TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PULANG



Haidar dan Terra kini berada di kamar mereka, bersama tiga anaknya. Rion masih mengoceh, begitu juga Lidya ternyata dua balita itu saling mengobrol.


Kamar dengan dua ranjang besar. Sweet room presidensial. Khusus untuk Terra dengan dua ranjang besar.


"Ata' Iya, padi Mommy Ita pantit ya," ucap Rion mengingat pengantin wanitanya.


"Iya nanti talau besal mau cantitnya taya Mama don," sahut Lidya.


"Mama!" panggil Rion.


"Iya Baby," sahut Terra langsung merebahkan diri di sisi bayi itu.


"Mo tutu," pintanya dengan nada memohon.


Terra gemas lalu mencium pipi gembul Rion. Darren sudah tertidur. Kadang ia merengek karena dua adiknya masih berisik.


"Heemm ... diem sih Dek ... kakak ngantuk nih," rengeknya.


"Pidul syaja Tata Dallen pita tat belisyit tot!' ujar Lidya lalu membelai rambut kakak laki-lakinya.


Darren langsung terlelap. Terra memberi gelas khusus untuk Lidya meminum susunya. Rion sudah terlelap dengan dot di mulutnya. Lidya pun tertidur setelah susu di gelasnya habis.


Terra mengambil dot dan gelas susu kedua anaknya. Ia pun segera merebahkan tubuhnya. Haidar pun merebahkan diri di belakang istrinya.


Satu minggu dia sudah berpuasa lahir. Pria itu memulai aksinya. Terra menikmati aksi suaminya.


Walau dilakukan secara hati-hati dengan lampu temaram. Sesi percintaan mereka cukup panas. Karena harus melakukannya dengan tenang.


Sedang di kamar pengantin. Virgou mengerang karena kesulitan menjebol gawang lawan. Sudah tiga jam ia melakukan berbagai cara. Tapi, dinding kokoh itu sulit diterjang.


Dengan semangat juang tinggi. Pria itu menghentak intinya. Lalu.


Sret!


"Aarrghh .. sakit, Mas!" rintih Puspita diiringi lelehan darah dari **** *************.


Satu titik air bening mengalir. Ia sudah tidak suci lagi. Dan pelaku utamanya adalah sang suami. Virgou nampak berkeringat. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Padahal pendingin ruangan bekerja dengan baik.


Irama mulai mengalun diiringi helaan deru napas keduanya. Puspita langsung menikmati permainan suaminya. Ia pun ikut berdansa bersama.


Hingga dansa itu menjadi gerakan disko. Saling menghentak dan mengerang. Virgou begitu sangat menganggumi tubuh istrinya. Hingga titik yang ia capai datang dengan gelombang dahsyat. Cairan pria itu memenuhi rahim Puspita.


Tubuh Virgou ambruk di sisi istrinya. Napasnya terengah-engah. Puspita merangsek dalam pelukan suaminya. Virgou mencium pucuk kepala sang istri mesra.


"Terima kasih, sayang. Kau menyerahkan dirimu seutuhnya dengan pria brengsek yang menjadi suamimu ini," ungkap Virgou penuh ketulusan.


"Jujur, Mas. Dari dulu pertama kali aku melihatmu. Aku langsung ingin menyerahkan keperawananku. Siapa sangka jika keinginanku terkabul, hanya bedanya aku jadi istrimu," jelas Puspita.


"Benarkah?' Ita mengangguk.


"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu," ungkap Virgou tulus.


"Sayang," panggil Virgou setengah merengek.


"Iya, Mas," sahut Ita mesra.


"Mau lagi ... dedeknya bangun lagi nih," rengek pria itu sambil menunjukkan sesuatu di bawah.


Puspita terkekeh. Ia mencium suaminya.


"Ita adalah milik Mas Virgou, jadi selagi Ita kuat dan mampu. Pantang bagi seorang istri menolak keinginan suaminya," sahut Ita mempersilahkan Virgou menikmati hidangan halalnya.


Keduanya kembali menyatu. Saling meluapkan cinta. Tak ada larangan karena keduanya dalam ikatan suci pernikahan.


*******************


Hari berganti pagi. Semuanya kini sudah mulai chek out dari kamar masing-masing. Mereka pulang ke rumah juga masing-masing. Bart kembali ke mansion Virgou begitu juga lainnya.


"Sudah saatnya aku membeli rumah sendiri di sini," ujar Bart.


"Kenapa Grandpa? Grandpa bisa tinggal di sini," ujar Puspita.


Mereka sudah sampai mansion besar itu. Rasanya sepi jika tidak semua harus pindah. Bart menolak usul Puspita.


Ya, wanita itu kini sudah diboyong oleh Virgou ke mansion pribadinya. Pria itu sudah menyiapkan semuanya. Bahkan baju-baju Ita pun ia yang membelinya.


"Kalian sudah berumah tangga. Tidak baik jika ada ipar tinggal satu atap denganmu. Itu yang aku baca di sebuah kajian agama kalian," jawab Bart beralasan.


Puspita pun mengangguk.


"Lalu Grandpa sudah punya rencana?" tanya Virgou sambil merangkul pinggang kecil istrinya.


"Bram sudah mendapatkan rumah dekat tempat Terra. Aku suka dengan suasana di sana," jawab Bart lagi.


"Baiklah. Apa sudah cocok?"


"Aku belum lihat, tapi Gabe bilang rumah itu cukup besar dan lokasinya dekat jalan raya," jawab Bart.


"Oteh ... nanti kita ke sana ya. Sekarang sementara kalian tinggal di sini," ujar Virgou kemudian.


Bart mengangguk. Frans dan Leon akhirnya bernapas lega. Mereka sudah tidak sungkan jika memiliki tempat sendiri.


Dua hari setelahnya. Ternyata Bart sangat menyukai tempat itu dan langsung membelinya, tanpa pikir panjang.


Kini mereka sudah pindah dan memiliki sepasangan suami istri dengan putranya ikut bekerja bersama. Hanya bebersih dan menata halaman. Untuk masak. Mereka akan mendatangi Terra. Atau Terra mengantar makanan untuk Kakek, dua paman dan juga kakaknya. Empat bujangan tinggal satu atap. Ayah, anak dan cucu. Nantinya rumah itu Gabe yang menempati. Karena Bart, Frans dan Leon akan pulang kembali ke negara mereka.


bersambung.


duh maaf ya... part ini dikit. soalnya othor agak pusing.


next?