
Waktu berlalu hari berganti. Pagi menyingsing. Semua keluarga berkumpul. Mereka kini berada di mansion pribadi milik keluarga Pratama.
Bram juga mengundang keluarga Bart untuk datang ke mansionnya. Tentu saja Bart sangat senang menghadiri acara pernikahan kembali Karina dan Zhain. Herman juga datang.
Semua berkumpul di ruangan yang telah di design sederhana. Zhain duduk di hadapan Bram dengan menjabat tangan. Bobby dan Fabian menjadi saksi untuk pernikahan tersebut.
Baru saja ia mau mengucap tiba-tiba.
"Tunggu dulu!" sebuah teriakan menggema di seluruh ruangan.
Seorang pria dengan kursi roda didorong oleh seorang pria. Zhain, Bram, Karina, Haidar, Kanya dan Herman mengenali siapa yang datang. Dia adalah Nugie Wijaya dan Darno Wijaya.
"Jangan menikah tanpa hadirnya Ayah. Ayah juga mau mengikuti pernikahanmu," ujar Nugie dengan suara bergetar.
Masih terlihat bekas infus di pergelangan tangan kirinya. Zhain sedih melihat itu. Ia pun mendatangi ayah juga pamannya.
Para petugas memberi tempat duduk untuk Darno di sebelah Bart. Kedua pria itu saling mengangguk hormat.
Ijab kabul pun berlanjut dan usai ketika saksi berkata "sah!". Semua menitik haru. Herman hanya bisa mengelus dada.
'Kadang cinta tak harus memiliki' gumamnya dalam hati.
Siapa sangka gumaman Herman sama dengan apa yang dikatakan dari hati pria tampan yang menatap nanar pernikahan ulang itu. Budiman hanya menghembuskan napasnya kasar.
"Om Pudi, penapa?' tanya Rion yang melihat kegelisahan pria itu.
"Tidak apa-apa, Tuan Baby," jawab Budiman sambil tersenyum.
"Panan bolon ... bolon bosa woh!" peringat Rion.
Budiman hanya tersenyum. Ia tak mungkin curhat dengan bayi yang belum genap dua tahun itu kan? Pikirnya. Rion pun melenggangkan kakinya, bayi menggemaskan itu benar-benar membuat semua orang histeris melihatnya.
"Come here Baby!' panggil Virgou.
"Pom hil Daddy!" ia malah meminta Virgou mendatanginya.
Virgou pun menyambangi bayi itu. Sosok dengan sejuta pesona ini duduk menyamakan tingginya dengan Rion.
"Kamu lagi apa, Baby?' tanya Virgou.
"Ipu biat Om Pudi nayis," adunya.
Budiman melebarkan matanya. Ia tak percaya dengan fitnah yang baru saja dilontarkan bayi belum genap dua tahun itu. Virgou menatapnya penuh selidik. Budiman menggeleng menolak tuduhan Rion.
"Kamu, nangis?"
"Tidak, Tuan!"
"Panan bolon. Pamu belbosa woh!' peringat Rion lagi.
'Hais!" keluh Budiman dalam hati. 'Tuan Baby tidak mungkin tahu aku sedikit melow dengan acara ini kan?'
'Tidak-tidak, Tuan Baby tidak mungkin tahu. Iya benar. Ia hanya asal tebak saja!' ia bermonolog dalam hati.
"Budiman?" tegur Virgou lagi. "Kamu melamun?'
"Tidak!' seru Budiman cepat.
"Hah ... benar kata Baby, kamu menangisi acara ini. Kenapa?" tanya Virgou berusaha mengorek keterangan.
"Tidak Tuan. Saya tidak menangis. Saya berbahagia malah," ujar Budiman lagi.
"Baby, bagaimana menurutmu?' tanya Virgou lalu menggendong Rion.
"Emba pa'a-pa'a. Bianin Om Pudi nayis pendili," jawab Rion cuek.
"Ah, kamu benar. Kita biarkan dia mengasihani dirinya. Oke?!" ujar Virgou meledek pengawal tampan itu.
"Oteh!" sahut Rion.
Mereka pun meninggalkan Budiman yang kini putus asa karena perkataan Rion. Sungguh, ia berusaha menyembunyikan semua perasaannya. Tak ada satu pun yang tahu jika ia memiliki sedikit ketertarikan dengan kakak dari suami Terra itu.
"Ah, Tuan Baby!"
"Professional, Bud!" salah seorang rekannya memperingatkan.
"Baik. Maaf!" ucap Budiman langsung bersikap sigap kembali.
Herman menyambangi pria yang bekerja sebagai pengawal kemenakannya itu. Ia berdiri di sisi Budiman, sambil menghela napas panjang.
"Kita patah hati, Bud," ucapnya.
"Tuan benar-benar jatuh dengan Nyonya Karina?' tanya Budiman.
"Memangnya kau tidak?" tanya Herman balik.
Wajah Budiman tiba-tiba sedikit memerah. Ia terbatuk untuk mengembalikan wajah datarnya.
"Maksudnya, Tuan?" tanya Budiman.
"Hah ... kau ini," sahut Herman sinis.
Tiba-tiba Rion berada di pelaminan. Bayi itu bebas berjalan ke sana kemari. Mengganggu siapapun bahkan sepasang pengantin tak luput dari godaannya.
"Mommy, ini spasa?" tanyanya pada Karina perihal pria yaang yang ada di sebelah Karina.
"Bein?" tanya Rion.
"Zzhain!"
"Pain!"
"Astaga! Zhain!" saut Zhain sedikit kesal.
"Bain!'
"Hhh ...."
"Sudahlah, Mas. Anak kecil, dia masih bayi belum dua tahun," sela Karina.
"Panggil Papa Zee ya," pinta Karina.
"Papa Bee!" sapa Rion lalu merentangkan tangan minta digendong oleh Zhain.
Zhain yang gemas langsung menggendong bayi montok itu, lalu menciumi pipi gembul Rion.
"Papa Bee ... penana aja?' tanya Rion sedih.
"Pasian Ata' Lata pali bulu emba lada Papana," lanjutnya.
Tentu saja kedua orang itu tidak mengerti bahasa yang digunakan Rion. Namun, Zhain menjawab pertanyaan bayi itu.
"Papa baru dari jaauh ... dari luar angkasa baru tiba di bumi dua minggu lalu."
"Mas!' peringat Karina.
Zhain hanya mengkodenya. Toh, bayi suka dengan imajinasi kan? pikir Zhain.
"Belnel?' tanya Rion tak percaya.
"Iya bener," jawab Zhain.
"Bolon pamu belbosa woh!" peringat bayi montok itu.
"Baby!" panggil Virgou lagi.
Bayi itu meronta minta turun. Zhain pun menurunkannya. Pria itu masih berpikir dengan apa ucapan bayi itu. Semua keluarga tengah berbincang tentang rumah sakit yang direkomendasikan oleh Frans. Sedang Raka, Lidya dan Darren sibuk bermain.
Rion mendatangi Virgou. Pria itu menggendong bayinya lalu menyambangi Herman dan Budiman yang sedang duduk menyendiri sambil mengemil somay.
"Daddy mau ipu!" pinta Rion melihat makanan somay.
Herman mengambil alih Rion dari gendongan Virgou. Pria itu mengambil makanan yang diminta oleh Rion. Tentu hanya somay dan kecap saja. Ia tak menambahi bumbu karena pasti pedas.
"Tate padi Om Pudi nayis loh!' adu Rion.
Budiman langsung mengurut keningnya. Herman tertawa melihat kesengsaraan pria di sebelahnya ini.
"Kakek juga nangis tadi," adu Herman.
"Ate nayis puga?' tanya Rion.
"Iya," jawab Herman dengan wajah disedih-sedihkan.
"Panan bolon. Pamu belbosa woh!' peringat Rion.
Virgou datang. Ia pun menyuapi Rion. Bayi itu lahap dengan makanannya sepertinya ia lapar.
Di sana, Raka sudah merengek minta makan. Lidya sedang disuapi oleh Darren, kakaknya.
Somay Rion habis. Terra memanggil Rion untuk makan. Bayi itu minta digendong oleh Budiman.
Herman dan Virgou mengikuti dan ikut makan bersama. Tampak Raka selalu tertawa ketika disuapi ayahnya. Haidar senang melihat kakaknya kembali bahagia.
"Papa, padi Om Pudi tana Ate Meman nayis," adu Rion.
"Oh ya?" tanya Haidar.
Terra menatap horor paman dan suaminya, agar berhenti menanggapi perkataan putranya. Ia sangat tahu kelihaian Rion dalam memutar balikkan fakta. Terra tidak tahu, jika sekarang, bayi itu berkata benar.
"Memang kenapa nangis?" Haidar tak memperdulikan peringatan Terra, istrinya.
"Nayis palna ...."
Rion mulai berpikir. Ia kehabisan kosakata. Akhirnya ia pun mengendikkan bahunya.
"Baby, jangan berbohong ya ... kalau bohong itu do ...," ujar Terra memperingati.
"Sa ...," lanjut Rion.
"Mah ... Om Pudi panan bolon. Pamu belbosa," sahut Rion lagi.
Lagi-lagi Budiman hanya menghela napas panjang. Sedang Herman nyaris meledakkan tawanya.
bersambung.
oteh ... bolon itu bosa
next?