TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH KENYATAAN



Seperti janjinya kemarin, Dav akan mencari tahu siapa wanita yang memberinya gelang itu. Ia pun menelepon wanita bernama dokter Jevana Aryani Kesuma. Ada nada sambung, namun belum diangkat. Ini hari minggu, jadi Dav sangat yakin jika wanita itu tidak sedang bekerja, bahkan hari masih sedikit pagi. Baru pukul 10.01.


“Halo, maaf ini siapa ya?” sebuah suara heran di sana.


“Ya, saya adalh pemilik mobil yang kemarin anda senggol. Apa anda masih ingat?” tanya Dav.


“Ah Tuan, ya tentu saya ingat. Ada apakah menelepon saya, apa gelang yang saya jadikan jaminan kurang harganya?” tanyanya dengan nada sedikit khawatir.


Dav sangat senang mendengar suara wanita itu yang begitu unik di telinganya. Ia pun masih ingin berbicara banyak melalui telepon.


“Ah, iya, begini. Toko perhiasan tidak menerima gelang ini karena tidak disertai surat,” jelas Dav dengan senyum lebar yang tentu tidak dilihat oleh Jevana.


“Oh, begitu ya? Baiklah apa yang anda inginkan sekarang?” tanya gadis itu masih dengan nada penuh rasa kecewa.


“Saya ingin kelanjutan ganti ruginya, saya minta anda untuk datang di sebuah kafe atau restauran mana saja terserah anda. Saya akan menyambangi anda!” jawab Dav penuh penekanan.


Tampak keheningan di seberang telepon. Dav mengernyit.


“Halo … apa anda mendengar saya?” tanya Dav.


Terdengar helaan panjang di sana. Dav menahan kekehannya.


“Ya, baiklah. Anda bisa mengunjungi kafe “LitleStart” di jalan xxx,’ sahut Jevana dengan nada pasrah.


“Oke, jam berapa?” tanya Dav senang bukan main.


“Jam empat sore, bagaimana?” ujarnya meminta pendapat.


“Baik. Saya akan ke sana tepat jam empat sore!” tekan Dav lalu menutup sambungan ponsel.


Kemudian pria itu seperti orang gila tertawa sambil bergulingan di atas kasur.


Rasya yang kebetulan lewat menjadi aneh, pintu kamar terbuka, hingga balita itu bisa melihat jelas keanehan tingkah pria itu.


“Om tenapa dulin-dulin taya dithu?” tanya Rasya tiba-tiba sambil menaiki kasur pria itu.


“Karena Om sedang senang dan bahagiaa sekali!” seru Dav antusias.


“Wah … Pacha, judha mo dulin-dulin taya Om, ah!” ujar Rasya ikut bergulingan di


kasur Dav.


“Mama … Om Beb lusatin tasul, ma!” tiba-tiba Rasyid mengadu, ternyata balita itu melihat kelakuan Dav yang menurutnya bisa merusak kasur.


Terra datang dengan tergopoh-gopoh, masalahnya, ia sedang ada di kamar tadi bersama suaminya. Haidar berencana mengajak semuanya keluar kota ketika liburan panjang nanti.


“Ada apa Baby teriak-teriak kayak gitu?” tanya Terra.


“Ipu,” tunjuk Rasyid ke arah kamar.


Terra melihat kamar dav yang sydah seperti kapal pecah, pria itu kini tengah membereskan kasurnya dibantu oleh Rasya. Bantuan itu sama sekali tak menolongnya, malah membuat pekerjaannya tambah berat.


“Baby, itu bukan ditarik, tapi di masukin sedikit seperti ini!” ujar Dav memberitahu bayi itu.


Rasya menuruti ajaran Om nya. Balita itu menyorong masuk sprei ke bawah kasur. Terra hanya menggeleng kepala, lalu membiarkan adik dan putranya itu membersihkan kamar, bahkan Rasyid pun masuk membantu pria itu.


Tak terasa sore menjelang. Waktu janjian pun tiba. Dav berangkat ke tempat itu dengan Juno. Jam menunjukkan pukul 16.00. seperti janjinya, jika ia akan datang tepat di kafe itu pada waktunya. Salah seorang pelayan mendatanginya dengan senyum ramah.


“Selamat sore Tuan. Apa anda sudah ada janji atau melakukan reservasi?” tanyanya ramah.


“Ah, saya datang atas permintaan dari Nona Jevana Aryani Kesuma,’ jawabnya tak kalah ramah.


“Oh, begitu. Mari saya antar, Tuan. Anda telah ditunggu lima menit lalu,” jawab pelayan itu lalu mengajak Dav untuk mengikutinya.


Dengan jantung yang berdebar, Dav melangkahkan kaki mengikuti pelayan itu. Sebuah tempat ruang terbuka, suasana begitu sangat romantis. Jantung pria makin berdegup kencang,


“Apakah secepat ini perasaanku terbalas?” tanyanya befgumam dalam hati.


“Silahkan menunggu di sini Tuan. Saya akan mengatakan jika anda telah datang,” ucapan pelayan itu membuyarkan lamunan Dav.


Ia melihat sekeliling, sebuah teras yang ada dua kursi dan satu meja di sana.


Sedangkan ruangan romantis tadi masih ada dua meter lagi. Nampak olehnya pelayan itu mendatangi seseorang. Jantung Dav makin berdegup kencang, perasaannya campur aduk.


“Ah, anda datang, Tuan,” sebuah suara yang menggelitik telinga Dav, wanita itu datang dengan senyum simpul.


“Cantik sekali,” pujinya walau hanya berani dalam hati.


Wanita itu duduk di hadapan Dav. Meletakkan tasnya di atas meja.


“Apa anda ingin memesan sesuatu?” tawar wanita itu sambil memandang Dav.


Dav yang memang sudah jatuh dalam pesona wanita itu sedikit kikuk. Ketika Jevana kembali mengagetkannya.


“Anda sepertinya melamun dari tadi,” tuduh Jevana telak.


“ya aku ngelamunin kamu!” sahut Dav lagi-lagi hanya dalam hati.


“Haloo!” ujarnya lagi sambil melambaikan tangannya di muka Dav.


David tersentak. Ia pun sadar dari dunia lamunannya.


“Ah, maaaf. Saya banyak pikiran,” jelasnya meminta maaf. Yang tentu saja itu bohong.


“Iya, aku banyak pikiran, yaitu mikirin kamu,’ lanjutnya masih berani dalam hati saja.


Wanita itu pun mengangguk memaklumi.


“Pasti gara-gara perbaikan mobil itu ya?’ terka Jevana bertanya.


“Ya begitulah,” sahut Dav lagi-lagi berbohong.


“Jadi bagaimana ?” tanyanya penasaran.


“Ini gelangnya. Maaf saya tidak memerlukan pergantian.” Ujar dav menyerahkan gelang tersebut.


Jevana sangat terkejut, ia tak percaya jika pria yang belum ia kenal ini, tidak meminta pergantian kerusakan mobil mewahnya. Jevana sudah mencari tahu di internet, jika mobil itu hanya dua ratus unit di dunia. Ia pun yakin harga perbaikannya sangat mahal.


“Tapi, saya sudah merusak mobil anda Tuan!” seru wanita itu tak enak hati.


Dav tersenyum. Ia menggeleng lalu meleteakkan gelang itu di hadapan wanita itu.


“Ah, maaf. Dari tadi saya hanya bicara, tapi tak memesankan anda minum,”


Jenna pun memanggil pelayan memesankan minuman untuk Dav.


"Anda ingin pesan apa Tuan?” tanya Jevana.


“Cafelate saja,” jawab pria itu.


‘sebenarnya aku ingin kamu,’ gumam Dav dalam hati lagi.


Pesanan Dav datang, bau harum kopi menguar begitu melegakan. Piea itu menatap wanita yang ada di depannya, tampak melihat arloji yang ada di pergelangan kirinya.


“Apakah anda menunggu seseorang?”


Tanya Dav sedikit ingin tahu.


“Ya benar, sekarang adalah hari ulang tahunnya. Semoga ia tak mengetahui kejutannya.”


Tiba-tiba wanita itu menutup mulutnya, ia kelepasan bicara. Dav tersenyum menanggapinya.


“Jangan khawatir. Saya bisa menyompan rahasia ini.’ Sahut Dav menenangkan wanita di depannya.


Pria itu selalu tertarik dengan semua gerak-gerik wanita di depannya ini, bahkan kini ekspresi wanita itu yang menurutnya terlalu terbuka, mebuat kesan tersendiri.


”Maaf Tuan, masalah gelang ini. Apakah benar anda tidak keberatan saya tidak mengganti rugi?” tanyanya sekali lagi untuk meyakinkan.


“Tentu saja, saya tidak masalah,” jawab David yakin.


Jevana tersenyum semringah, ia pun memakai gelang itu kembali ke pergelangan tangan kanannya.


“Oh, bolehkah saya ….”


Tiba-tiba.


“Sayang, maaf aku datang terlambat. Tadi aku ada operasi penting, jadi tak bisa ditinggal. Bagaimana?” tanya seorang pria yang tampan datang menghampiri keduanya.


Baik Dav dan Jevana berdiri. Sebuah senyum tersungging di bibir wanita itu begitu manis.


“Sudah selesai, sayang. Tuan ini merelakannya, bukan begitu Tuan?” ujar Jevana sekali lagi bertanya.


“Ah, maafkan Jevana, Tuan, dia memang sedikit ceroboh jika menyetir,” ujarnya meminta maaf dengan tulus.


“Tidak apa-apa,’ sahut Dav kini jantungnya seperti mau melompat saja.


Pertemuan pun berakhir. Dav pulang dengan senyum kecut dan lemah lunglai. Hancur semua mimpi indah yang baru saja ia rancang. Ia sedikit menekan dadanya, hingga membuat Juno cemas.


“Tuan, anda tidak apa-apa?” tanya pengawal itu.


“Aku kenapa-napa, Jun.” jawab Dav putus asa.


“Tuan, apa yang terjadi?” tanya Juno penasaran.


Dav memejamkan matanya, mengingat perkenalan singkat yang menghancurkan hatinya.


“Perkenalkan, saya dokter Farendra Ahmad, saya suami dari Jevana.”


Bersambung.


Yaaa … patah hati deh …


Next?