
Hari berlalu. Widya mengatakan kesanggupannya untuk didatangi oleh keluarga besar Gabriel. Maka di tentukan hari minggu ini mereka melamar Arsindhu Widya Kusmo.
Gabe begitu berdebar ketika hari makin dekat. Ada saja ujian yang didapati kedua insan itu. Gabe yang cuek dan Widya yang kaku, sama-sama bungkam bahkan jarang bertemu. Hal itu menipiskan kepercayaan Widya.
"Apa benar, Tuan Gabe ingin melamarku?" tanya Widya melihat pria yang ia cintai seakan mulai menjauh.
Gadis yang tidak biasa merayu atau membujuk seorang pria pun hanya bisa diam. Gabe merasa sang gadis acuh dengan keadaan. Sikap diam Widya dianggap menyepelekan perihal lamaran.
Rommy yang melihat perubahan sikap keduanya akhirnya mengadu pada Terra.
"Tuh, lihat Gabe. Dia nggak seromantis saat waktu mendekati Widya dulu."
Terra memandang wajah kakak sepupunya itu tengah berwajah muram. Wanita itu yakin, jika wajah itu diperlihatkan pada empat anak kembarnya, pasti akan dikatai.
"Sepertinya, Te harus bicara berdua dengannya," sahut Terra.
"Bicaralah. Aku takut, gara-gara ini, ia malah membatalkan lamarannya. Sepertinya Gabe lupa siapa Widya," ujar Rommy memberi saran.
Terra mengangguk. Rommy pun keluar, membiarkan kakak beradik sepupu itu saling bicara. Ia memperingati sekretaris barunya untuk tidak masuk sembarangan ke dalam ruangan.
"Kak!" panggil Terra.
Gabe hanya berdehem. Ia memandang Terra malas. Jujur, hatinya tengah kalut luar biasa. Gadis yang diharapakan untuk memberinya semangat ternyata terkesan acuh. Ia mulai meragukan keputusannya untuk melamar gadis itu.
"Bicara saja, kak. Utarakan semua kegundahan Kakak. Siapa tahu, dengan begitu, Kakak bisa tenang," ujar Terra memberi saran.
Gabe menghela napas panjang. Pria itu pun mengutarakan semua kegelisahannya.
"Widya tak merespon apa pun kegelisahan ku ini. Seakan menutup mata dan tak peduli," keluh pria itu.
Terra tersenyum simpul mendengar perkataan Gabe. Dulu ia juga begitu ketika akan menikah dengan Haidar, justru malah sebentar lagi akan menikah. Hanya permasalahan sepele yang bisa dibicarakan dan dipikirkan secara baik-baik.
"Apa Kakak sudah berbicara baik-baik pada Kak Widya perkara kegelisahan Kakak?" tanya Terra.
Gabe terdiam. Ia memang tidak membicarakan itu pada kekasihnya. Pria itu hanya ingin sang kekasih mengerti dirinya.
"Aku ingin dia juga memperhatikanku," sahut Gabe menerawang.
"Kakak kan tahu, Kak Widya seperti apa?" ujar Terra mengingatkan.
Gabe baru tercerahkan. Dia lah yang mestinya banyak mengerti Widya. Gadis itu baru keluar dari cangkang setelah bertemu dengannya.
"Ah, kenapa aku baru ingat jika gadisku tak mampu mengekspresikan dirinya, selama ini Ibu lah yang mengatur semuanya," sahutnya gamblang.
Terra memutar mata malas. Gabe langsung berdiri. Melihat jam di dinding.
"Te, aku akan bawa Widya makan siang. Kau mau ikut?' Terra menggeleng.
"Mas Haidar akan menjemput Te makan siang nanti," jawabnya.
"Oteh, makasih atas pencerahanmu, aku yakin akan berciuman kali ini tanpa gangguan apa pun!" seloroh pria itu.
"Ish, pikiranmu, Kak!" tegur Terra.
Gabe terkekeh. Ia menyambar kunci mobil dan langsung bergegas ke lantai tiga di mana ruang tempat calon istrinya bekerja.
"Sayang!" panggil Gabe ketika sampai depan ruang arsip.
Widya menoleh, gadis itu baru menyuapkan sandwich ke mulutnya. Gabe langsung mendatangi Widya dan merebut sandwich lalu memakannya.
"Aku belum makan," cicit Widya.
Gabe memberi sandwich itu pada Widya di bekas gigitannya. Gadis itu hanya termangu.
"Ayo, makan," titah Gabe.
Widya pun mengigit sandwich di bekas gigitan pria itu. Gabe tersenyum, mereka pun saling berbagi sandwich.
Sandwich habis. Gabe memandangi kekasihnya penuh rasa cinta. Jantung Widya berdegup kencang. Pria itu mengelus pipi sang gadis. Ia bertekad akan mencium gadis ini apa pun yang terjadi.
Baru saja menurunkan wajahnya. Tiba-tiba ponsel Widya berdering sangat keras. Gadis itu buru-buru menjauhkan wajahnya dan mengambil ponsel jadulnya. Widya
belum mengganti ponsel lamanya.
"Halo, Bu!"
".....!"
"Sudah, Bu. Widya baru saja selesai makan," jawab Widya.
".......!"
"Iya, nanti Widya tanyakan ulang," ujar Widya lagi.
".....!"
"Iya, Bu," sahut Widya lagi.
Sambungan terputus. Widya menghela napas panjang. Ia pun menghadap pada Gabe. Dengan menumpuk keberanian besar. Ia pun mengutarakan permintaan ibunya.
"Tentu saja, apa kau pikir aku main-main?" tanya Gabe serius.
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan saja," ujar Widya.
Gabe memeluk gadisnya erat. Pria itu menyalurkan seluruh rasanya pada sang kekasih.
"Aki mencintaimu. Sangat mencintaimu," ungkap Gabe penuh ketulusan.
"Aku juga mencintaimu," balas Widya juga tak kalah tulus.
Hari pun berganti. Kini semua keluarga sibuk. Gabe menyewa sebuah gedung untuk melamar kekasihnya. Widya dan ibunya sudah bersiap di sana. Gabe memakai jasa Event organizer, untuk melancarkan aksinya.
Mereka datang berombongan. Gabe semobil dengan Bart yang dikemukakan oleh Dahlan, pengawal Terra.
Budiman mengangkut anak istri dan kedua orang tuanya, Terra membebas tugaskan pria itu. Haidar akan bersama istri dan tujuh anaknya dalam satu mobil Pajero sport merah. Virgou juga bersama istri dan empat anaknya, begitu juga Herman bersama istri dan lima anaknya. Bram juga diundang ke acara lamaran itu.
Pihak EO membuka acara penyambutan. Widya dan Sriani begitu bahagia melihat keluarga besar Gabriel.
"Aku tak merisaukan dirimu, Nak. Kau banyak saudara," sahut Sriani berkaca-kaca.
Widya hanya mengangguk setuju. Acara pun berlangsung dengan khidmat.
Hingga acara puncak yakni Gabe berbicara secara langsung keinginannya pada sang gadis.
"Saya Gabriel Philip Dougher Young, ingin meminta restu pada Ibunda Sriani untuk mengikhlaskan putrinya saya persunting.''
Pembawa acara menyerahkan mik lain pada Sriani. Wanita berusia empat puluh delapan tahun itu gemetaran. Dengan menahan semua kesedihannya untuk melepas putri semata wayang.
"Saya, selaku orang tua hanya bisa menyerahkan semua keputusan pada putri saya. Karena nantinya ia yang menjalani kehidupan selanjutnya. Saya akan merestui apa pun keputusan yang diambil oleh Widya," jawabnya.
"Bagaimana, Mba Widya apakah pinangan dari Tuan Gabriel Philip Dougher Young diterima?" tanya pembawa acara.
Mik diserahkan pada Widya. Gadis itu gemetaran ketika memegang mik. Dengan suara terbata ia pun menjawab.
"Saya Arsindhu Widya Kusmo, menerima pinangan dari Gabriel Philip Dougher Young!"
Semua bertepuk tangan. Gabe tersenyum. Terra membimbing Widya untuk maju ke depan. Gabe menyematkan cincin pertunangan pada gadis itu.
Acara di akhiri dengan makan bersama. Anak-anak duduk teratur dikomandoi oleh Rion. Tak perlu babysitter banyak-banyak. Mereka hanya mengawasi, karena para balita hanya menurut pada Rion saja.
"Tanggal pernikahan, tiga bulan lagi. Setelah Puspita melahirkan," ujar Virgou ketika melihat tanggal pernikahan mereka.
"Iya, karena jika dalam waktu dekat, semua tanggal penuh dengan pekerjaan. Aku juga harus ke luar kota untuk mempercepat proses pekerjaan," sahut Gabe l.
Semua mengangguk setuju. Terra bahkan harus bekerja di rumah membantu Gabe untuk menyelesaikan beberapa urusan kantornya. Terlebih Sky internet kini merambah banyak para miliarder menginginkan satu titik signal di udara. Sayang, hal itu tak bisa diluluskan perihal keselamatan juga.
Acara selesai. Kini semua pulang ke rumah masing-masing. Anak-anak sudah tidur di mobil. Kebiasaan tidur siang masih diterapkan Terra. Hingga pertumbuhan anak-anak tetap terjaga karena pola istirahat cukup.
"Keluarga kita tambah lama tambah besar. Belum lagi David menikah nanti," ujar Haidar sambil menyetir.
"Ya, memang seperti itu," ujar Terra menimpali.
"Apa benar nanti ketika putra kita berusia tujuh belas tahun, ia harus terjun memimpin perusahaan?" tanya Haidar sedikit takut.
"Aku tak mau Darren menghabiskan waktu remajanya di kursi pemimpin perusahaan," lanjutnya.
"Ya, mau bagaimana lagi, sayang. Daddy Frans sudah kualahan menjalani perusahaan. David tak bisa diganggu karena ia memilih akademi militer ketimbang pengusaha," jelas Terra menyesal.
"Kita awasi saja jika begitu," ujar Haidar.
Terra mengangguk setuju. Pria itu menatap spion tengah mobil. semua anak tertidur lelap. Lalu bibirnya tersungging senyum bangga.
"Mereka semua cepat sekali besar. Aku bahkan masih merasakan Lidya dalam gendonganku," sahut Haidar haru.
"Hmmm ... ya, mereka bahkan jauh lebih bijaksana dari kita," ujar Terra membenarkan.
"Aku akan mengawasi ketat anak perempuan mu terutama Lidya. Hanya pria dengan level di atas rata-rata yang boleh mendampinginya!" ujar pria itu posesif.
Terra terkekeh. Ia yakin saudara laki-lakinya terutama Darren akan melindungi adiknya dari gangguan siapa pun terlebih Rion.
"Jangan khawatir, sayang. Mas ingat ketika Rion membuang bunga dari teman pria Lidya kan?" Haidar mengingat itu.
"Ah, aku nyaris mendatangi rumah anak itu dan mencari ayahnya yang sok jago!" ujarnya kesal.
Terra terkikik geli. Ia juga mengingat bagaimana membujuk suaminya dan meredakan emosi pria itu.
"Aku salut pada putraku Rion. Ah, Babyku mau meminta maaf padahal itu bukan kesalahan," ujar Haidar melunak.
Terra mengangguk. Perjalanan sudah setengahnya. Sebentar lagi mereka akan sampai. ia ingin merebahkan tubuhnya yang penat. Kehamilannya kali ini memang tidak menyusahkan bahkan ia tak merasakan mual di dan ngidam di trimester pertama kehamilannya. Haidar lah yang ngidam dan menyusahkan Budiman kembali.
bersambung.
Yaaa ... gitu deh.
next?