TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DILIBAS



Satu minggu berlalu. Kevin sudah kembali kuliah, ia bahkan menyerahkan tugasnya dengan baik. Haidar kembali mengepalai universitas milik ayahnya itu.


"Ck, gue mesti pura-pura gitu berbuat baik?" tanyanya pada diri sendiri..


Pemuda itu pun mendatangi kantor dewan keagungan mahasiswa. Mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia mulai berpikir untuk tidak mulai masalah baru yang buat ia kesulitan nantinya.


"Masuk!" titah orang yang ada di dalam ruangan.


Kevin membuka pintu. Pemuda itu masuk dan menyerahkan laporannya. Haidar sendiri yang menerimanya.


"Saya harap, anda bisa lebih baik lagi ke depannya," ujar pria itu lalu menepuk bahu Kevin.


Pemuda itu meringis kesakitan ketika Haidar menepuk bahunya. Kevin memiliki tinggi 178cm dan berat 60kg. Tampan dengan rambut sedikit kemerahan. Jika dibanding dengan tubuh Haidar, sangat lah timpang.


"Nai itu putriku. Kau tau," ujar pria itu memberitahu.


Kevin terhenti sejenak sebelum meninggalkan ruangan.


"Ck ... apa peduliku," gumamnya lirih ketika sudah di luar pintu.


Ia pun masuk kelasnya. Kevin memang bengal, tapi ia tahu kewajibannya. Pemuda itu termasuk mahasiswa teladan. Maka itu pihak kampus tidak mengeluarkannya.


Sementara di tempat lain. Richard memulai aksinya. Pria itu mengamati situasi. Hari itu suasana sedikit lengang. Richard mendaftar sebagai pasien. Tak ada yang curiga jika pria itu memiliki rencana jahat. Walau angka antrian berada di angka dua puluh dua. Pria itu menunggu cukup lama. Hingga gilirannya. Pria itu masuk. Daud tengah mencatat dan memasukkan beberapa berkas ke laci. Remaja itu menatap pria bule di depannya. Ia pun tersenyum.


"Selamat pagi menjelang siang. Keluhannya apa, Pak?" tanyanya ramah.


"Iya, saya punya keluhan," jawab Richard.


Pria itu menatap wajah imut yang menanti apa keluhannya. Terlihat kilatan mata genius terpancar dari netra remaja itu.


"Keluhan saya adalah ... anda telah menghajar anak saya hingga babak belur!' lanjutnya.


Daud tak perlu berpikir siapa anak yang babak belur..Karena hanya pemuda yang menyerang saudara perempuannya lah ia berkelahi, itu pun Nai yang menampar keras wajah pemuda itu.


"Oh, begitu. Lalu?" tanya Daud santai.


"Brengsek!" maki pria itu.


Brak! Meja terpukul kuat oleh Richard hingga semua benda yang di atas meja berhamburan. Richard menyerang Daud dengan memberi cekikan padanya.


Dengan tenang. Daud menggunakan jurus balik. Memukul telak pergelangan tangan yang mencekiknya dan memukul pinggang Richard dengan pinggiran tangannya, hingga Richard memekik keras.


"Aaarrghh!"


Teriakannya terdengar sampai luar. Para perawat pria hendak masuk.


Cklek ... cklek! Pintu terkunci.


"Dok!"


Perawat pria itu berteriak. Ia menggedor keras pintu itu. Juan juga ikut menggedor pintunya.


Richard memegang tangannya yang kesakitan. Bahkan kini ia bergulingan di lantai. Daud hanya menangkup tangannya di dada.


"Apa yang anda mau Tuan?" tanyanya.


"Bangsat!" maki Richard kesakitan.


Mendengar makian. Membuat perawat laki-laki berteriak memanggil dokternya. Daud memilih melangkahi pria itu dan hendak membuka pintu.


Ceklek ... pintu terbuka. Perawat hanya melihat dokternya saja. Tiba-tiba, Richard berdiri dan mendekap remaja itu. Ia menyanderanya.


"Dokter!" pekik perawat itu.


"Tuan muda!" Juan kaget bukan main.


Pria itu memang sudah mencurigai ada yang ingin mencelakai tuan mudanya. Tapi, ia tak menyangka jika bukan pria yang sama. Juan mengepal tangannya erat.


"Menjauh kalian!' bentak Richard.


"Jika tidak, dia mati!' ancamnya.


Daud tampak tenang. Rudi dan Bambang tampak bersiap juga. Sedang di kendaraan lain. Entah kenapa Virgou yang sedang ada urusan di daerah B, mengajak Dav untuk mengunjungi putra adik sepupunya, Terra.


"Kita ke Daud. Sekalian ajak dia makan siang," ujar pria dengan sejuta pesona itu.


Dav hanya mengangguk. Gomesh menjaga Nai atas perintah Virgou. Sepang perjalanan. Tak hentinya Virgou gelisah bukan main. Ketika sampai ada kepanikan para perawat.


Jantung pria itu makin berdetak kencang. Ia langsung turun dari mobil tanpa memarkir kendaraannya. Memang Virgou lah yang menyetir. Dav sampai meneriaki kakak tertuanya itu.


"Brother!"


Virgou abai. Pria itu melangkah lebar masuk ke klinik. Banyak orang histeris melihat pria tampan itu. Terutama kaum hawa.


Melihat Juan, Bambang dan Rudi menatap satu arah. Virgou langsung menuju mereka. Matanya mengelam melihat putranya disandera.


"Baby!" panggilnya.


Richard menatap pria itu. Matanya membola. Ia sangat mengenali sosok yang kini memandangnya dengan aura pembunuh. Ia makin mencengkram leher Daud. Wajah remaja itu makin memerah.


"Jika putraku terluka sedikit saja. Aku akan mengirimmu ke neraka!" ancamnya.


"Dia akan ikut bersamaku!" sahut Richard menyeringai.


Daud menotok salah satu syaraf lemas pria yang menyanderanya. Richard langsung lemas. Dengan gerakan cepat, Daud membanting pria itu ke lantai.


Brug!


"Aarrghh!" pekik Richard kesakitan.


Dengan sigap, Virgou mengangkat baju pria itu hanya dengan satu tangan kirinya. Lalu tangan kanannya ia gunakan untuk menampar berkali-kali wajah bule itu.


Plak ... plak ... plak!


Darah muncrat dari bibir Richard. Dav yang baru saja memarkirkan mobil kakaknya itu langsung meminta Virgou menghentikan kelakuannya.


"Berhenti Kak!"


"Baby!" sahut Dav.


Melihat leher putranya memerah, ia pun menjadi gelap mata.


"Apa yang melakukan ini adalah dia?" tanya Dav sambil mengelus leher putra kakak perempuan sepupunya itu.


Daud mengangguk.


"Papi, sepertinya punggungku lecet. Pria itu sepertinya membawa senjata tapi tak terlalu tajam," jelas Daud.


David memeriksa punggung keponakannya. Ia melihat jas sneli Daud sedikit rusak.


"Buka Baby. Biar Papi lihat!"


Virgou sudah melempar Richard yang pingsan.


"Bawa dia ke markas!" titah Virgou.


"Baik Tuan!" sahut Juan.


Ketiga pengawal tampan itu pun pergi membawa Richard yang sudah tak sadarkan diri. Pria beriris biru itu menghampiri Daud dan Dav.


Remaja tanggung itu membuka jas putihnya. Dav tak sabar. Ia menarik kemeja belakang hingga terpampang lah punggung Daud yang lebar dan sedikit berotot. Ada lecet yang lumayan di sana. Makin marahlah pria itu.


"Daddy jangan bunuh siapa pun!' pinta Daud.


Virgou berdecak. Ia pun urung mengambil ponselnya untuk memberi perintah anak buahnya membereskan Richard.


"Dok!" panggil salah satu perawat membawa kotak P3K.


Virgou sendiri yang mengobati luka lecet itu.


"Hanya luka kecil," ujarnya lega.


Daud tersenyum. Ia menatap dua pria yang memandangnya penuh kelegaan.


"Sekarang kita makan siang dan kau ceritakan padaku apa yang terjadi!' titah Virgou lagi.


"Daud mau beberes dulu," ujar remaja itu.


Daud mengambil semua perlengkapannya dan memasukan dalam ransel. Remaja itu mengikuti langkah dua pria tampan yang kini merangkulnya penuh kasih sayang.


Hingga sore menjelang. Terra sedikit terkejut ketika melihat Virgou dan David yang mengantar putranya.


Terra hanya tersenyum melihatnya. Lalu sejurus kemudian ia begitu terkejut setelah mendengar berita dari kakaknya.


"Kau tau, barusan putraku ini disandera ayah anak itu dan melukai punggungnya!" Virgou nyaris berteriak kesal pada Terra.


"Baby ...."


"Untunglah putraku bukan putra sembarangan yang digertak langsung nangis!" lanjutnya benar-benar kesal.


"Kau tau, aku hampir mati kehabisan napas melihat putraku disandera. Andai saja aku lemah, mungkin aku menangis melihat Babyku seperti tadi!"


Suara Virgou tercekat. Ia benar-benar nyaris jatuh melihat putranya disandera sedemikian rupa. Terra menutup mulutnya, ia mendatangi pria itu dan memeluknya.


"Kak," panggilnya.


David dan Daud langsung menenangkan Virgou.


"Daddy!"


"Brother!"


Napas Virgou menderu. Ia sedikit sesak. Lalu merangkul semuanya. Menciumi pucuk kepala ketiganya.


"Beruntung aku memiliki pikiran panjang. Aku tau Babyku pria kuat dan cerdas hingga bisa tenang dan mampu mengendalikan situasi," ujar Virgou lega.


"Assalamualaikum!" Darren, Haidar dan Lidya juga Rion memberi salam bersamaan.


Tak lama menyusul. Sean, dan Al. Mereka juga kaget melihat Virgou saling berpelukan erat.


"Ada apa ini?" tanya Haidar.


David lalu menceritakannya. Semua langsung mengkhawatirkan Daud. Terra melihat luka kecil di punggung putranya itu. Haidar hanya menghela napas panjang. Rion mengelus punggung terluka itu sedang Lidya sudah mau menangis.


"Sudah tidak apa-apa. Hanya luka kecil," ujar Daud menenangkan.


Tak lama Nai pulang bersama Gomesh. Nai yang melihat punggung salah satu saudar kembarnya terluka itu langsung mendatangi dan mengelusnya.


"Jangan bilang ini perbuatan ayahnya Kevin?" terka gadis remaja itu.


"Kok bisa nebak ke situ?" tanya Daud.


"Jujur, pas di kampus tadi. Kevin ngasih ini ke Nai," ujar Nai lalu memberi satu kertas kotor.


"I Terror you!"


Virgou menatap Gomesh. Pria itu hanya menggeleng tanda tak tahu.


"Ini bukan salah Om Gomesh Daddy. Nai sengaja nggak bilang biar ngga runyam. Tapi, sepertinya Kevin tak berhenti mengganggu Nai!" keluhnya.


"Kali ini, Mama yang akan menangani pria itu!" tekan Terra.


"Tidak!" tolak Nai.


"Akan Nai urus dia," lanjutnya.


Semua pun menolak keputusan gadis itu. Tapi, Nai bersikukuh. Ia akan berbicara empat mata dengan Kevin.


bersambung.


hmmm ... apa percakapan itu akan membuahkan hasil?


next?