
Ditangkapnya tiga anak karena pengeroyokan membuat wali ketiga anak itu tak terima. Mereka menantang ayahnya Darren melawan mereka.
"Saya nggak terima anak saya dipenjara. Ini pasti pemalsuan dan penindasan. Mereka kan orang kaya!" protes bapaknya Rahaja.
"Loh, Rahaja memang sudah melakukan tidandakan kriminal, Pak. Bahkan pihak sekolah melaporkannya juga. Mencuri uang juga pengrusakan inventaris sekolah!" bela kepala sekolah.
Haidar datang ketika ada pertemuan keluarga. Pihak wali dari tiga anak itu ingin melakukan mosi damai. Tetapi, bukannya bicara baik-baik. Ayah dari Rahaja sudah ngegas duluan.
"Bukti sudah ada, saksi pun ada. Anak Bapak aja sudah mengakui. Apa lagi Pak?" tanya Haidar santai.
Terra tidak ikut. Ia di rumah bersama anak-anak. Haidar pergi menghadap sendiri. Darren masih dalam kelasnya belajar.
"Ini tidak mungkin!" bentak ayahnya Rahaja.
"Bapak mau apa? Kok kayanya hanya Bapak saja loh yang marah-marah apa ini diskusi?" tanya Haidar mulai pasang muka serius.
Bahar, ayah Rahaja adalah pria bertubuh gempal. Perutnya buncit. Seluruh jarinya dipasangi cincin batu akik sebesar ibu jari. Kumisnya melintang. memakai baju pangsi warna hitam dengan sabuk ala jawara Betawi.
Bahar menelan saliva kasar. Dua pria lainnya tak banyak membantu. Bahkan keduanya sekarang malah berbalik menyudutkan dirinya.
"Loh, kok gitu sih Pak. Kan tadi kita maunya damai. Kenapa Bapak ngajak ribut!"
"Tau nih. Saya jadi malu. Orang anak kita jelas salah kok!"
Bahar yang tersudutkan tak terima. Ia mengajak duel dua wali lainnya. Haidar hanya bisa menggeleng tak percaya.
"Nggak usah berantem. Malu udah tua," ujar Haidar menenangkan.
"Halah, tau apa kamu. Saya yakin kamu nggak bisa apa-apa cuma modal tampang doang!' ledek Bahar menghina.
"Anu kamu juga paling segini!" hinanya lagi sambil menjentikkan jari kelingkingnya pada Haidar.
Haidar tertawa lepas. Ia tersenyum sinis. Menatap tajam Bahar. Lalu ia berdiri. Bahar harus mendongak untuk memandang wajah pria dengan tinggi 188cm itu.
"Apa mau kita adu besar anu kita?" tantang Haidar sambil berlaga ingin membuka resleting celananya.
Para guru tahan napas terutama yang kaum hawa. Pipi para ibu guru merona mendengar perkataan vulgar salah satu wali murid mereka.
"Duh Pak. Jangan gitu ah!" pekik mereka dalam hati. "Kita kan jadi gimana gitu!"
"Bagaimana Pak?" tantang Haidar lagi.
"Dasar kau mesum. Ini sekolah kenapa kau bicara seperti tidak memiliki pendidikan!" sergah Bahar memutar perkataannya.
"Loh yang mendahului siapa tadi?" tanya Haidar enteng.
"Saya hanya menanggapi tanggapan anda jika anu saya kecil," lanjutnya dengan seringai menyeramkan.
"Itu ... itu ... Arrghh!" Bahar tak bisa bicara lagi.
Pria itu keluar tinggal dua pria lainnya. Mereka meminta belas kasihan dari Haidar untuk melepaskan putra mereka.
"Kami janji, Pak. Akan mengajari lagi lebih keras anak-anak kami," janji mereka dengan memohon.
Haidar juga tidak tega. Mereka masih anak-anak yang butuh bimbingan ekstra. Haidar pun menjanjikan mencabut laporannya untuk Nino dan Wira.
"Saya yakin, Rahaja sangat kuat pengaruhnya pada anak-anak Bapak. Saran saya, agar nantinya mereka memilih dengan siapa mereka bergaul," saran Haidar.
"Baik, Pak. Terima kasih," ungkap mereka tulus.
Haidar hanya mengangguk. Ia akan ke kantor polisi untuk mencabut laporan bersama Virgou nanti.
Pria itu menunggu putra sulungnya. Darren sebentar lagi akan pulang. Haidar memilih melihat mading.
Kriiiing! Bel pun berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Lidya sudah pulang jam sepuluh tadi. Ia masuk pagi jam delapan. Darren turun dari lantai dua, memandang ayahnya yang juga memandangnya.
"Papa!" panggilannya lalu berlari menyongsong ayahnya.
Darren memeluk erat Haidar. Ia menatap wajah ayahnya dengan luapan kegembiraan.
"Papa jemput Darren?" tanyanya dengan binaran mata senang.
"Tentu sayang. Ayo, pulang. Mama dan adik-adik sudah menunggu. Mungkin Grandpa dan lainnya sudah ada di rumah," ajak Haidar sambil merangkul bahu putranya.
Mereka berdua melangkah ke mobil golf di sana ada dua pengawal menunggu. Haidar memegang kemudi. Mereka pun meninggalkan gedung berlantai dua tersebut.
Dalam perjalanan pulang mereka tiba-tiba dihadang empat orang berpakaian pangsi. Bahar ada di sana. Dua pengawal langsung turun. Mereka memanggil tim. Jarak yang dekat membuat tim cepat sampai mereka langsung mengurung empat pria yang menghadang.
"Jangan main keroyokan!" teriak Bahar.
Haidar pun mengurai para pengawalnya.
Bahar kehabisan kata-kata. Ia sepertinya komat-kamit. Membuka satu jurus lalu menyerang Haidar. Gerakan dapat terbaca. Haidar mengelak.
Brug!' Bahar jatuh.
"Aduh!" pekiknya kesakitan.
"Lawan saya. Jangan menghindar!" serunya menahan malu.
Ketiga temannya hanya saling lirik tak berani bergerak. dua puluh pengawal mengitari mereka dengan tatapan tajam.
"Pa, Darren laper!" rengek Darren manja.
"Sebentar sayang. Papa mau singkirin ini belatung nangka," sahut Haidar.
Pria itu sudah malas bermain-main. Ia pun menyerang Bahar dengan satu tendangan memutar dengan gerak tipu.
Pria gempal itu pun terkejut mendapat serangan dadakan. Gerakannya hanya menangkis udara kosong. Dan ....
Bug!
"Uughh!" Bahar memegang perut lalu ambruk.
Celananya basah. Ia mengompol. Haidar ingin melanjutkan satu pukulan lagi.
"Ampun ... ampun, Pak. Saya nyerah!" teriak Bahar meminta ampun.
Haidar pun mengurungkan pukulannya. Ia hanya menjitak kepala Bahar gemas. Hingga berbunyi.
"Keletuk!"
"Duh!' Bahar mengaduh.
Haidar membantu Bahar untuk berdiri. Ia menepuk bahu pria gempal itu. Bahar hanya bisa terbatuk. Ketika Haidar membelakangi pria itu. Bahar tersenyum licik.
"Hup!"
"Papa Awas!"
Tap! Tangan Bahar yang memegang balok kayu dicekal oleh salah satu pengawal. Tangan itu pun dipelintir hingga bunyi.
Krek!
"Aarrgh!" Bahar meraung kesakitan. Tangannya patah.
Pengawal melempar tubuh gempal itu seperti kain lap. Bahar pun terlempar sejauh satu meter.
Brug!
"Aduh!" pekiknya kesakitan. Kini pinggangnya terasa sakit.
Haidar tak peduli. Membiarkan pengawalnya membereskan pria itu. Ia pun menyetir mobil golf hingga sampai rumahnya.
Benar kata Haidar. Semuanya lagi-lagi berkumpul. Pria itu mendatangi Virgou dan membisikan sesuatu.
"Oke, biarkan dia dibawa ke markas. Anak-anak sudah lama tidak latihan," ujar Virgou dengan tatapan sadis.
Haidar mengangguk Terra melihat keduanya dengan pandangan ingin tahu. Haidar dan Virgou yang ditatap hanya tersenyum.
"Kenapa sih, Mas, Kak?" tanya wanita itu dengan perasaan khawatir. "Jangan macem-macem ah!"
"Nggak ada apa-apa, sayang. Ini hanya Bapak versus Bapak. Jadi para Ibu tenang saja, ya," jawab Haidar menenangkan Terra, istrinya.
"Iya, Te. Kamu tenang saja. Biar para Bapak yang menangani ini semua," sahut Virgou juga menenangkan.
"Baik, Te percaya itu. Awas kalo Te denger yang nggak-nggak, nanti!" ancam Terra dengan wajah galak.
"Iya, iya," sahut Haidar. terkekeh.
Terra pun kembali bersama para ibu hamil. Kedua wanita itu manja lagi ke Terra. Kali ini mereka ingin disuapi dengan tangan Terra.
"Iya, Bumil," ujar Terra ketika mendengar rengekan Khasya dan Puspita.
bersambung.
wadaw ... Haidar dan Virgou bersatu. Bakalan jadi rempeyek tuh sih Bahar.
next?