
Hari berganti, malam pun menjelang. Mereka berempat kini sudah tidur bersama dalam satu kasur. Saling melepas canda dan tawa. Setelah seharian drama menegangkan ketiga anak yang masih belia.
Bagaimana mereka dengan lahap memakan makanan yang disuapkan Terra. Bahkan sampai nambah tiga piring. Terra juga ikut makan dalam piring yang sama dengan anak-anaknya.
Bahkan Darren menghadiahi Terra satu surah yang ia hapal pada ibunya. Betapa haru Terra mendengar lafal qur'an yang dibaca Darren. Walu ada beberapa yang mesti dibetulkan. Tetapi, untuk anak seusia Darren, Terra sangat bangga akan hasil yang sudah ia capai.
"Mama ... Darren sayang banget sama Mama," ungkap Darren senang.
"Iya dudha!" Lidya menyahut.
"Ion, yes!" ujar Rion sambil menetes air liurnya.
Semua tertawa melihat kelucuan Rion. Terra menciumi wajah ketiga anaknya.
"Sudah sekarang, berdoa kemudian tidur. Ayo!' titah Terra.
Darren membimbing doa, kemudian mengucap selamat malam pada ibunya.
"Selamat malam Mama, selamat bobo."
"Mayem Ma. Met bobo!"
"Bayem, obok!"
Masih terdengar Rion yang menyedot susu dalam botolnya kuat. Hingga perlahan kesemuanya tenang dengan napas teratur. Terra bahagia bukan main. Gadis itu yakin jika malam ini, ia akan mimpi indah.
Sementara di sebuah ruang, dimana alat-alat medis bekerja. Sosok pria renta sudah tersadar dari komanya. Kakek tua itu benar-benar sangat kuat daya juang untuk bertahan hidup.
"Aku tidak akan mudah mati. Tidak akan!" teriaknya walau dalam hati.
Detak jantung tiba-tiba bergerak cepat di layar monitor. Pria itu segera menetralkan degup jantung agar tenang dan rileks. Beberapa menit kemudian, detaknya kembali normal. Pria renta itu bernapas lega.
Hardi baru saja menghubungi seorang pengacara. Ia akan memulai rencana untuk kembali meraih kejayaannya. Pria itu sangat yakin jika semua tindakannya akan dilindungi hukum.
"Terra adalah cucuku. Darahku mengalir sama dengan darahnya. Aku adalah wali yang berhak atas dirinya," ujarnya bermonolog.
"Besok semuanya akan berubah. Dan aku kembali berkuasa," ujarnya jumawa.
Pria itu memejamkan mata dengan senyum lebar. Kemudian ia pun terlelap dengan mimpi indah yang ia buat.
Sedangkan di sebuah Firma hukum. Sofyan mendapat kabar jika salah satu rekannya mendapat sebuah mandat khusus untuk mengambil alih kuasa wali atas nama kliennya Terra.
Pria itu tertawa datar. Kemudian menggeleng pelan. Tak menyangka, karena harta. Seorang kakek yang mestinya melindungi dan menyayangi keturunannya malah ingin merampas apa yang menjadi hak milik cucunya.
"Baiklah Kakek tua. Akan kulihat sampai mana kekuatan mu," ujarnya bermonolog.
Sementara itu di sebuah klub malam. Alea tampak mabuk. Gadis itu meracau bahkan membanting gelas skoci hingga hancur. Semua menatapnya heran. Para sekuriti datang dan mengamankan gadis itu karena sudah berbuat onar. Alea didorong keluar hingga terjatuh.
Buk!
"Aduh!" ringisnya kesakitan.
"Kalian ... apa kalian tidak tahu siapa aku hah!" teriaknya.
Para penjaga tidak perduli. Yang penting, pembuat onar sudah mereka amankan dan dikeluarkan dari dalam klub.
salah seorang teman Alea datang. Ia mengenali wajah temannya. Karena merasa jika Alea tengah mabuk berat. Temannya itu membawanya ke apartemen milik Alea.
"Lu kenapa sih, Le?" tanya Beno khawatir.
"Gue ... gue nggak kenapa-kenapa. Gue cuma kesel ama itu tua bangka. Kenapa gue cepet banget disingkirin dari pemegang sementara kekuasaan perusahaannya. Padahal kan gue cucunya!" sungut Alea meracau.
Mereka sudah sampai apartemen Alea. Pria itu langsung membawa gadis itu ke unitnya. Setelah sampai. Pria itu langsung membawanya ke kamar gadis itu.
Ketika Beno ingin pergi. Alea menarik tangannya. Entah siapa yang memulai. Pastinya kini setan tertawa senang, karena dua insan itu kini asik masyuk berbuat dosa.
bersambung.
Ah ... gitu deh...