TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CINTA YANG RUMIT



Sementara di perusahaan Darren yang mendapat kabar jika adiknya baik-baik saja, akhirnya bisa bekerja dengan lega. Pemuda itu kini berada di kawasan industri pembuatan ponsel data dan BraveSmart nya. Semua aplikasi kedua ponsel itu sudah terdata, jadi ketika hendak memasukkan viturenya, para IT tinggal menyeting di komputer.


Permintaan BraveSmart ponsel juga semakin banyak. Walau pihak perusahaan terutama Darren meneliti semua pembeli ponsel rahasia tersebut.


Tiba-tiba terdengar teriakan salah satu pekerja. Semua menjauh, sistem mendadak berhenti. Petugas pengamanan langsung ke lokasi. Ternyata terjadi arus pendek lokal. Salah satu karyawan tersetrum. Karyawan tersebut langsung diungsikan. Setelah itu petugas perbaikan meneliti kenapa arus pendek terjadi lalu memperbaikinya segera. Semua selesai tak lebih dari sepuluh menit.


Sistem kembali beroperasi. Karyawan diperbolehkan kembali bekerja setelah dinyatakan aman. Sedangkan area karyawan yang terkena setrum tadi di isolasi sementara.


Darren langsung menuju klinik kesehatan Budiman, Felix dan Rendra selalu bersama dengannya.


Di sana dokter Aini Citra tengah menangani karyawan yang terluka bakar ringan di ujung jari tengahnya. Aini mengompres bagian yang nyeri dengan kompres dingin untuk mengurangi nyeri.


"Apa ada keluhan lain, Pak selain luka bakar ini?" tanya Aini setelah mengobati luka kecil itu.


"Sedikit gemetar Dok, sama tangan rada kesemutan," ujarnya sambil menunjukkan tangan yang tadi kesetrum.


"Oh, itu tak masalah, hanya efek kecil saja," ujar Aini menenangkan pria yang sedikit shock itu.


"Apa sekarang masih terasa nyeri banget?" tanya Aini lagi.


"Sudah tidak begitu Dok," jawab pria itu yang mulai biasa dan tenang.


"Jika memang ada keluhan setelah ini, Bapak langsung ke rumah sakit ya, untuk penanganan lanjutan," ujar Aini kemudian.


"Baik, Dok," sahut pria itu.


"Apa Bapak ini diperbolehkan pulang Dok?" tanya Darren tiba-tiba.


"Kalau merasa tidak enak badan atau masih trauma pasca kesetrum tadi, boleh saja. Tetapi, jika tidak, bapak ini boleh lanjut kerja," jawab Aini menjelaskan.


"Bagaimana perasaan Bapak. Saya, rasa istirahat dulu di rumah ya, tenangkan diri Bapak dulu," pinta Darren khawatir.


Aini begitu senang dengan perhatian Darren pada salah satu karyawannya. Ia pun berpikir jika banyak pemimpin perusahaan yang seperti pemuda ini, tentu semua karyawannya akan sejahtera.


"Saya kembali kerja saja, Pak. Sepertinya terlalu berlebihan jika hanya kesetrum kecil saya lalu meliburkan diri," sahut pria itu.


"Ya, sudah jika keinginan Bapak begitu," ujar Darren kemudian.


Pria itu pun keluar klinik. Darren menatap Aini yang sibuk merekap data kesehatan seluruh karyawan. Gadis itu begitu serius.


Budiman menatap pemuda itu yang sedikit putus asa mengungkap perasaannya. Sepertinya Darren memiliki rasa minder terhadap lawan jenis.


"Yakinkan dulu diri anda Tuan. Ingat pesan Nona Terra, ibu anda!" tekan pria itu mengingatkan


Darren tertunduk, bahunya langsung turun. Ia yakin dengan perasaannya tetapi, ia takut jika gadis idamannya itu tak memiliki rasa yang sama dengannya.


Akhirnya pemuda itu pun pergi meninggalkan ruangan tempat di mana Aini berpraktek.


Setelah kepergian Darren, Aini menekan dadanya yang berdegup kencang. Ia sangat yakin jika pemuda yang menjadi pemimpin perusahaan ini sedari tadi memperhatikannya.


"Jujur Pak. Jantung saya deg-degan kalo deket-deket Bapak," gumamnya bermonolog.


"Anda terlalu jauh saya gapai, Pak ... andai status kita sama," lanjutnya bergumam.


Ia menghela napas panjang. Kemudian gadis itu kembali merekap data kesehatan para karyawan.


Sementara di benua lain. Lidya sedang melakukan konseling nya. Tinggal satu minggu lagi, para asisten juga sudah mulai mahir menerapkan beberapa treatment yang diajarkan pada mereka.


Penjagaannya masih sama ketatnya seperti kemarin-kemarin. Semua sistem managerial rumah sakit sudah diganti dan dirombak habis-habisan. Demian memecat semua staf rumah sakit yang terlibat dalam penarifan uang untuk konseling gratis Lidya.


Gadis itu kini tengah memandang kosong bangku-bangku yang berjejer kemarin. Di sana ada tiga ayah, satu kakek dan satu pria yang kini mulai mengusik hidupnya.


"Ih ... aku masih terlalu kecil untuk mengerti arti cinta!" tolaknya pada perasaan yang tiba-tiba timbul.


"Sekarang Kak Demian lagi apa ya?" tanyanya, ia tiba-tiba merindukan sosok yang beberapa kali muncul pada sesi konselingnya.


"Dok!" panggil salah satu asistennya.


Lidya tersadar dari lamunannya. Gadis itu kini mulai fokus pada pekerjaannya. Seorang anak berusia tujuh tahun menjadi pasiennya sekarang. Di sisinya seorang ayah yang selalu mengusap air matanya.


"Dok, putri saya tak sengaja menyiram air panas ke tubuh ibunya. Kini, ibunya menderita kelumpuhan akibat siraman itu. Padahal, tak ada yang menyalahkan dirinya, tetapi, semenjak kejadian itu, putri saya sering melamun dan kosong seperti ini," jelas pria yang ternyata ayah dari gadis kecil ini yang kini memandang kosong ke depan.


"Apa Bapak yakin jika, putri Bapak tidak ada yang menyalahkan?" tanya Lidya kurang yakin dengan keterangan yang diberikan padanya.


"Saya ... saya kurang yakin, Dok," jawab pria itu akhirnya.


"Boleh tau nama putri Bapak siapa?" tanya Lidya sambil menatap netra yang kini mulai menceritakan kisah sesungguhnya.


"Namanya, Alissha biasa dipanggil Lisha" jawab pria itu.


"Wah, namanya cantik sekali seperti orangnya," puji Lidya lalu tersenyum.


"Hai ... Alissha!' panggil Lidya pada gadis kecil itu.


Sementara di tempat lain. Sosok tampan beriris biru kini menatap blue print di meja kerjanya. Sebuah design gedung tergambar di sana. Ia akan membangun sebuah dermaga di suatu pelabuhan.


Entah kenapa, justru wajah cantik berbalut hijab yang tertera di kertas itu.


Pria itu pun menghela napas panjang. Jacob melihat kegelisahan atasannya. Ia sangat mengerti, bagaimana tuannya ini dilanda risau yang menganggu hatinya.


"Tuan, apa anda tidak apa-apa?" tanya Jacob hati-hati.


"Jac!" panggil Demian sambil duduk dengan mata menerawang.


"Saya Tuan," sahut Jacob.


"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya pria tampan itu seperti orang linglung.


"Belum Tuan," jawab pria bawahannya dengan nada sedikit lemah.


"Jantung ini seperti maraton, Jac. Berkejar-kejaran setiap mengingat seseorang yang kita cintai," jelas Demian.


"Seperti ada aliran listrik yang mengalir di setiap pembuluh darah," lanjutnya.


"Sudah tiga hari aku tak melihatnya. Aku begitu rindu setengah mati padanya. Aku ingin berlari ke arahnya dan memeluk erat tubuh kecil itu," kembali ia menjelaskan apa yang ia rasakan.


Sepertinya pria itu mencurahkan isi hatinya pada Jacob. Sedang pria bawahannya itu hanya diam mendengarkan isi hati atasannya.


"Saya juga tidak tahu, bagaimana jika saya nanti jatuh cinta, Tuan, apa saya akan sama gilanya dengan anda atau bahkan lebih gila dari anda," sahut Jacob menerawang.


Demian berdiri, pria itu memandang kaca besar anti peluru. Ia menatap laju mobil yang nampak kecil dari tempatnya berdiri.


"Hai, gadis ... rindu ini memang berat, tetapi lebih berat jika menanggung cinta yang tak kunjung berlabuh pada dermaga yang tepat, dan kau lah dermaga itu gadis ku, Lidya."


Sementara Lidya kini tengah beristirahat di sebuah taman di area rumah sakit. Gio dan lainnya berjaga-jaga di sekitaran nona mereka. Melihat jika kondisi sang nona yang gelisah, mereka pun memberi ruang agar gadis itu menetralkan semua perasaannya.


"Ya Allah, ijinkan Iya mencintai salah satu makhluk-Mu, Demian Starlight," gumamnya lirih.


bersambung.


ah cinta itu memang begitu yaaa....


othor masih volos loh 🤭


eh bantu karya othor dengan beri vote lindungi.




lalu



untuk kolom pencarian tulis karya othor Terra The Best Mother ya.



udah itu klik deh lindungi.


makasih atas perhatiannya ... ba bowu ❤️❤️❤️


next?