
Mereka sampai rumah. Butuh waktu cukup lama, karena mereka mampir dulu ke sebuah masjid untuk sholat maghrib.
Baru saja meletakkan kaki di halaman, adzan isya berkumandang. Terra buru-buru masuk rumah. Melihat Lidya dan Rion tengah bermain. Sedang Darren belajar sambil mengawasi adik-adiknya bermain.
"Assalamualaikum!' salam Terra ketika masuk rumah.
"Wa'alaikum salam!" saut Darren.
Haidar dan Budiman juga masuk lalu memberi salam. Lidya langsung menyambut semringah dua pria tampan itu. Budiman langsung tersenyum lebar ketika melihat senyum Lidya yang menyambutnya.
"Dia tersenyum untukku," cibir Haidar pada Budiman.
Budiman hanya memutar mata malas. Pria dingin itu tak mau kalah dengan kekasih atasannya ini, jika perkara Lidya.
"Kita lihat saja Tuan," saut Budiman datar.
"Hei ... sholat!" sentak Terra sambil memandang keduanya dengan horor.
Baik Haidar dan Budiman langsung kicep. Mereka pun mengambil wudhu. Saat ini giliran Deno yang menjadi imam.
Satu jam berlalu. Anak-anak sudah tidur..Terra mengeluarkan laptop juga ponsel ciptaan Darren. Baik, Haidar dan Budiman hanya diam dan menunggu.
Terra menyalakan laptop nya. Sedang ponsel BraveSmart sudah aktif. Entah kapan gadis itu mengetik di layar keyboard. Budiman tidak bisa melihatnya.
'Cepat sekali!' puji Budiman.
Terra menatap layar ponselnya. Gadis itu menyetel waktu beberapa jam sebelumnya. Mengamati dua layar. Baik Haidar dan Budiman hanya diam saja.
"Mas Haidar dan Kak Budi bisa lihat dari layar laptop, pergerakan manusia sejak pukul 05.00 pagi," jelas Terra.
Haidar dan Budiman menatap layar laptop. Berbagai warna bergerak di layar. Kedua pria itu belum mengerti. Terra pun menjelaskan apa saja warna yang mewakili pekerjaan juga aktivitas orang tersebut.
"Kita persingkat saja ya di sekitar halaman parkir," ujar Terra.
Ketika sedang mengamati. Tiba-tiba ada gerakan mencurigakan di sekitar mobil Terra ketika jam istirahat siang, dan ketika jam pulang. Budiman ingat, ia meninggalkan mobil ketika makan siang, shalat dan pas waktu menjemput Terra ke kelas.
"Nona, pukul 17.17. ada pergerakan cukup lama di sekitar depan mobil," ujar Budiman ketika sedang mengamati.
Terra mengangguk. "Terlihat sekali, jika ia sedang meletakan sesuatu, terlihat dari pergerakannya."
"Kita kunci itu," ujar Terra.
Lagi-lagi, Budiman tak dapat melihat pergerakan jemari Terra. Sangat cepat. Tersangka langsung terkunci. Semua pergerakannya terlihat setelah dari meletakkan bangkai anak kucing itu.
Orang itu berjalan mengitari halaman kampus kemudian masuk di salah satu lorong. Sosok itu seperti tengah mengamati sesuatu.
Budiman terkejut. Ia sangat yakin dengan instingnya ketika tadi ia merasa ada yang mengamati ketika pulang tadi.
"Apakah ini orang yang tadi Kakak curigai?' Budiman mengangguk.
Haidar hanya menatap tajam. Pria itu sudah memindai siapa orang itu. Warna orange menandai apa pekerjaan orang itu. Bahkan wajahnya tertangkap di kamera pengintai.
"Kau mengenalnya?" tanya Haidar dengan nada cemburu.
Baik Terra atau pun Budiman memutar mata malas, mendengar suara cemburu itu.
"Dia dulu adalah suami Bibi tiriku," jawab Terra.
"Kau punya Bibi tiri?" tanya Haidar lagi.
"Ya, hubungan kami sangat buruk bahkan ketika Ayah masih hidup. Bi Fatma suka sekali menggangu Ibu juga menghinanya," jelas Terra.
"Sebentar. Te, telepon Om Sofyan dulu," ujar Terra, kemudian mengambil ponselnya yang berada di samping laptop.
Gadis itu menscroll layar, mencari sebuah nama, kemudian melakukan panggilan. Beberapa saat kemudian panggilan diterima.
"Assalamualaikum Om maaf mengganggu malam-malam,"
"......!"
"Gini, Om. Te mau nanya, masalah hukum Bi Fatma apa sudah selesai ya?" tanya Terra serius.
"......!"
"Emm ... Te, nggak bisa ngomong di telepon. Gimana kalo besok Te yang ke kantor Om?"
"......!"
"Baik, Om. Kalau begitu sampai besok ya, maaf mengganggu malam-malam. Assalamualaikum!'
".....!"
Terra memutuskan sambungan teleponnya. Gadis itu pun mematikan laptop dan menyimpannya di ransel yang tak jauh letaknya dari meja.
"Besok kita ke kantor Om Sofyan," ucap Terra.
"Aku ikut!" ujar Haidar.
Terra mengangguk. "Te juga akan bawa anak-anak juga."
"Baik Nona. Besok saya siapkan semuanya," ujar Budiman.
"Ya sudah. Aku pulang. Besok aku datang pagi-pagi," ujar Haidar sambil bangkit dari duduknya diikuti Budiman.
Terra mengantarkan Haidar keluar rumah. Pria itu meminjam mobil kekasihnya. Mobil sportnya sedang ada masalah jadi masih di bengkel. Walau mobilnya ada banyak di garasi.
Entah kenapa, pria itu lebih suka nebeng di mobil Terra, semenjak adanya Budiman.
bersambung.
next?