hijabnya berantakan. Saf membenahinya.
"Tenangin dua adiknya Mas!" titah Saf.
Gio mengeluarkan dua adik iparnya yang menangis ketakutan. Ia memeluknya dan menenangkan keduanya.
"Mas ... mba kenapa?" tanya Radit terisak.
"Mba mau melahirkan, kita doain ya," ujar Gio dengan suara serak.
Felix berlari menuju Gio. Ia mengambil kunci mobil dan memarkirkannya di halaman parkir rumah sakit.
Gio membawa dua adiknya ke depan ruang bersalin. Di sana ia duduk menunggu. Terdengar teriakan dan erangan di sana. Suara Saf juga mendominasi.
"Keluarga Dokter Aini!"
Gio dan dua adiknya berdiri. Suster meminta Gio untuk masuk.
"Mas ... hiks!" keduanya ketakutan.
Lidya datang setelah diberi tahu oleh Felix.
"Om masuk aja, biar Ditya dan Radit sama Iya," ujar wanita itu.
Gio mengangguk lalu masuk ke dalam. Ditya dan Radit diajak Lidya masuk ruang prakteknya.
Butuh waktu nyaris dua jam sepuluh menit. Lidya mendapat kabar persalinan Aini sudah selesai.
"Alhamdulillah, keduanya sehat dan selamat," ujar wanita itu lega.
"Sayang, selamat ya, sekarang kalian punya adik laki-laki," ujarnya pada Ditya dan Radit.
"Jadi dede bayi yang di pelut mba udah kelual?" tanya Radit masih cadel.
Lidya mengangguk. Ditya dan Radit saling berpelukan. Mereka bersyukur tak lagi melihat mba mereka kesusahan karena membawa bayi dalam perutnya.
"Akhirnya mbak nggak sesak ya," sahut Ditya lega.
Lidya membawa keduanya setengah jam berikutnya. Ruang perawatan Aini ada di kelas eksklusif. Ruangan besar dan mewah. Satu boks bayi dengan papan nama di depan boks.
Aini tengah menyusui ketika Lidya masuk dengan dua adik wanita yang baru saja menjadi seorang ibu itu.
"Assalamualaikum, Mba dokter, Mas Gio!" sapa Lidya dengan senyum lebar.
Aini dan Gio menjawab salam Lidya. Mereka tersenyum lebar. Ditya dan Radit di naikkan ke ranjang.
"Adik ... selamat datang," sapa Ditya penuh haru.
"Oh ... tampan sekali," puji Lidya ketika bayi itu dalam dekapannya.
Lidya mengecupnya. Putri belum pulang dari kampung halamannya. Sepertinya ia menikmati cuti yang diberikan selama dua minggu.
"Sudah diberi nama, om eh ... mas?" Gio dan Aini tersenyum.
"Namanya Muhammad Arsyad Putra Gotranda," jawab Gio penuh kebanggan.
"Wah, namanya keren banget ... pasti Gotranda singkatan ananda Gio dan Citra kan?" terka wanita itu.
"Nona benar, Gotranda adalah ananda Gio dan Citra. Saya mengambil nama tengah istri saya biar pas," jawab Gio menjelaskan.
Lidya mengangguk. Ia kembali mencium bayi tampan dalam gendongannya, kemudian membawanya ke boks dengan perlahan.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya," ucap Lidya undur diri.
Gio dan Aini mengucap terima kasih. Pria itu mengantar nona mudanya ke pintu.
"Udah, mas ... nggak apa-apa, santai saja," ujar Lidya ketika Gio meminta maaf soal ketidak hadirannya di acara tujuh bulanan.
Lidya kembali ke ruangannya. Ia melihat kakak iparnya telah keluar dari ruang pendataan rumah sakit. Lidya lalu berjalan cepat dan memeluk wanita yang ukuran perutnya lebih besar darinya.
"Uma!" panggilnya manja.
"Hei ... sayang, ada apa?" tanya Saf.
"Nggak apa-apa, pengen peluk aja," rajuknya lalu membenamkan kepalanya di punggung kakak iparnya.
Lidya memeluk dari belakang, dengan begitu ia bisa puas membenamkan dirinya. Karena jika dari depan, perut mereka kan menghalangi.
Saf membiarkan adik iparnya bermanja. Ketika Darren meminta semua adiknya memanggilnya abah. Saf pun meminta semuanya memanggil umi.
"Biar beda ... kan papi, mami, mommy, daddy, papa, mama, baba, bommy ... ini abah dan uma," ucap Saf kala itu.
Hari berganti. Kini Aini sudah di rumahnya. Gio menyiapkan aqiqah putra pertamanya itu. Ia mengundang semua keluarga atasannya.
"Nggak nunggu empat puluh hari Mas?" tanya Aini perihal rencana aqiqah putra mereka.
"Tidak sayang. Lebih bagus tujuh hari setelah kelahiran atau empat belas hari. Jadi mas ingin mengadakan aqiqah setelah tujuh hari kelahiran Arsyad," jelas Gio.
Aini mengangguk. Dua netra penuh cinta saling bertemu. Gio mengecup bibir istrinya. Pipi wanita itu langsung panas karena malu luar biasa. Ia merona dan langsung menundukkan kepalanya.
"Sayang," panggil sang suami mesra.
Aini mengangkat kepalanya. Binaran cinta itu terpancar tulus dari pandangan Gio. Aini benar-benar terharu dan merasa tersanjung. Setelah tak berjodoh dengan Darren, gadis itu memang sudah jatuh cinta pada Gio bahkan ketika ia masih menjalin hubungan bahkan terikat pertunangan pada atasan suaminya itu.
"Terima kasih telah mencintaiku," ujar pria itu lirih.
Aini makin merona. Wanita itu yang mengungkap cintanya ketika malam pengantin mereka.
"Aini jatuh cinta sama Mas Gio," akunya malam itu.
"Aku juga cinta sama kamu," aku Gio jujur.
Bahkan Aini juga tahu kenapa punggung Gio terluka. Pria itu menceritakan sebenarnya.
"Aku lah yang berterima kasih karena mencintai Aini, mas!" sahut wanita itu.
Keduanya menatap bayi yang terlelap di sisi Aini. Gio kembali mengecup bibir istrinya.
"Mas puasa empat puluh hari deh," keluh pria itu.
"Subhanallah, mas ... Arsyad baru dua hari loh," ledek istrinya.
"Ck ... tidak apa-apa, ada sabun di kamar mandi," bisik pria itu.
Aini membelalak. Ia memukul gemas lengan sang suami.
"Jangan ngaco!" protesnya.
Gio terkikik geli. Tentu saja, ia mampu berpuasa selama mungkin. Ia sudah dilatih untuk tahan dari godaan apapun. Bahkan sebelum ia menikah dan menjadi ketua tim pengawal Terra.
Gio sudah bolak-balik menjaga anak perwira, istri pejabat bahkan janda kaya raya. Gio bisa melaluinya dengan mulus, walau semua perempuan yang ia jaga menggodanya hingga sampai tanpa busana.
Bersambung.
wow ... Gio keren
next?