TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERLIBUR KE EROPA



Darren lulus dengan nilai tertinggi pertama. Terra begitu bangga dengan putra sulungnya itu. Wanita itu berkali-kali memberi pujian padanya.


Sesuai janji Terra ia akan berlibur selama sebulan penuh di negara kakeknya, Bart. Ia sudah mengajukan cuti jauh hari sebelumnya. Virgou dan Herman juga ikut serta mengajak anak dan istrinya pergi bersama Terra.


Menaiki tiga jet pribadi. Herman pun memiliki satu jet komersil. Terra, menumpang pada jet milik Rion yang dihadiahkan Virgou. Sedang Virgou menaiki jet pribadi yang sudah lama ia miliki.


Ketiga keluarga itu pun pergi bersama para pengawal mereka. Budiman, Dahlan dan Fendi ikut rombongan Terra.


Gomesh, Fadlan dan Rio ikut rombongan Virgou Sedangkan Juno, Gio dan Reza ikut rombongan Herman.


Puspita dan Khasya sudah melahirkan dua bulan lalu. Jadi mereka tidak masalah untuk berpergian bersama bayi-bayi mereka. Khasya melahirkan seorang putra dan Puspita melahirkan kembar sepasang.


Hanya butuh delapan jam, mereka sampai di Eropa. Musim gugur telah berlalu, akan berganti musim semi. Mereka dijemput dengan Limosin dan dua Jeep hitam.


Begitu sampai di mansion Bart untuk pertama kalinya. Terra begitu takjub. Bangunan itu bukan mansion tetapi mirip kastil. Mewah dan terkesan sangat eksklusif.


Ketika masuk. Terra terperangah dengan semua kemewahan yang disajikan. Lampu gantung kristal yang berkilauan efek cahaya matahari. Guci-guci cantik dan sofa-sofa mahal. Rion dan anak-anak berlarian.


"Hai ... hati-hati!" teriak Terra khawatir.


"Duh, pecah guci satu, Mama nggak bisa ganti," keluh Terra panik.


Virgou memutar mata malas. Sifat Terra yang menurutnya kadang tidak lihat status itu membuatnya sedikit kesal.


"Te, kamu bisa beli sepuluh guci itu dengan mata tertutup!" sahut pria itu kesal. "Ingat, kamu baru beli mobil yang hanya ada dua ratus unit di dunia!"


Terra terkekeh. Ia hanya sedikit takut saja. Bart turun setengah berlari dari tangga. Terra menghampirinya. Mereka berdua saling berpelukan erat.


"I miss you so much!" ungkap Bart.


"Miss you too," sahut Terra.


"Mana anak-anak?"


Terra menunjuk taman belakang. Mereka semua bermain ayunan. Bart memilih mendatangi para bayi yang baru lahir. Menggendong anak Herman terlebih dahulu.


"Hi, Boy, what's your name?"


"Dimas Baskara Triatmojo," jawab Herman dengan nada bangga.


"Hi, Dimas," Bart menciuminya hingga bayi itu menggeliat lucu.


Pria tua itu meletakan bayi itu kembali dalam stroller. Ia pun mendatangi Virgou dan memeluknya. Mencium kening Puspita. Melakukan hal sama pada dua bayi sepasang mereka.


"Yang perempuan bernama Maisya Ainun Black Dougher Young," ujar Virgou memberi tahu nama putrinya.


"Ah, Mai. Look like your grandmom's name," sahut Bart.


"Yang satunya bernama Affhan Ali Black Dougher Young," sahut Virgou lagi.


"Hi, Affhan, you look like you brother Rion!" seru Bart.


"Of course. Terra jadi korban karena dia," sahut Virgou.


"Hei, Te nggak keberatan!" sela Terra memprotes.


Bart memanggil para maid. Menyuruh semua untuk ke kamar mereka masing-masing. Maid pun mengantar semua orang dewasa dan tiga bayi ke kamar.


Bart pergi ke taman. Di sana ia langsung diserbu anak-anak. Pria itu nyaris jatuh jika tidak hati-hati.


"Hei, calm down!" seru Bart lalu tertawa.


"Benpa ... Limbi sayang Benpa!"


"Daud judha!"


"Nai judha!"


Dan semua anak mengatakan hal sama. Darren dan Lidya memeluk Bart dengan gemas. Pria itu mencium pucuk kepala keduanya.


"Selamat Dar. Kamu juara umum," ungkapan selamat dari Bart.


"Terima kasih, Grandpa!" sahut Darren senang.


"Kamu juga girl. Selamat naik kelas dua ya," Lidya mengangguk senang.


Rion tersenyum lebar, hingga kelihatan gigi kelinci. Putih dan rapi juga kecil-kecil.


"Kamu nanti sudah mau TK," ujarnya. Rion menggeleng.


"Ion langsung SD kelas satu Glandpa!" ujarnya sombong.


"Hei, mana boleh begitu!"


"Boleh lah. Ion eunda mau masuk sekolahnya anak kecil," jelas Rion serius.


Darren hanya geleng-geleng kepala. Sedang Lidya hanya tersenyum mendengar jawaban adiknya.


"Benpa. Cal papal mawu patan!" pinta Calvin sambil memegang perutnya.


Bart yang tak mengerti apa kata Cal menoleh pada Darren.


"Baby Cal lapar, Grandpa," ucapnya menterjemahkan perkataan Cal.


"Ah, baiklah. Ayo kita ke meja makan. Di sana ada roti bakar selai, ada spaghetti juga kentang goreng," ajaknya.


Semua anak pun mengikuti kakek mereka ke ruang makan. Bart sudah menyiapkan semua kursi khusus bayi. Para maid menghidangkan makanan untuk mereka.


"Pidat pada masi polen?" tanya Satrio.


"Makan yang ada Baby," sahut Rion tegas.


"Oteh," ujar Satrio menurut.


Bart ternganga. Begitu kuatnya kah pengaruh Rion pada semua adik-adiknya. Semuanya menurut padanya.


Kedua orang tua mereka turun. Para bayi ditinggalkan karena sudah tertidur. Semuanya ikut sarapan.


"Frans dan Leon akan datang sebentar siang," ujar Bart.


Semuanya pun makan dengan tenang. usai makan. Mereka duduk di teras belakang. Halaman luas dengan banyak pohon Cemara.sebagai pagarnya. Para pengawal berkeliling menjaga.


"Gisel besok datang, ia baru saja menyelesaikan sidang skripsinya," ujar Terra. Bart mengangguk.


"Apa Budiman belum selesai masa tugasnya?" Terra menggeleng.


"Satu tahun setengah lagi, Grandpa," jawab Terra. Bart mengangguk.


"Aku hanya ingin, begitu dia bebas tugas. Ia segera menikahi Gisel. Aku sudah terlalu tua, aku ...."


"Grandpa ... jangan katakan hal-hal sedih lagi, Oke. Kita harus happy!' sela Virgou.


Bart tersenyum. Herman dan Haidar tengah bermain dengan anak-anak mereka. Gelak tawa terdengar. Virgou pun ikut menyambangi.


Bart menatap tiga wanita yang menjadi sumber kebahagiaan keluarganya. Herman yang merupakan anak besannya. Ia sudah anggap seperti anaknya sendiri.


Para maid datang mengatakan bayi-bayi terbangun. Puspita dan Khasya pamit ke kamar. Bart mengangguk.


"Te," Terra menoleh.


"Kau tahu, Frans, Leon dan Virgou sudah setuju, kau dan tiga adikmu mendapat warisan yang banyak dariku. Aku tak mau ketiga cucuku itu menggangu harta Pratama. Biar bagaimanapun mereka adalah Dougher Young," jelas Bart panjang lebar.


Terra menggenggam tangan Bart erat lalu mengecupnya. Wanita itu tersenyum.


"Terima kasih, Grandpa," ungkapnya tulus.


"Sama-sama, sayang dan maafkan aku."


Keduanya berpelukan erat. Andai waktu bisa diulang. Tetapi Bart memilih, waktu tidak terulang, ia merasa bahagia sekali saat ini.


bersambung.


duh ... maap yaa ... mata othor agak burem jd kalo ada typo jangan dimarahin yaa.


mungkin juga hanya satu episode saja yang othor tulis. Tetapi bisa jadi 3 episode... tp klo cm satu jangan marah yaaa.


next?