TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PULANG



Tiga minggu berlalu. Kini mereka bersiap untuk pulang kembali ke negaranya. Bart menangis melepas kepergian semuanya. Ia merasa kesepian.


Terra memeluk kakeknya erat. Wanita itu juga berat meninggalkan sang kakek. Tapi, tugasnya masih banyak, anak-anak juga masih sekolah. Darren menolak sekolah di Eropa.


"Nggak ada pengibaran bendera," ujarnya memberi alasan.


Frans dan Leon salut akan jiwa nasionalisme kemenakan mereka itu. Usai sudah ciuman dan pelukan. Semuanya sudah naik pesawat. Gisel pun ikut bersama mereka.


"Aku kesepian lagi," keluh Bart.


"Nanti, kita akan bertandang satu tahun di sana, Dad!" sahut Frans memutar mata malas.


"Oh iya. Mereka tidak tahu itu kan?" tanyanya sambil terkekeh.


Ketiganya pun kembali ke pekerjaannya masing-masing. Walau Bart sudah lama pensiun. Pria itu masih mengawasi semua bisnisnya.


Delapan jam kemudian. Semua sudah sampai. Mereka harus kembali ke rumah masing-masing. Herman, istri dan tiga anaknya ke mansion mereka. Virgou juga membawa istri dan empat anaknya ke mansion. Terra juga suami dan tujuh anaknya sama.


Semua pulang dengan membawa banyak hadiah. Mereka dijemput oleh bodyguard masing-masing. Herman ternyata juga menyewa jasa pengawalan itu.Ia juga sudah mulai tidak aman berpergian jika sendirian.


Keluarga Terra sudah sampai rumah mereka. Disambut oleh semua pekerja. Terra membagikan oleh-oleh untuk semuanya.


"Terima kasih, Nyonya!"


"Sama-sama."


Semuanya pun beristirahat dalam satu kamar. Darren memeluk Haidar erat Lidya dan Rion memeluk adik-adiknya Terra memeluk semuanya.


Sore pun datang..Semua sudah mandi dan rapi. Bermain di ruang tengah. Darren pun sudah mendaftar di salah satu sekolah menengah pertama tak jauh dari rumahnya. Sekolah negeri. Pria kecil itu langsung mendaftar kelas akselerasi. Dia ingin menyelesaikan cepat pendidikannya. Terra tak mempermasalahkan.


"Kalau Darren merasa sanggup, ya tidak apa-apa, Mama dukung," ujar Terra waktu itu.


Semua kembali normal. Terra kembali bekerja. Tiga minggu ditinggalkan, membuat pekerjaan sedikit menumpuk. Pihak Osaka juga menanamkan saham mereka kembali.


Lidya sudah kelas dua SD. Sedang Rion harus masuk Taman kanak-kanak dulu. Baru bisa masuk SD. Padahal Rion ingin langsung kelas satu.


"Ini sudah peraturan, Nak," jelas kepala sekolah ketika Rion marah-marah.


"Kenapa tidak boleh sih. Ion kan sudah bisa baca, bisa nulis juga!" serunya protes.


Terra hanya bisa tersenyum tidak enak pada kepala sekolah. Tak hilang akal kepala sekolah pun berkata.


Rion terdiam. Ia pun juga masih suka berkata terbalik jika terlalu banyak berbicara. Ia pun akhirnya mau masuk taman kanak-kanak.


Tak terasa. Hari belajar pun dimulai. Darren pun kembali ke sekolah kini ia dikawal oleh delapan orang. Lidya dikawal oleh empat orang. Sedang Rion oleh dua orang.


Rion memperkenalkan diri di kelas dengan berani. Semua murid menatapnya takut..Pria kecil itu mulai menunjukkan arogansinya.


"Oke semuanya, coba ini warna apa?" tanya guru dengan ceria.


Semua anak-anak bersahutan menjawab. Rion hanya acuh. Ia memutar bola mata malas.


"Sungguh sekolah untuk anak-anak!" keluhnya mulai bosan.


Waktunya beristirahat. Ia pun antusias. Berniat bermain ayunan. Para bocah perempuan pun berebut perhatiannya.


"Ion, lihat deh bekal makanku. Mamaku buat ini penuh cinta loh, kamu boleh ambil," tawar seorang gadis kecil yang manis dengan dua kuncir kuda berpita.


"Terima kasih," ujar Rion mengambil bola-bola nasi berisi sosis.


Sudah empat makanan ia coba. Rion pun kenyang. Di kepalanya pun berpikir cepat.


"Besok Mama nggak usah repot bawain Ion bekal. Kan sudah ada mereka yang menawariku lagi," idenya dalam hati.


"Makasih ya makanannya. Kalo bisa besok boleh kok dikasih lagi," ujar Rion tersenyum manis.


Semua anak-anak perempuan tersipu. Mereka pun mengangguk setuju. Rion pun berjalan santai meninggalkan kumpulan gadis ingusan itu.


"Hei kamu!' panggil salah satu bocah lelaki pada Rion.


Para pengawal sudah bersiap. Rion hanya memberi kode untuk tetap tenang. Ia menatap bocah yang memanggilnya dengan tatapan berani dan tak mau kalah.


Hanya ditatap saja, tidak lebih. Bocah gendut itu pun takut lalu menangis. Rion pun menyingkir cepat. Ibu dari bocah itu hanya bisa bernapas lega anaknya tak berbuat ulah.


bersambung.


duh othor sakit gigi nih ... jadi masih pusing. dikit dulu ya besok lagi.


next?