
Kehamilan Terra memasuki bulannya. Ia sebentar lagi akan melahirkan. Sekarang ia sudah berada di rumah sakit. Lidya dan Darren baru berulang tahun tiga bulan lalu.
"Mas, anak-anak di mana?" tanyanya khawatir.
"Ada bersama Daddy mereka sayang," Jawab Haidar.
"Mereka, nggak rewel kan? Nggak nyusahin Kak Virgou?" tanya Terra lagi.
"Tidak sayang. Malahan mereka bertiga maunya sama Daddy mereka ketimbang sama Mama. Mama sampai ngambek tuh," jawab Haidar sambil terkekeh.
Terra tersenyum kecut. Memang selama kehamilannya, jika bukan Virgou ya Herman. Ketiga anak itu hanya dekat dengan mereka.
Terra berkali-kali mengernyit. Kontraksinya makin sering. Tak lama kemudian dokter wanita berhijab datang bersama para suster. Dokter itu memeriksa letak janin, dengan tangannya.
"Letaknya sudah bagus. Bunda bisa melahirkan normal, tapi jika ragu Cesar juga tidak apa-apa," jelas dokter kemudian tersenyum ramah.
"Mas, kita sudah bicarakan sebelumnya," ujar Terra meminta ijin. Ia ingin lahir normal.
"Aku takut, sayang," sahut Haidar.
Pria itu ingat masa-masa kehamilan Terra, istrinya. Justru Haidar yang mengalami morning sickness. Ngidam bikin Budi pusing tujuh keliling. Pria itu selalu mengajak pengawal istrinya itu jalan-jalan malam cari rujak atau buah kelengkeng. Budiman sampai harus mengacak-acak pasar induk di pagi buta hanya mencari kelengkeng. Setelah dapat. Haidar hanya memakan satu buah saja.
Pria itu kembali ingat saat ia menyuruh Budiman memasak nasi goreng untuknya. Beruntung pengawal Terra yang tampan itu piawai memasak. Jadi tak masalah. Masa trimester pertama kehamilan Terra. Sang suami lah yang merasakan mual dan pusing. Sedang Budiman menjadi sasaran Haidar.
"Mungkin, sebaiknya Bunda menurut kata suami. Beliau khawatir, karena bayi ini lebih dari dua," Tiba-tiba saran dokter membuyarkan lamunan Haidar.
Akhirnya Terra mau dioperasi cecar. Padahal ia yakin bisa melahirkan secara normal,
Terra dibantu Haidar untuk membungkuk sembilan puluh derajat. Begitu sakit dan nyeri ia rasakan. Air matanya menetes karena begitu sakit dan sesak.
Terra dibaringkan di brangkar. Dokter menutup tirai. Haidar menenangkan Terra. Perut Terra dibedah selapis demi selapis. Ada tiga dokter yang menangani proses persalinan cecar ini. Sesekali wanita itu merasa mual ketika merasa perutnya diaduk. Tak lama terdengar suara tangisan bayi begitu kencang. Terra terharu. Haidar mencium pucuk kepala istrinya.
"Boleh dibuka kain di dada bunda, Ayah," pinta salah satu dokter.
Haidar membuka kain yang menutup dada Terra. Bayi itu diletakkan di atasnya. Terra menangis haru.
"Ini Baby girl, Bunda," jelas dokter.
Kepala bayi itu bergerak. Pucuk dada Terra yang menghitam dan pinggirannya memutih itu menjadi incaran sang bayi. Dihisapnya kuat hingga Terra meringis.
"Alhamdulillah, semuanya sehat dan tidak kurang dari apa pun," jelas dokter lagi.
Ke empat bayi itu kini sudah bersih dan di masukkan ke dalam inkubator. Ukuran mereka yang kecil. Membuat mereka harus berada dalam kotak pemanas itu.
Tiga jam berlalu. Satu persatu keluarga berkunjung. Khasya dan Herman datang dengan sepasang anak kembar mereka yang sudah mulai lincah dan pintar.
"Selamat, sayang. Mereka cantik dan tampan-tampan sekali," puji Khasya menatap bayi-bayi itu.
"Tata Tella. Dedetnya puat Iyo dan Alimbi ya," pinta Satrio memohon.
"Hmm ... jangan Kak. Baby masih suka ngompol," sahut Khasya meledek anaknya.
Kanya datang membawa banyak baju bayi juga stroller khusus bayi kembar. Mereka langsung menggendong bayi-bayi lucu itu. Herman dan istri juga anak-anaknya pamit pulang. Tak lama tiga anak Terra datang bersama Daddy mereka.
Hiruk pikuk di ruang perawatan Terra terdengar hingga membuat pasien lain terganggu. Tapi, siapa yang berani menegur pemilik rumah sakit ini.
"Lusa, Te bisa pulang, Ma," jelas Te.
"Iya, nggak apa-apa. Mama hanya ingin mengajak anak-anak tinggal di mansion," ajak Kanya pada Darren, Lidya dan Rion.
"Mau ya," bujuk Kanya.
Mereka bertiga hanya menoleh ke ibu mereka meminta pendapat. Terra mengangguk. Mereka pun setuju. Betapa Kanya senang bukan main.
"Oh ya, nanti Lidya sekolahnya di mana?' tanya Bram. Lidya sudah berusia lima tahun.
"Deket rumah saja, Pa. Di sana ada kok taman pendidikan anak-anak," jawab Terra.
Bram mengangguk. Pria itu memeluk Darren. Rion memandang takjub empat bayi yang tadinya berada di dalam perut ibunya.
"Ma, pedet payi na banat baneut!''
bersambung.
duh maaf ya tiga seri ini dikit. And langsung lahiran aja. Karena othor nggak tega melihat mang Budi jadi korban Papa Idar yang suka ngerjain dia.
next?