
Sudah satu minggu ini, Romlah jatuh sakit. Padahal wanita itu sudah Terra bawa ke rumah sakit berkali-kali. Dokter mengatakan jika tidak ada penyakit yang berbahaya di tubuh wanita itu.
"Mungkin, pasien terlalu lelah. Rawat inap saja ya, bagaimana?" saran dokter.
"Mau ya Bi," pinta Terra. Ia sangat sayang dengan Romlah. Wanita ini selalu bersama ketika ia masih kesulitan dulu.
"Nggak ah, Nyah. Kalo cuma kecapekan mending saya istirahat di rumah saja," tolak Romlah langsung.
"Bik, di sini ada yang merawat dan semua tau masalah kesehatan. Jadi, Bibi akan lebih terjamin lagi. Mau ya," bujuk Terra dengan sendu.
"Nggak mau, Nyah. Mending saya di rumah aja," ujarnya tetap menolak.
Akhirnya dokter memberinya resep vitamin saja. Terra juga langsung menyuruhnya beristirahat dengan baik.
"Bi Ani, jagain BI Romlah y," pinta Terra.
"Iya, Nyah," sahut Ani langsung membawa saudara sepupunya itu ke kamar.
Gina membantu Terra menyiapkan makanan. Sedang Juni dan Wati menyetrika pakaian. Terra juga memiliki asisten rumah tangga yang pulang pagi dan datang sore. Mereka yang mencuci sebagian pakaian rumah dan menyetrikanya. Karena pekerjaan itu yang paling banyak.
Usai membagi makanan untuk para pengawal. Terra menyusun makanan. Nai dan Lidya datang membantu ibunya.
"Nai dan Kak Iya bantu ya, Ma."
"Makasih ya, sayang," ujar Terra berterima kasih pada dua putrinya.
"Sama-sama."
Ibu dan anak itu pun menyusun piring. Hari ini hari minggu, jadi tidak ada anak-anak lain selain Darren, Lidya, Rion, Nai, Sean, Al, Daud, Rasya dan Rasyid. Semua pria tengah asik Bermain.
"Ma, BI Romlah tadi sakit apa?" tanya Lidya setelah meletakkan piring di meja.
"Kata Dokter sih kelelahan, tadi di suruh rawat inap nggak mau," ujar Terra sendu.
"Kalo, Lidya udah dokter aja, mau deh Lidya periksa setiap hari, Bik Romlah," ujarnya.
"Sayang belum ada. jadi nggak boleh, takut nanti Iya disangka malpraktek," lanjutnya menjelaskan.
Terra hanya tersenyum. Setelah itu, kini mereka memanggil semua pria untuk makan siang.
"Cuci tangan dulu!" titah Lidya.
"Bait Bu doptel!" sahut Rasya dengan tubuh tegap.
Entah, kenapa Rasya dan Rasyid yang sudah lima tahun masih membawa bahasa bayi mereka. Padahal, waktu Affhan, Maisya dan Dimas seusia mereka. Ketiga anak itu sudah fasih berbicara.
Usai makan, Terra pergi ke kamar Romlah. Wanita itu tertidur dengan wajah sedikit pucat. Terra mengusap pelan wajah Romlah. Wanita yang sudah bersamanya ketika Terra berusia belia. Bahkan, ketika Terra tengah dilanda kesusahan dengan tiga anak titipan mendiang ayahnya , wanita itu selalu di sisinya. memberi kekuatan dan cinta kasih. Bagi Terra Romlah adalah ibu ke-duanya.
"Sehat-sehat ya, Bi, jangan sakit lagi. Terra sayang Bibi," ucap Terra lalu mencium kening Romlah.
Tampak napas teratur terdengar, rupanya dokter juga memberikan obat tidur agar wanita itu terhindar dari stress akibat penyakitnya yang tidak ketahuan itu. Terra sudah mengecek darah perempuan usia empat puluh tahun itu ke lab tadi. Besok pihak lab akan memberikan hasilnya.
Lidya tertegun ketika masuk kamar, Romlah. Jantungnya berdetak begitu kencang, bahkan napasnya sedikit tersengal. Gadis itu buru-buru keluar dan menetralkan apa yang baru saja ia lihat.
"Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih.!"
"Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Setelah gadis itu berhasil menenangkan diri, baru lah ia kembali masuk kamar. Sungguh Lidya begitu sedih melihat wajah pucat yang dulu selalu menggendongnya. Bahkan, ia pernah mengusili wanita itu. Merias wajahnya nyaris seperti badut.
Lidya mengusap dan mencium Romlah. Lalu, ia pun membiarkan Romlah beristirahat. Terra, menatap anak gadisnya. Melihat wajah Lidya yang begitu sedih membuat Terra menjadi khawatir.
"Ma ...," sahut Lidya.
"Tidak, Nak. Itu tidak mungkin," Terra menolak kenyataan.
"Ma, apa yang Iya rasakan belum tentu terjadi, kita berdoa saja, ya," ujar Lidya.
Terra pun mengangguk. Ia akan berdoa untuk kesembuhan wanita itu.
Waktu berlalu. Malam pun datang. Romlah kembali terbatuk. Ani langsung menyodorkan air minum hangat. Romlah menolak. Tiba-tiba, ia pun demam tinggi. Ani panik bukan main.
Wanita itu langsung keluar kamar, dan berteriak.
"Nyonya, Tuan tolong!"
Terra yang baru saja mengaji dan menutup al-qur:an, terkejut. Haidar sedang di kamar mandi. Usai shalat ia langsung pergi ke kamar mandi.
Terra yang mendengar teriakan Ani, langsung turun ke bawah tanpa membuka mukenanya. Wajahnya sudah pucat. Ia menghilangkan semua pikiran buruknya.
"Ada apa Bi?" tanya Terra.
"Mba Rom ... Nyah ... Mba Rom!' ujarnya sambil tergugu-gugu.
Ani mulai menangis. Terra masuk ke kamar. Lalu memangku kepala wanita itu. Teraba olehnya suhu tubuh Romlah yang sangat tinggi. Terra mulai membisikkan kalimat syahadad di telinga wanita itu.
Bagaimana, Terra menahan semua degup jantungnya yang mulai kacau. Ia berusaha sebisa mungkin membimbing Romlah untuk mengucap kalimat syahadad tersebut.
Haidar yang tak mendapat istrinya di kamar lalu mencarinya. Bersamaan dengan, Darren, Lidya dan Rion. Sedang anak-anak lain sudah terlelap dari tadi.
"Ada apa, Pa. Kok nyari Mama?" tanya Rion aneh.
"Tadi, Papa ke kamar mandi, Mama kalian masih ngaji, eh pas keluar Mama nggak ada," jawab Haidar.
"Oh, mungkin ada di bawah," sahut Darren lalu ia turun, diikuti oleh Haidar, Lidya dan Rion.
Keempat orang beda usia itu heran ketika melihat Ani tengah menangis, ditemani oleh Gina dan Beno juga Juni dan Wati. Semuanya menangis. Lidya langsung memegang tangan ayahnya.
Haidar menatap putrinya. Melihat wajah anak gadisnya pucat dan kosong seketika. Pria itu langsung tau apa yang terjadi. Rion dan Darren langsung masuk ke kamar dan melihat, ibunya tengah membisikan kalimat syahadat di telinga Romlah.
"Kak!" panggil Rion dengan suara tercekat.
"Kita keluar, yuk. Biarkan Mama mengantar BI Romlah pergi," ajak Darren dengan suara tersendat. Pemuda itu menahan air mata yang hendak tumpah.
Tak, lama Terra keluar dengan tubuh lemas. Ia nyaris saja jatuh jika Darren tak langsung membopong tubuh ibunya.
"Ma ...," panggilnya.
Terra masih bungkam. Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia lewati. Wanita itu masih menenangkan dirinya. Lalu menatap semuanya dengan pandangan sedih.
"Innalillahi wa innaa ilayihi raajiuun. , Bibi Romlah, baru saja meninggal dunia lima menit lalu," jelas Terra dengan suara yang sangat berat.
Air mata semuanya lolos. Kepala mereka menunduk. Wanita, baik hati itu telah pergi menghadap ilahi. Dengan sejuta kenangan. Di mana air mata Terra tumpah di pangkuan perempuan itu.
Bersambung.
innalilahi wa Inna ilayihi radjiun ... selamat jalan Bik Romlah .. 😭
next?