
Hari berlalu, tak terasa. Hari ini Lidya akan diwisuda. Setelah melewati masa koas. Seorang sarjana kedokteran, Lidya harus melalui masa Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Pada tahapan ini, dokter muda akan memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR). Lidya juga sudah mendapatkan STR, seorang dokter wajib mengikuti program internship atau magang. Ia pun telah menyelesaikannya dua hari lalu.
Berkat kegeniusannya. Ia tak perlu menempuh pendidikan materi kedokteran terlalu lama. Gadis itu pun mengambil pendidikan profesinya juga sangat sebentar.
Setelah wisudanya, ia akan mengambil sumpah kedokterannya. Terra begitu bangga pada putrinya itu. Ia menangis haru ketika gadis itu mengenakan baju toganya. Sama ketika Darren lulus beberapa tahun lalu. Anak-anak semua sudah berada di mansion kakek mereka.
Haidar memeluk gemas Lidya dan menciumi gadis itu hingga, Terra marah karena merusak rias anak gadisnya.
"Kau cantik sekali sayang," puji Haidar.
"Makasih Pa. Semuanya ikut kan?" tanyanya, Haidar mengangguk.
Begitu ketiganya turun, Ani langsung memuji kecantikan gadis itu.
"Mashaallah, Non. Cantik banget, almarhumah Bik Romlah pasti bangga melihat Non, sudah pakai toga begini!" ujarnya dengan suara tercekat.
Lidya langsung menangis ketika mengingat wanita baik itu. Wanita yang selalu menjaganya dan menggendongnya. Terra jadi ikutan sedih. Ani buru-buru minta maaf.
"Maaf, Non, Nyah, Tuan ...."
"Sudah tidak apa-apa, Bik. Kami juga sangat bangga pernah mengenal almarhumah m Kita doakan agar arwah beliau tenang di sisi-Nya," ucap Virgou bijak.
Bart mengangguk. Leon sudah lama pulang setelah tiga hari aqiqah cucu ketiganya Sky. Herman juga sangat setuju.
"Sudah-sudah, lama-lama makeup mu habis kebanyakan menangis!" seloroh pria itu.
"Ayah!" rengek Terra dan Lidya bersamaan.
Khasya dan Puspita hanya menggeleng. Dav dan Seruni, kini bersama anak-anak di mansion Bram. Seruni kembali terkejut melihat rumah yang jauh lebih besar dari milik kakak iparnya.
"Mashaallah ... ini rumah atau istana?" tanyanya terkagum.
Dav hanya tersenyum. Mungkin istrinya akan pingsan nanti jika ia bawa ke Eropa dan menginap di kastil kakeknya, Bart.
"Oh ya, apa kau sudah mengurus semua paspor dan visamu, sayang?" tanya Dav.
"Sudah kemarin bersama Mama Kanya, beliau juga ingin menemani Papa bisnis di Amerika bulan depan," jawab Seruni masih memandang kagum dekorasi depan rumah mertua adik iparnya itu.
"Assalamualaikum!' salam keduanya ketika sampai pintu.
"Wa'alaikumussalam ... Nah, pengantin barunya datang juga akhirnya," sambut Kanya dengan senyum lebar.
Dav dan Seruni bersemu merah. Keduanya mencium punggung tangan Kanya. Anak-anak berhamburan menyambut kedua orang itu.
"Mami Beluni!" sambut Rasya merubah panggilannya.
"Mami?" Seruni kurang suka dengan sebutan itu. Lalu ia memiliki ide agar berbeda dengan yang lain.
"Babies ... bagaimana jika sekarang jangan panggil Mami atau Mama lagi," pintanya.
"Blus ... pita pandhil pa'a Mam?" tanya Kaila sambil memiringkan kepalanya.
"Panggil Uma," jawab Seruni.
"Buma?"
"Puma?"
"Duma?"
Tiga sebutan berbeda dari para balita, terutama Samudera dan Benua. Gisel hanya geleng-geleng, ia menggendong bayinya yang baru lahir. Sang suami bersama Terra untuk mengantar mereka ke gedung serba guna universitas di mana wisuda diselenggarakan.
"Ya sudah, Mami saja!" akhirnya Seruni menyerah.
Dav dan Kanya tertawa melihat kepasrahan wanita itu. Lalu, semuanya bercengkrama di ruang tengah.
"Papa mana, Ma?" tanya Dav.
"Masih di kantor, mengurus berkas-berkas," jawab Kanya.
Sedang di tempat lain. Mobil yang ditumpangi Lidya sampai di halaman parkir mereka akan menunju gedung. Budiman begitu terharu. Gadis kecil peluluh hatinya itu kini sudah beranjak dewasa. Bahkan kini ia mengantarkan dan duduk bersama semuanya. Ikut menyaksikan penyematan kelulusan dan ucapan sumpah dokter.
Mereka duduk berderet di nomor tiga. Lidya sengaja meminta kursi banyak karena semua orang terpenting dalam hidupnya hadir. Khasya, Puspita jadi ikutan terharu. Mereka yang baru saja bergabung dengan keluarga ini, ikut merasakan debaran jantung yang berpacu karena kebahagiaan yang memuncak.
Butuh waktu dua jam mereka menunggu Lidya tampil dan diperkenalkan. Benar saja. Tak lama pembawa acara mengumumkan kelulusan mahasiswa kedokteran. Lidya adalah nama pertama yang disebut. Virgou bertepuk tangan keras hingga bersiul. Hingga semuanya menoleh padanya.
"Kak!" tegur Terra malu.
Virgou acuh. Ia pun duduk kembali sambil melempar tatapan nyalang ke semua mata yang memandangnya aneh.
"Apa liat-liat! Yang maju tadi putriku!' sahutnya menantang.
"Mas!" tegur Puspita kini malah tak enak hati pada para hadirin.
Bart hanya memutar mata malas melihat kelakuan cucunya itu. Sedang Haidar, Herman dan Budiman fokus pada podium dan sibuk mengambil gambar.
"Lidya Pratiwi Putri Hugrid Dougher Young adalah mahasiswi termuda di universitas GunaPratama. Berusia tujuh belas tahun delapan bulan, mengambil jurusan kedokteran ... bla ... bla .. bla!" pembawa acara menjelaskan review remaja itu.
"Ia juga lulus di bidang spesialisasi kejiwaannya tahun ini juga, setelah seminarnya di Eropa mendatang!"
Semua bertepuk tangan dengan meriah. Banyak mata kagum dan tak sedikit mata iri memandang gadis bertubuh mungil yang telah disematkan tali topi toganya.
"Mama, Papa, Ayah, Bunda, Mommy dan Daddy, Baba, Iya lulus!' pekiknya girang.
"Horee Putriku sudah dokter!' seru Herman tiba-tiba.
Hal itu membuat Khasya malu setengah mati. Semua orang memandangnya aneh. Pria itu pun malah berkacak pinggang.
"Apa kalian liat-liat!" serunya tak suka.
"Ayah .. sudah ah, malu!' sahut Puspita menarik lengan Herman.
Bart hanya menghela napas panjang. Sedang Haidar dan Budiman acuh. Hati keduanya berbunga-bunga.
Setengah jam acara sudah selesai. Para mahasiswa dan mahasiswi berbaur di halaman universitas. Budiman, Haidar, Virgou dan Herman langsung menjaga putri mereka.
Sebenarnya banyak pria yang ingin bersalaman dengan gadis cantik itu. Tetapi, melihat wajah garang keempat pria yang menjaganya. Membuat semuanya hanya mengucap selamat sambil lalu.
"Papa, Daddy, Ayah, Baba ... jangan gitu dong ... kan Iya jadi nggak enak sama temen-temen," protes gadis itu.
Bart lagi-lagi hanya bisa menghela napas.
"Putri kalian akan jadi perawan tua jika kalian terlalu posesif seperti itu!" tegurnya.
Keempat pria itu tak peduli Ia hanya menjaga agar putrinya tak disakiti oleh siapa pun. Mereka pun kini mereka ke sebuah ruangan khusus di mana Lidya menyebut sumpahnya.
Terra lagi-lagi menangis haru. Perjuangan Lidya untuk menyuarakan hati anak-anak yang mendapat kekerasan membuahkan hasil dan menjadi trending di setiap studinya. Makanya gadis itu cepat lulus.
Lidya berjejer dengan beberapa dokter lainnya. Lalu mereka mengucap sumpah dengan tangan diletakkan di atas kitab suci mereka masing-masing.
"Demi Allah saya bersumpah, bahwa : Saya akan membaktikan hidup saya guna perikemanusiaan. Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran!"
Sumpah dokter sudah terucap. Gelar dokter pun telah tersemat di depan nama mereka.
"Dokter Lidya Pratiwi Putri Hugrid Dougher Young!" panggil Bart lalu merentangkan tangannya.
Lidya pun menghambur ke pelukan kakeknya. Bart akhirnya menangis haru. Ia begitu bangga dengan cucu perempuannya itu. Cucu yang nyaris ingin dia sembunyikan.
"I am proud of you!"
bersambung.
Othor juga bangga sama Lidya ... karena cita-cita othor tersampaikan walau lewat cerita saja 😪
next?