
Virgou mendapati datanya banyak dicuri. Pria itu berang bukan main. Matanya berkilat. Rupanya ia sedikit terlambat memasang chip pelindung data.
Robert Dimitrio asisten pribadinya, memberi tahu lewat sambungan telepon. Kali ini Virgou berada bersama Bart sedang melobby perusahaan Hudoyo grup untuk menjadi partner bisnisnya.
Terra melihat wajah kakaknya yang menyeramkan. Tatapan dingin dan menusuk, bahkan aura membunuh menguar dari tubuh pria itu.
"Grandpa. Apa masih memiliki akses di dunia itu?" tanyanya datar.
Bart yang tahu maksud cucunya itu, hanya mengangguk. Terra langsung menggeleng, ia juga tahu maksud dari kakaknya ini.
"Kak. Ada apa, tolong ceritakan?" tanya Terra.
"Dataku dicuri dan mereka sudah ditangkap. Aku ingin menggorok batang leher mereka di dunia hitam," jawab Virgou dengan mata berkilat.
"Lalu bagaimana dengan datamu? Kau harus mengembalikan itu dulu!" sergah Terra.
"Robert bilang, nanti malam, mereka akan menjualnya di pasar gelap. Apa bisa kita masuk ke sana?" tanya Virgou sedikit ragu.
Pria itu tahu betul kekuatan pasar gelap. Tak ada satupun yang mampu menembus kekuatan pasar tersebut. Para hacker dan IT terkemuka akan berkumpul. Mereka akan berebut data yang dilempar ke pasaran. Lalu menjualnya lagi dengan harga tinggi.
"Te akan coba. Laptop Ayah, sepertinya memiliki jaringan ke pasar itu," ucap Terra.
"Jangan. Rumahmu bisa terlacak. Keselamatan keluargamu adalah prioritas sekarang!" larang Virgou.
"Kak. Kami pernah melewati hal terberat. Kakak tahu kan soal si kembar dari Rusia itu?" Virgou sedikit berpikir. Lalu ia mengangguk.
"Ayolah. Kita punya BraveSmart ponsel. Kita bisa pakai salah satu kegunaannya untuk mengelabui keberadaan kita!" terang Terra.
"Minta ijin dulu sama suamimu, Te!" ingat Bart.
Bahu Terra langsung turun. Wanita itu agak sedikit ragu jika Haidar mengijinkannya. Sekarang, pria itu jauh lebih protektif pada ketiga anaknya dari pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau memasang ekspresi begitu?" tanya Virgou heran.
"Mas Haidar ...."
"Kenapa dengan Mas mu itu?" tanyanya lagi.
"Kemarin dia memarahi Kak Dahlan karena ceroboh menjaga Darren. Padahal Darren jatuh karena berolah raga," jelas Terra sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa bisa jatuh, apa yakin dia jatuh sendiri bukan dijatuhkan kawannya?" tanya Virgou juga ikut marah.
Terra menatap kakak sepupunya itu. Virgou juga sangat memperhatikan ketiga anak itu. Terra akan menjadi tempat dimarahi jika terjadi sesuatu pada anak-anaknya.
"Hah ... sudahlah. Kek kakak nggak pernah jatuh aja waktu kecil!"
"Aku memang nggak pernah jatuh, tapi aku sering dipukuli," sahut Virgou enteng.
"Virgou!"
"Kak!"
Bart dan Terra langsung menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Virgou berdecak.
"Hais, sudahlah. Maaf, bukan itu ... ah ... sudah-sudah!" Virgou makin keki karena ucapannya sendiri.
"Ayo kita pulang, aku sudah lapar. Anak-anak pasti sudah menunggumu," ajak Virgou.
Memang hari ini sudah waktunya pulang. Terra sudah menyelesaikan semua urusan perusahaan. Sisanya ia serahkan pada Rommy dan Aden. Dua pria yang memiliki peranan penting di perusahaannya.
Rommy memegang dua jabatan yakni sebagai wakil direktur dan asisten pribadi Terra. Sedang Aden merupakan asisten dan sekretaris Rommy juga Terra.
Baru saja mereka keluar kantor. Haidar sudah menuju ruangan Terra.
"Sayang, apa kau mau pulang?" Terra mengangguk.
Wanita itu mencium punggung tangan suaminya, takzim. Haidar mengecup pucuk kepala tera. Pria itu lalu mencium punggung tangan Bart dan memberikan hi-five pada Virgou. Bart menyukai cara Terra dan Haidar juga bertemu dengannya, yakni mencium punggung tangannya.
"Mas, nanti malam, boleh nggak kita pesat otak. Mumpung besok hari sabtu," Terra meminta ijin.
"Pesta otak?" Haidar belum mengerti.
Namun kemudian ia ingat tentang pesta otak yang beberapa bulan lalu diceritakan Rommy, asisten istrinya.
"Memang siapa lagi yang mengusik?" tanya Haidar.
"Data perusahaan Black Pristers Steel dicuri. Mereka akan melemparnya di pasar gelap. Kita harus bergerak cepat," jelas Terra.
"Kita nggak akan sanggup membelinya!" seru Haidar. Ia sedikit tahu tentang pasar tersebut.
"Kita lakukan hal yang sama lah. Mencuri data tersebut," sahut Terra enteng.
"Oke, kita lakukan. Aku juga sudah lama tidak pesta otak," ajak Haidar.
"Emang Mas ...."
"Voltage Vampire adalah akunku, sayang," bisik Haidar.
Terra membelalakan mata. Ia mendapat rivalnya bertahun-tahun. Ternyata akun yang menyerang gerbang data miliknya dulu bukan akun Viola, kepala divisi pengembangan IT di PT Hudoyo Cyber Tech miliknya.
Terra baru ingat. Ada dua akun yang menyerang datanya waktu itu. Hanya saja, ia menangkap akun Viola yang merusak pagar data. Padahal, jejak Voltage Vampire masih terbaca, tapi ia melewatinya.
"Oh ya?" Terra menatap pria tampan yang telah menjadi suaminya itu.
Haidar hanya mengedipkan mata.
"Aku tetap kalah denganmu, sayang. Biarkan nanti malam, aku hadir sebagai pengacau saja," bisiknya lagi.
Terra hanya tersenyum. Ia makin jatuh cinta dengan suaminya kini. Setelah tahu, sang suami juga seorang hacker.
Mereka pun pulang ke rumah Terra. Budiman menyupiri dua atasannya itu. Sedang Virgou bersama dengan Bart.
Gea telah dipecat dan kini berada dalam jeruji besi. Ternyata dia menyewa para penjahat untuk menyerang Puspita waktu itu.
Budiman melirik sepasang suami istri yang tengah bermesraan di mobil. Haidar mendapati lirikan Budiman.
"Makanya pacaran. Biar ngerasain ciuman," ledeknya.
Budiman hanya mendengkus. Ia pun menjawab asal.
'Nanti Tuan. Jika Nona Gisel datang, saya akan memacarinya!"
"Apa!" pekik Terra tak percaya.
"Kak Budi mau macarin Gisel?" tanyanya lagi.
Budiman meruntuki bicaranya. Ia menyesal tadi asal menjawab pertanyaan suami dari kliennya itu.
"Bener ya, Kak. Gisel datang, Kakak harus pacaran sama Gisel," sahut Terra lagi.
"Iya, kalau Gisel nya mau," Haidar masih meremehkan Budiman.
"Pasti mau, saya kan tampan," selanya sombong.
"Cis ... pede sekali dia," Haidar berdecih mendengar kepercayaan diri pengawal pribadi istrinya itu.
Budiman hanya tersenyum miring. Haidar makin kesal. Sungguh ia ingin menjitak kepala supir spesial itu.
Satu jam mereka sampai rumah. Mereka disambut dengan senyum manis Lidya.
"Assalamualaikum, cantik," sapa Terra memberi salam.
"Wa'alaitum syalam, Mama, Papa, Om Budi, Glandpa dan Daddy," balas Lidya lengkap.
"Mama!' pekik Rion.
"Baby!' panggil Terra sambil merentangkan tangan.
Virgou akan bersiap mengambil alih bayi itu agar tidak sampai pada ibunya. Ia masih suka menjahili Rion sampai menangis.
Benar saja. Belum sampai bayi montok itu ke pelukan ibunya. Virgou telah menyambar tubub gempal itu dan mengangkatnya ke udara.
"Daddy pulunin Ion pelalan dudha!' pekiknya marah.
"No, before you kissed me!" tolak Virgou.
"No ... Daddy bawu!" tolak Rion.
Karena Rion menolak menciumnya, maka pria itu yang mencium bayi menggemaskan itu hingga terdengar gelak tawa. Lidya juga mau diangkat tinggi-tinggi.
"Daddy, Iya mau dudha!"
Virgou menyerahkan Rion pada Haidar. Lalu mengangkat Lidya tinggi-tinggi. Gadis kecil itu tertawa senang.
"Mama ... Iya telebang!" pekiknya senang.
Haidar mencium Rion, Bart juga mencium bayi itu.
"Mana Kak Darren?" tanya Terra.
"Belum pulang dari syekolah agama, Ma," jawab Lidya setelah diturunkan oleh Virgou.
"Baiklah," ucap Terra. "Mama dan lainnya bebersih dulu ya. Kalian main lagi."
"Iya, Mama," sahut mereka berdua.
Bart menggunakan kamar tengah untuk mandi. Bajunya juga ada di kamar itu. Sedang Virgou memakai kamar mandi Darren, ia memakai baju milik Frans yang sengaja ditinggal.
Frans belum kembali dari Eropa. Ternyata membuat surat legilasi cukup dipersulit. Hingga membutuhkan waktu lebih lama.
Darren pulang dengan mobil golf yang disupiri oleh Dahlan ada tiga pengawal yang mengikuti pria kecil itu.
"Assalamualaikum," ucapnya sebelum masuk rumah.
"Wa'alaikum salam, Tuan muda," balas Budiman.
"Om, Darren masuk dulu ya,' pamitnya.
Budiman mengangguk. Wajah lelah Darren sangat ketara. Ia begitu banyak mengikuti ekstrakurikuler di sekolahnya.
Tepat ia masuk Terra sudah selesai dengan mandinya. Ia pun melihat wajah lelah putranya. Terra sedikit khawatir.
"Sayang, kau lelah sekali."
"Assalamualaikum, Ma," ucapnya memberi salam dan mencium punggung tangan ibunya.
Terra menjawab salam Darren lalu memberinya kecupan di keningnya. Darren memeluk ibunya.
"Kenapa, sayang, ada masalah?" tanya Terra lembut.
"Ma ... lihat ini dulu deh," ujar Darren lalu melepas ranselnya.
Pria kecil itu mengambil ponsel ciptaannya. Lalu menyalakannya, menggulir layar datar, kemudian ia perlihatkan pada ibunya.
"Sayang. Kau baru saja meretas data akun Chaosaurus?'
bersambung.
Et dah ... kenapa sih otak mereka nggak jauh dari hacker?
next?