
Terra dan suaminya tengah bercengkrama dengan anak-anak. Haidar berkali-kali tertawa melihat kelakuan Rion yang mengomandoi adik-adiknya. Ketika melihat Darren, pria itu pun memanggilnya.
"Sayang, sini!"
Darren pun datang lalu duduk di sebelah ayahnya. Dengan penuh kasih sayang. Haidar memeluk tubuh putranya.
"Sayang. Kalian sudah tambah besar, sedang rumah ini semakin sempit. Papa berencana untuk pindah rumah lebih besar lagi. Apa kau keberatan?" tanya Haidar.
Darren tersenyum. Ia sangat paham. Lidya sudah sibuk meminta kamarnya sendiri.
"Darren tidak keberatan, Pa. Kami akan ikut kemana pun Mama Papa pergi," jawabnya.
"Terima kasih sayang. Rumah ini tidak akan dijual. Karena Mama sudah mewariskannya padamu. Jadi terserah Darren, mau disewakan atau bagaimana," ujar Haidar lagi.
"Darren hanya akan ikut apa kata Papa dan Mama," ujar Darren dengan senyum mengembang.
Haidar membelai sayang, rambut putranya. Rumah yang ia beli juga tidak jauh dari lokasi ini. Bahkan nanti akan bertetangga dengan Gabe. Rumah hook tingkat dua. Banyak kamar utama dan kamar untuk pekerja. Haidar memastikan Budiman juga bisa tinggal di sana tanpa harus menyewa rumah bedeng untuk ia beristirahat.
"CEO kere!" ledek Haidar pada Budiman, yang hanya ditanggapi acuh oleh pria pengawal setia istrinya itu.
"Saya bukan nggak punya rumah Tuan. Kemarin sempat punya. Tapi ...."
Budiman tidak melanjutkan ceritanya. Haidar hanya bisa mencibir pria itu. Entah mengapa. Baik dengan Budiman atau Virgou. Ia sangat suka beradu debat tak ada artinya.
Terra baru menutup ponselnya. Ia menerima kabar tentang pemecatan Sandra. Wanita itu menyerahkan sepenuhnya keputusan pada dua pria kepercayaannya itu.
"Ada apa sayang?" tanyanya.
"Sandra dipecat. Padahal dia salah satu kandidat terbaik. Sayang, begitu bekerja performnya tidak sebaik ketika interview," jawab Terra menjelaskan.
"Ouh ... sayang, Darren setuju untuk pindah rumah. Kita nggak bisa tinggal di sini lagi. Kau tau jika anak-anak berkumpul sudah seperti kesebelas sepak bola plus pemain cadangannya?" Terra terkekeh.
"Liburan nanti, anak-anak Virgou dan Ayah akan datang. Kata mereka ingin menghancurkan rumah ini," kekeh pria itu.
"Baiklah, kita pindah sebelum mereka menginap dan menghancurkan rumah ini," sahut Terra.
Hari minggu. Terra mendorong stroller berisi empat anaknya. Darren, Lidya dan Rion nampak sibuk melihat semua ruangan. Mereka kini berada di rumah yang telah dibeli Haidar. Terra sangat puas. Rumah itu besar dan banyak kamar utama baik di lantai satu maupun di lantai dua.
Bukan itu saja. Haidar memilih rumah ini, karena ada paviliun di sebelah rumah utama. Pria itu merencanakan tempat itu sebagai markas pengawasan juga istirahat para tim pengawal. Jadi mereka tidak tinggal di mobil Van khusus itu.
"Sayang. Kita bisa membangun pengawas di paviliun sebelah. Kita rancang semua cctv ke ruangan itu. Jadi mereka tidak lagi berhimpitan di mobil," usul Haidar.
"Iya, ide bagus itu. Kita serahkan Kak Budi saja untuk menyusun dan merangkai semua operasional pengamanannya," jawab Terra setuju.
"Bud!" panggil Haidar.
"Saya Tuan!"
"Kamu lihat bangunan di samping. Aku ingin kalian menempati bangunan itu sebagai tempat pengawasan dan tempat istirahat kalian. Jadi tidak lagi pulang ke rumah kontrakan," ujar Haidar sambil menunjuk paviliun.
Budiman begitu senang. Ia pun langsung mengangguk. Ia bahagia sekali, karena rumah kliennya berdekatan dengan rumah gadis pujaan hatinya.
Pria itu langsung memanggil tim. Meminta blue print pada Haidar agar mereka bisa merancang skema pengawasan.
Usia melihat-lihat mereka pun pulang. Sedang sebagian tim masih di lokasi untuk menggambar pola atau skema pengamanan.
"Mama, jadi Iya nanti punya kamal sendili?" tanya Lidya antusias.
"Iya, sayang. Biar nanti baby Kean dan Baby Cal. Juga Baby Satrio dan Baby Arimbi bisa bobok di kamar main di teras belakang luas banget. Ada pohonnya juga loh," jawab Terra.
"Sama-sama sayang. Papa minta cium dong!"
Cup!
Lidya mencium ayahnya, sayang. Gadis kecil itu bahagia karena akan punya kamar impiannya sendiri. Ia sudah membayangkan seperti apa kamarnya nanti. Haidar menatap Darren yang memandangi seluruh rumahnya. Menatap kamar di mana mereka bertiga dulu tidur berhimpitan bersama ibunya. Tempat di mana pertama kali ia melewati masa traumanya. Haidar mendekat, memeluk pria kecil itu. Darren menoleh.
"Pa, boleh nggak kita bertiga tidur satu kasur, seperti pertama dulu?" pintanya.
"Tentu saja sayang. Kini, kalian tidak lagi tidur berempat sama Mama. Ada Papa di sana," sahut Haidar menyetujui keinginan putranya.
"Makasih, Pa. Darren sayang Papa!" ungkapnya tulus.
"Papa juga sayang kalian semua," balas Haidar tak kalah tulus.
Benar saja. Terra tak mempermasalahkan tidur berhimpitan dengan ketiga anaknya lagi. Bahkan kini ia bersama suami dan empat anaknya yang kini tidur di box mereka masing-masing.
Terra memandangi ketiga anaknya dengan penuh kasih. Setelah mendapat surat cinta dari Lidya, dan mengetahui jika mendiang ayahnya tak menyayangi ketiga anak itu. Membuat Terra makin sayang sama sayangnya dengan keempat anak yang lahir dari rahimnya sendiri.
"Aku mencintaimu," ungkap Haidar sambil memeluk istrinya.
Terra menyamankan tubuhnya dalam dekapan sang suami. Menggenggam jemari Haidar lalu mengecupnya mesra.
"Aku juga sangat mencintaimu," balas Terra tak kalah tulus.
"Sayang," panggil Haidar dengan suara serak.
Terra terkikik. Ia juga sangat merindukan belaian intim dari sang suami. Wanita itu membalik tubuhnya.
Netra mereka saling mengunci. Terra membelai sayang pipi suaminya. Bibir mereka pun salin memagut. Haidar meremas benda bulat yang ada di bawah sana. Terra mendesis.
"Mas, sepuluh menit lagi," pinta Terra berbisik.
"Anak-anak baru tidur," lanjutnya.
"Sayang," rengek Haidar setengah berbisik.
Pria itu memagut pelan dan penuh perasaan bibir Terra. Masih manis ketika pertama kali ia mengecupnya. Bedanya, bibir itu tak berubah jadi dingin. Masih tetap manis walau kini pria itu makin menuntut.
Terra membalas pagutan suaminya. Karena kesibukan dan berbagai kejadian di luar kendali mereka. Kemesraan jarang mereka lakukan bahkan hubungan intim pun sulit terlaksana karena Terra menyusui.
Entah mengapa wanita itu malam ini hanya mengenakan lingeri seksi warna oranye yang begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Mereka terus saling pagut. Haidar menurunkan sedikit boksernya. Lalu terjadilah penyatuan itu.
Mereka pun berpindah posisi menuju sofa panjang di sana, dengan hati-hati. Menahan semua erangan dan ******* napas mereka. Keduanya saling menyatukan cinta mereka dengan penuh ketenangan. Hingga sampai pada titik pelepasan. Napas keduanya memburu. Haidar tiba-tiba terkekeh. Ia mengingat momen malam pertama mereka.
"Sayang. Ingat malam pertama kita, nggak?" Terra langsung merona.
"Ish ... apa sih!" cebik Terra manja.
"Sama seperti malam ini. Diam, tenang dan terburu-buru," sahut Haidar sambil terkekeh.
bersambung.
Ah ... akhirnya nganu nya sampai walau kurang hot. 😆ðŸ¤
next?