TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DATANGNYA PRIA-PRIA POSESIF



Mendapat telepon jika Lidya nyawanya terancam, membuat tiga pria sangat berang. Ketiga pria itu meminta orang-orang kepercayaannya menjaga seluruh keluarga.


"Bud ... jaga semuanya di sini. Soal Lidya, biar kami para ayah yang membereskannya!" titah Haidar.


Terra menangis setiap mengingat keadaan adik yang menjadi anaknya itu. Haidar terus menenangkan istrinya.


"Sayang, aku janji akan membawa pulang Lidya dengan tanpa kurang dari apa pun. Jaga anak-anak kita semua ya," pinta pria itu.


Sedang Virgou memberi perintah pada Gomesh dan Dav untuk menjaga semuanya. Resepsi pernikahan kedua Dav tertunda karena kehamilan Seruni yang ternyata membuatnya sangat lemah dan mual berlebihan.


"Gomesh jaga semuanya, aku akan membawa putriku pulang!"


"Siap Tuan!" sahut Gomesh.


"Dav, aku percaya kan semuanya padamu!" lanjut pria beriris biru itu.


"Siap Kak. Bawa adikku pulang!" ucapnya.


"Doakan, semoga dia baik-baik saja," pinta Virgou.


Herman menatap istrinya yang menangis mendengar jika Lidya dalam bahaya besar. Bahkan nyawanya terancam.


"Mas," panggilnya lirih.


"Sayang, kita pergi dan kau menginaplah di rumah Terra ya. Kau akan tenang di sana. Doakan aku bisa membawa putrimu utuh," pinta pria itu.


"Aamiin, Mas. Jaga kesehatan dan jangan lupa shalat ya," pinta wanita itu.


"Iya, sayang," ujar Herman mengecup kening sang istri.


Kini semuanya berada di rumah Terra. Mereka saling berpelukan. Darren dan Rion juga tak berhenti menangis memikirkan keselamatan Lidya.


"Papa percayakan semua pada kalian. Darren, kau yang lebih tua dari semua adik-adik mu. Lindungi mereka!" titah Haidar.


"Rion, Jaga Mama dan semuanya ya," pinta Herman mengelus kepala remaja yang berusia lima belas tahun ini.


"Iya, Ayah!" angguknya lalu mengusap air matanya.


"Bawa Ata' Iya pulan ya Papa!" sahut Kaila membuat semuanya jadi sedih.


"Iya, Baby, kalian semua nurut sama Mama ya!" titah pria itu.


Semua anak mengangguk. Mereka akan berdoa untuk keselamatan ayah-ayah mereka dan juga Lidya, kakak mereka.


"Budi, Gomesh, Juno, Robert!" panggil Virgou.


"Saya Tuan!' sahut mereka serempak.


"Jaga semuanya, nyawa kalian taruhannya!"


"Siap Tuan!" sahut mereka tegas.


Ketiga pria itu pun pergi setelah mengucap salam. Terra lemas, Puspita, Gisel, Seruni, Dan Khasya saling berpelukan. Sedang Maria juga mendoakan semuanya bisa pulang dan membawa nona kesayangan semuanya.


Tanpa, pengawalan ketat, ketiganya sudah sampai bandara. Di sana ada Bram yang menunggu.


"Pa!" panggil Haidar.


"Bram!" panggil Herman.


"Kalian datang akhirnya. Aku ikut, sekalian memang ada pekerjaan penting di sana," ucapnya dengan wajah tegang.


Bram memang masih aktif membantu putranya juga Rion dalam bekerja.


"Mama mana?" tanya Haidar.


"Karina dan Zhein menjaganya, juga Raka dan istrinya. Kau tau, jika Ibumu sering terbangun karena mimpi buruk tentang Lidya!" terang Bram dengan nada gusar.


"Ya, sudah, ayo kita berangkat. Aku sudah tak sabar ingin sampai!" ajak Virgou tak sabaran.


Keempat pria itu pun bergegas naik jet pribadi milik Bram. Pria itu baru saja membeli jet pribadi baru. Butuh waktu tak kurang dari delapan jam. Mereka berangkat jam tujuh pagi. Maka mereka sampai jam tujuh pagi waktu setempat.


Pengawal Bart akan menjemput mereka. Dalam perjalanan mereka pun tidur untuk merehatkan tubuh.


Ketika sampai, mereka sudah ditunggu oleh dua mobil sedan mewah. Gio dan Juan bersama mereka.


Lidya belum tahu jika kakek dan ketiga ayahnya akan datang. Ia masih berkutat dengan jurnal dan berkas para pasien yang akan ia obati nanti.


Lidya terkejut bukan main. Ia mendapat empat pria kesayangannya. Gadis itu memekik kegirangan hingga melompat dan menerjang ayahnya.


"Papa!"


Virgou mengacak rambut gadis yang kini berada dalam gendongan ayahnya. Sedang Herman hanya tertawa begitu juga Bram.


"Kakek juga ke sini?" tanyanya lalu turun dari gendongan Haidar.


"Iya, sayang. Kakek ada urusan pekerjaan, biar hemat budget, Kakek akan menyusahkan Grandpa mu," seloroh Bram.


Bart yang bangun karena mendengar pekikan Lidya juga terkejut melihat empat pria itu.


"Kalian datang?" tanyanya sambil memutar mata malas.


"Kalian pikir aku tak bisa menjaga Lidya?!" tanyanya sengit dan merasa tersinggung.


"Bukan begitu Dad," sahut Herman.


"Kami hanya ingin meyakinkan diri jika putri kami baik-baik saja," lanjutnya santai.


Bart hanya menghela napas panjang. Sedang Frans, Leon dan Gabe hanya terkekeh. Widya dan anak-anak sangat senang rumahnya dipenuhi orang.


"Tate!" panggil Ella, Tian dan Bill pada Bram.


Bram lalu menciumi semua balita, begitu juga Haidar, Virgou dan Herman.


"Mana bayi kalian?" tanya Bram pada Gabe dan Widya.


"Ada di kamarnya, Pa," jawab Widya.


"Ibu juga ada di sini. Tapi sepertinya beliau masih di kamarnya," lanjutnya.


"Sudah biarkan keduanya. Aku juga masih ingin istirahat dulu," ujar Bram.


"Oh ya sayang, jam berapa kau memberikan sesi healingmu?" tanyanya pada Lidya.


"Masih besok pagi, Kek," jawab Lidya.


Akhirnya para pria itu pun beristirahat di kamar mereka masing-masing. Lidya senang dan bahagia, ia memang tak pernah takut dengan semua ancaman yang ditujukan padanya.


"Segala daya upaya manusia, hanya kehendak Allah lah yang jadi," ujarnya berpasrah.


Hari berganti. Kali ini Lidya ditemani oleh ketiga pria paling ia sayangi. Didampingi oleh beberapa bodyguard selain Gio, Juan dan Hendra.


Sedangkan Demian kini makin sibuk dengan perusahaan juga belajarnya mendalami Islam. Ia tak mau setengah-setengah masuk dalam ruang lingkup baru, bahkan Jacob juga kini mendatangi guru ngaji. Ia ingin sekali bisa mengaji.


Dominic yang memang bekerjasama dengan perusahaan Bram Pratama itu, baru tahu jika Bram adalah ayah dari suami Terra yang mengurus Lidya.


"Jadi Dokter Lidya adalah cucu anda?" tanyanya lagi tak percaya.


"Iya, Lidya cucu saya!" tekan Bram.


"Maaf Tuan, Bram. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Lidya, kenapa dia bisa mengalami trauma yang begitu besar. Secara jika dilihat semua orang menyayanginya?" tanya Dominic ingin tau.


Bram menghela napas panjang. Ia pun menceritakan apa yang dulu Terra dan Darren kisahkan. Sepanjang pria itu bercerita. Dominic berulang kali menahan amarahnya. Tangannya berkali-kali mengepal kuat, rahangnya mengeras karena gigi beradu.


Lalu sejurus kemudian ia menahan tangis mendengar betapa menderitanya Lidya yang menyaksikan kakaknya disiksa oleh ibunya sendiri.


"Firsha sudah meninggal di tempat dalam kecelakaan tunggal itu," jelas Bram kemudian. "Jenazahnya baru dikebumikan setelah lima bulan menjadi bahan percobaan di sebuah universitas kedokteran."


"Ah ... boleh kah aku bersyukur atas apa yang dialami jenazah perempuan keji itu?" tanya Dominic sambil menghela napas lega.


Bram tersenyum datar. Ia juga ingin sekali mengucap syukur atas penderitaan jasad seorang ibu yang kejam pada anaknya itu.


Sementara di tempat Lidya. Seorang pria memaksa diri untuk minta disembuhkan.


"Anda tidak mengalami apa-apa, anda sehat!" tolak Lidya.


"Anda harus memeluk saya Dok, harus!' pekik pria itu lalu menyambar tubuh mungil Lidya.


Bersambung.


ah ...


next?