
Sepasang suami istri itu memilih menginap kembali di hotel, usai makan malam. Virgou yang tidak tahan menjamah istrinya. Langsung memesan kamar suite presidential room.
Sedang Hernia dengan percaya dirinya menunggu tuannya di mansion. Ia keliar kamar secara mengendap-endap. Mencoba masuk kamar majikannya. Sayang, kamar itu dikunci. Hal itu membuatnya kesal.
"Kenapa pake dikunci, sih!"
Herni pun kembali ke bawah dengan langkah malas. Bibirnya manyun. Sesekali ia bercermin di kaca besar yang terpajang di ruang tengah. Menatap seluruh tubuhnya. Ia memakai jubah tipis berwarna shock pink. Begitu kontras dengan kulitnya yang memang putih bersih.
Herni membuka jubahnya. Di dalamnya ia memakai pijamas warna senada dengan jubah yang ia pakai tadi. Pijamas dengan kain satin. Potongan dada rendah dengan tanpa lengan. Memang tubuh gadis itu sangat memuaskan mata memandang. Dua benda di dadanya tidak terlalu besar maupun kecil. Tapi sedang. Ada tiga tahi lalat di sebelah kiri gundukan dadanya.
Wajah Herni pun lumayan. Hidung kecil, bibir tipis, dagu lancip. Mata belo dengan iris coklat tua. Bulu mata palsu, alis yang ia bentuk sedemikian rupa. Ia sudah habis-habisan berdandan untuk tuannya.
Ketika ia memiringkan tubuhnya. Terlihat bokongnya yang tepos. Jika dibandingkan dengan istri tuannya yang memiliki body yahut. Herni kalah telak.
Sayang. Kepercayaan diri terlalu membutakannya. Gadis itu meremehkan warna kulit eksotik istri majikannya. Ia hanya membandingkan warna kulitnya yang jauh lebih baik dari Puspita.
Sayang. Tuan idamannya tak pulang. Padahal ia sudah menunggu di ruang tengah dengan posisi menggoda. Berharap sang tuan akan berbaik hati menggendongnya hingga ke kamar. Syukur-syukur jika sang tuan langsung hempaskan istri dan beralih padanya. Ia akan kesenangan luar biasa.
Inah yang biasa memeriksa setiap tengah malam. Mendapati Herni tengah tertidur dengan posisi yang .... Inah sampai jijik melihat tingkah anak buahnya tersebut. Ia pun langsung membangkunkan Herni dari tidurnya. Ia takut jika tuannya pulang mendapati pandangan yang menjijikkan seperti ini, akan menambah masalah.
"Herni, bangun Her!' panggilnya sambil menggoyang tangan gadis itu.
"Bentar lagi ah. Jangan ganggu, sayang," sahutnya dengan suara manja.
Inah makin jijik mendengar suara manja anak buahnya. Ia makin kasar membangunkan Herni. Inah menarik tangan gadis itu hingga terjatuh ke lantai.
"Aduh!" Herni mengaduh.
Gadis itu langsung berdiri dan membentak Inah dengan berani.
"Siapa kamu, berani-beraninya gangguin calon majikan, kamu!"
"Hah, apa?" tanya Inah tak percaya apa yang ia dengar barusan. Ia sampai mengorek lubang telinganya.
"Korek kuping lu dalem-dalem ya. Dengerin. Gue adalah calon majikan Lo. Gue akan menjadi istri sebenarnya Tuan Virgou!' sahutnya pongah sambil melipat tangannya di dada.
Inah, gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu terkekeh. Gadis itu menjadi kepala pelayan, karena ia lulusan sekolah paling tinggi dan kini tengah juga kuliah. Ia mengambil kelas karyawan setiap sabtu dan minggu. Virgou mengijinkan dia melakukan itu. Selama pekerjaannya tidak terganggu. Herni dan semua rekannya tidak tahu hal itu. Ia memang sengaja menyembunyikan status mahasiswinya. Inah terkekeh mendengar ucapan Herni.
"Udah ngehalu-nya?" tanyanya sambil berkacak pinggang.
"Gue nggak halu. Gue bakal jadi Nyonya mansion ini. Dan orang yang gue pecat pertama kali itu, Elu, pertu!" sindirnya sarkas.
Inah tertawa hambar. Ia mengasihani sesama rekan sekerjanya itu. Ia melipat kedua tangannya di dada menatap Herni dengan tajam.
"Emang apa yang bisa buat Tuan besar bakal ngelirik Lu?' tanyanya merendahkan.
"Gue punya kulit putih bersih, gue juga cantik, gue ...."
"Lu punya otak nggak?' tanya Inah memutus omong kosong Herni.
"Punya lah!" jawabnya sinis. "Masa nggak punya gini-gini gue ...."
"Cuma lulusan SMP!" potong Inah cepat.
"Emang kenapa kalo gue lulusan SMP?" tanya Herni lagi sewot.
"Nggak masalah sih, kalo Lo tau diri," jawab Inah remeh.
"Maksud Lo apa. Mentang-mentang Lo lulusan SMA. Trus Lo bisa hina gue gitu?!" ucapnya tak terima.
"Eh gue nggak mgehina Lo ya!' tekan Inah. "Tapi kelakuan Lo yang bikin gue ngehina Lo!'
"Lo tau, siapa istri Tuan besar kita itu? Hah!" tanya Inah.
"Bukan urusan gue. Gue yakin, kalo istrinya itu pake pelet. Kulit item dekil gitu bisa dapetin bule seganteng Tuan Virgou?!' sindirnya kasar.
"Lo tuh nggak ada seujung kukunya Nyonya Puspita!"
"Cih nama kampungan gitu dibanggain, apaan!' sindirnya lagi.
"Dari pada nama Lo. Gue tambahin A aja dibelakangnya jadi nama penyakit Lo!" bentaknya kesal.
"Nyonya Puspita itu cantik. Bahenol. Bodynya kek gitar spanyol. Kulitnya eksotik. Lo tau nggak apa itu eksotik?" bentaknya lagi membela istri tuannya.
"Eksotik itu seksi. Alisnya asli, bulu matanya lentik itu juga asli. Nggak kek Lo. Bulu mata palsu, alis tato!"
Herni terdiam. Ia masih kekeh dengan pendapatnya. Jika tuannya itu lebih pantas dengannya.
"Dan asal Lo tau ya. Nyonya Puspita itu lulusan terbaik universitas ternama di negeri ini. Menguasai tiga bahasa asing!' serunya bangga.
"Nah, Lo? Lo siapa ngebanding-bsndingin diri Lo sama Nyonya. Jaaaauuuh banget!"
"Lo tuh kek amuba di mata Tuan besar. Nggak keliatan. Kalo mau mesti ngeliat Lo mesti pake mikroskop pembesaran 10 hingga 200x lengkap dengan lampu iluminasi LED. Biar tambah keliatan!' sindir Inah pedas.
Herni terdiam ia tak mampu membalas perkataan teman sekerjanya itu. Tapi, bukan Herni namanya jika ia tidak bisa mengelak dari rasa tersudutnya.
"Jika Tuhan berkehendak. Lo bisa ngomong apa?!"
"Astaghfirullah, Hernia!' pekik Inah gemas..
"Nama gue Herni. Nggak pake A!" bentaknya tak terima.
"Lo sadar diri kenapa?" ujar Inah bingung mesti ngomong apa sama temannya itu.
"Lo bilang, kalo Tuhan berkehendak? Iya gue nggak akan bisa ubah atas apa yang udah digariskan Tuhan. Tapi, apa iya Tuhan buta buat ngangkat derajat Lo!" sarkas Inah pedas.
"Sholat kaga, ngaji kaga!'
"Itu gue lagi haid!"
"Alasan aja Lo! Haid kok tiap waktu sholat!'
"Gue ...."
"Diem Lo. Masuk kamar sekarang, sebelum habis kesabaran gue ngeladenin Lo!' bentak Inah kesal bukan main.
"Kalo gue ngga mau?!" tantang Herni.
"Gue itung sampe tiga. Kalo Lo nggak nurut apa kata gue sekarang. Jangan harap Lo kerja di sini. Dan asal Lo tau, Tuan udah ngasih gue mandat buat mecat siapa aja babu yang belaga di mansion ini!"
Rupanya ancaman Inah, membuat Herni berpikir dua kali. Ia tak mau pergi dari mansion ini Ia masih berharap keajaiban datang menghampirinya.
"Gue yakin, gue bakal jadi ratu gedong ini!" ujarnya meyakinkan diri dalam hati.
Ia pun pergi begitu saja dengan sok anggun. Inah sampai geleng-geleng kepala. Gadis itu mendengkus kesal dan memijit keningnya.
"Bakalan runyam ini, kalo dia sampai kena sama Tuan besar. Dan gue pasti kena imbasnya," keluhnya.
"Gue mesti ngomong besok sama Tuan. Biar beliau yang kasih keputusan. Gue yakin, Tuan pasti nggak mau rumah tangganya diricuhi cacing kremi kek Hernia eh Herni itu!' ungkapnya bermonolog.
Inah kembali ke kamarnya setelah memeriksa semua pintu dan jendela.
bersambung.
duh tuh Herniaaaa ...
next?