
Terra membaca laporan yang baru saja ia terima. Ia tak habis pikir dengan beberapa kepala divisi perusahaannya. Padahal terang-terangan gadis itu akan tidak segan-segan menindak tegas para koruptor.
"Apa gaji dan fasilitas di perusahaan ini kurang? Atau memang mereka terlalu tamak jadi manusia?" tanya Terra bermonolog tak habis pikir.
Rommy datang bersama Aden. Mereka membawa dua orang terduga kasus penerimaan suap. Entah iming-iming apa yang diberikan pada dua orang itu. Keduanya menunduk tak berani menatap. Ini lah musuh sebenarnya. Musuh dalam selimut.
"Kenapa kau lakukan ini? Berapa yang ia berikan pada kalian. Satu miliar?" tanya Terra.
"Lima ratus dolar, Nona," sahut Aden sambil menatap geram dua tertuduh yang terciduk.
"Apa Kak Rommy sudah mencium siapa penyuap mereka?" tanya Terra.
"Sudah. Salah seorang oknum pejabat. Mereka menjanjikan sebuah proyek di salah satu pulau," jelasnya.
"Yang aku heran. Mestinya mereka menyogok aku sebagai pemimpin perusahaan. Atau mestinya aku yang menyogok mereka, biar dapat proyek!" sungut Terra.
"Hilangkan data mereka!' titah Terra.
"Nona ... jangan lakukan ini! Kami memiliki keluarga!" pekik mereka langsung bersimpuh di lantai memohon.
"Ck, kenapa? Kalian tega kok menghancurkan perusahaan yang ngasih makan keluarga kalian!" ketus Terra sengit.
"Seret mereka!" Aden dan Rommy menyeret dua tikus itu.
Mereka berdua menjerit-jerit minta ampun. Terra menulikan telinganya. Ia harus tegas. Selama ini hukum negara terlalu ringan kepada para korupsi. Setidaknya ancamannya menghapus data diri akan membuat mereka jera.
"Aku tidak sekejam itu. Kalian hanya akan melakukan pekerjaan sosial yang akan membuat mereka jera," gumamnya bermonolog.
Benar saja, para penerima suap di perusahaan Hudoyo Group menjadi bahan perbincangan. Mereka tercoret di data negara dan untuk mengembalikan data diri mereka. Keduanya harus melakukan kerja sosial, menjadi tukang sapu jalanan. Tidak hanya itu saja, baju mereka ketika melakukan pekerjaan itu memakai pakaian khusus bertuliskan 'Saya kapok korupsi".
Baju biru dengan tulisan oranye itu begitu mencolok pandangan siapapun. Mereka akan langsung menoleh memperhatikan dua orang itu.
"Jika hukuman seperti itu tidak juga membuat mereka jera, gimana, Te?" tanya Rommy.
"Aku benar-benar menghilangkan data dirinya. Biar mereka terombang-ambing di tengah samudera tanpa kepastian!"
Rapat jurnal langsung diadakan. Terra merobak semua sistem divisi. Merumahkan mereka yang sudah semestinya pensiun. Lalu merekut para lulusan baru.
"Saya tekankan sekali lagi pada kalian para kepala divisi dan staff ekslusif. Saya tidak akan ampuni para koruptor di perusahaan ini. Selama dua belas tahun perusahaan ini berdiri, kalian asik menggerogoti pelan-pelan lumbung kalian sendiri. Untuk itu. Hari ini juga saya akan memutuskan hubungan kerja beberapa, kepala, asisten staf, kepala divisi, juga beberapa staf yang terlibat. Saya akan langsung blacklist selama tujuh tahun. Menyita aset, dan fasilitas seperti rumah, mobil dan pendidikan!'
"Tidak!"
Beberapa orang yang teriak langsung menandakan jika mereka terlibat. Ada yang langsung lemas mendengar semua keputusan yang diambil oleh pemimpin perusahaan mereka. Nyaris delapan persen pekerja yang terlibat terduduk lemas. Terra hanya menggeleng.
"Kemudian, saya akan memberi bonus dan kenaikan atas kelaikan kerja untuk beberapa bagian divisi yang berprestasi seperti dari divisi kebersihan, OB dan CS. Divisi keamanan, Sekuriti dan Valet. Divisi Marketing, Customer service dan para kepala Humas pemasaran. Beberapa individual yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu!"
Para tim divisi yang mendapatkan reward bersorak kegirangan. Mereka ada yang menangis seperti tim OB dan CS. Seumur hidup, mereka tidak pernah mendapat reward.
Berita tertangkapnya kasus suap di perusahaan yang melibatkan oknum pejabat negara masih viral. Pemerintah juga sudah menon-aktifkan pejabat yang terlibat. Bahkan bukan satu dua yang terlibat. Satu jajaran ikut terlibat dalam kasus tersebut.
Gurita korupsi tak bisa terlepas. Ia makin kuat mencengkram. Entah apa yang mereka incar. Gaji puluhan juta, fasilitas juga bukan yang biasa-biasa saja.
Melihat langkah Terra. Haidar juga mengikuti jejaknya. Mengubah sistem hukum dan reward. Haidar membuat sebuah kerjasama dengan perusahaan istrinya untuk melepas diri dari cengkraman gurita korupsi.
"Sayang, besok aku akan mengajukan kerjasama dalam usaha melepas jerat korupsi," ujar Haidar ketika mereka tengah bercengkrama di ruang keluarga.
"Boleh banget, Mas. Te, juga senang mendapat dukungan dari perusahaan yang mau terlepas dari para pengerat itu," sahut Terra sambil merebahkan tubuhnya di dada sang suami.
"Ma, kenapa nggak buat program sikat korupsi kepada seluruh perusahaan. Kan, dengan begitu, pemerintah nggak cape-cape memindai perusahaan mana yang ikut sikat korupsi akan terdata."
"Wah, ide mu cemerlang sekali, sayang," sahut Terra semringah.
Wanita itu jadi memiliki sebuah ide gila. Ia akan meluncurkan sebuah aplikasi tentang anti korupsi. BraveSmart ponsel mendukung aplikasi itu. Data bisa langsung terlacak segera. Bahkan kerugian yang dialami langsung terbaca.
"Ah, Mama jadi ingin buat aplikasi korek korupsi deh," Haidar yang menangkap maksud istrinya langsung semringah.
Bayangan lepas dari jeratan gurita korupsi di depan mata. Ia yakin, semakin bisa para pengusaha menekan korupsi terjadi antar perusahaan dan para pejabat oknum. Negara akan makmur sejahtera.
"Mama, Polupsi pa'a?' tanya Rion.
"Ko-rup-si sayang. Bukan Polupsi. Lain itu artinya," jawab Haidar.
"Biya ... Topulsi,"
"Ko," sahut Haidar menyuruh Rion menirukannya.
"Po!" tiru Rion.
"K ...."
"Pa, Baby kan belum bisa ngomong jelas. Baby maksa biar bisa ngomong tuh. Baby korupsi bicara," sahut Darren.
"Ah, jadi ini dia oknum Baby yang korupsi bicara. Belum waktunya bicara sudah mau bicara!" sahut Haidar menatap Rion.
Rion tak mengerti ia hanya memasang wajah polosnya. Terra gemas, bukan main. Tiba-tiba Lidya menaiki Haidar dan duduk dipangkuan ayahnya.
"Dan satu lagi ini korupsi nggak ya?" tanya Haidar lalu menciumi tubuh gadis kecil itu hingga tergelak.
"Apa itu tolupsi Papa?" tanyanya setelah ia reda tertawa.
"Tolupsi itu udara yang tercemar!" jawab Haidar asal.
"Mas!" peringat Terra.
"Ah, nanti lah jawabnya. Papa mau kasih hukuman sama oknum Baby!" ujarnya lalu memburu Rion dengan ciumannya.
Rion tergelak. Darren tertawa. Haidar menatap Darren. Ia menyeringai. Saatnya juga Darren haru masuk dalam dekapannya. Secara tiba-tiba Haidar menarik putranya. Menggelitiki Darren sampai ia minta ampun Lidya ikut menggelitik kakaknya. Rion dengan semangat membela kakaknya. Menerjang Haidar dengan tubuh montoknya.
Semua tergelak. Budiman menatap mereka dengan senyum. Ia bahagia bisa berkumpul dengan keluarga Terra. Tiba-tiba Rion melihatnya.
"Om Pudi putan lopusi!' tuduhnya tak beralasan.
Budiman yang baru datang dan tidak mengetahui sedang membahas apa, jadi terbengong saja.
"Butum Om Pudi!' pekik Rion.
Bayi itu langsung melepaskan diri dari pelukan ibunya dan berlari menerjang Budiman. Sontak pria itu harus pura-pura terjatuh karena pandangan horor terlempar padanya dari dua orang dewasa yang menjadi majikanya. Lidya dan Darren ikut-ikutan menerjang Budiman. Mereka pun tertawa.
bersambung.
ah ... akankah koruptor bisa hilang dari negara tercinta?
next?