TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEJUTAN



Bart dan David datang, mereka berdua sengaja merahasiakan kedatangannya. Kedua pria yang berbeda usia itu saling pandang dan tersenyum lebar.


"Kita akan kejutkan mereka semua," ujar Bart.


Keduanya menaiki taksi daring yang sudah mereka pesan. Kedatangan keduanya memang mendadak, tapi untuk tidak diketahui oleh orang-orang tentu, Bart dan David lupa jika ada Budiman yang selalu mengikuti pergerakan orang-orang melalui BraveSmart ponsel yang ada di tangannya.


"Kasih tau apa, bilangin aja ya. Keknya seru kalau mereka datang tapi enggak ada yang kaget karena udah tau," tiba-tiba ide usil melintas di kepalanya.


Sedang Bart dan David kini tengah menuju rumah yang dulu ditinggali Gabe. Inilah rencana keluarga utama Dougher Young. Menarik Gabe yang sudah mahir bekerja selama tujuh tahun perusahaan di perusahaan Terra.


"Apa aku harus melamar kerja seperti Kak Gabe Grandpa?" tanya David.


"Tentu saja, kau mulailah untuk memainkan game yang Terra ciptakan untuk merekrut karyawan khusus IT. Kau tau, baik Gisel dan Gabe tak bisa menembus hingga level akhir dari level tersebut," ujar Bart memberi tahu.


"Oh ya?" tanya David tak percaya.


"Dan hanya Darren yang bisa menyelesaikan game itu ketika dia baru berusia delapan tahun," jelas Bart lagi.


"Wow, keren sekali. Jika otak segenius Gisel dan Gabe tak bisa menembus permainan itu dan hanya Darren yang mampu menyelesaikannya?' Bart mengangguk membenarkan asumsi David.


"Apa aku harus berpikiran seperti anak usia delapan tahun ketika menyelesaikan game itu?" tanya David yang ditanggapi gendikan bahu oleh Bart.


Selama empat puluh lima menit mereka pun tiba di rumah yang dulu Bart beli dan akhirnya di tempati Gabe dan istrinya ketika sudah menikah. Rumah itu kosong, semua maid dan penjaga gerbang sudah dikeluarkan oleh Gabe ketika mereka akan pindah.


David membuka gerbang dan mobil itu masuk ke dalam halaman. Luas tanah berkisar 700m² sedang luas bangunan berkisar 300m² itu sudah tampak terlihat kotor, KA sudah nyaris satu bulan ditinggal oleh pemiliknya.


"Kita akan panggil jasa online untuk membersihkan rumah ini!" ujar Bart.


David mengangguk. Semua koper sudah diturunkan dari bagasi mobil SUV. Mereka sengaja menyewa mobil dengan ukuran besar karena barang-barang yang mereka bawa cukup banyak. Semua koper dan tas sudah diturunkan. Mobil taksi daring juga sudah pergi.


David memesan jasa cleaning servis online. Mereka berdua mulai memasuki koper-koper mereka. Tak lama jasa layanan cleaning pun datang. Ada empat wanita dan dua pria. Mereka berenam pun langsung mengerjakan tugas mereka. Tak lama, rumah pun bersih. Makanan pun sudah siap. Jasa itu juga memberikan layanan masak mereka. Karena David memesan jasa full job.


Usai makan, dua orang pekerja langsung membersihkan meja makan. Begitu selesai mereka pun pergi setelah David membayar mereka dengan harga yang sesuai plus tips.


"Grandpa akan berisitirahat. Jangan lupa kunci semua pintu dan istirahat lah segera!" titah pria tua itu.


David mengangguk. Ia pun menurut, mengerjakan semua yang diperintahkan. Setelah mengunci pagar dan pintu. Ia pun membersihkan diri lalu tidur.


Bart terbangun ketika tiba-tiba dirinya seperti ditimpa oleh kayu. Ternyata semua cucu dan cicitnya telah mengerumuninya.


"Benpa!" panggil Dewa sambil tersenyum lebar.


Bart mengira ia mimpi. Ia pun menutup matanya untuk tidur lagi. Tiba-tiba, ia mencium bau masakan. Ia benar-benar mengira itu hanya mimpi saja.


"Benpa!" Rasyid menggoyang.tubuh pria itu.


"Hei ... tunggu sebentar. Aku masih ngantuk," ujar Bart.


"Benpa!" kini Dewi yang memekik di telinga Bart.


Bart langsung terbangun dan nyaris menjatuhkan Dewi yang ada di atas tubuhnya, jika saja ia tak sigap memeluk tubuh gempal itu. Ternyata lima bayi ada di atas tempat tidurnya. Bart langsung gembira luar biasa.


Kaila langsung memeluknya, disusul Dewa, Dewi, Rasya dan Rasid. Bart menangis. Ia begitu merindukan cucu-cucunya itu.


Sedang di kamar satunya. Dav kini tengah diganggu oleh, Kean, Cal, Maisya dan Daud. Pria itu masih menderita jetleg. Ia belum mau bangun padahal Maisya sudah menciumi pipinya.


" Honey, be patient ... I'm still sleepy, later I will serve you until satisfied!" (Sayang, sabarlah ... aku masih ngantuk. Nanti aku akan melayanimu hingga puas!) racau David dengan mata terpejam.


"Om Dav ... ngomong pa'a?" tanya Maisya pada tiga kakaknya.


Memang Maisya, Affhan dan Dimas sudah lancar berbicara. Walau terkadang bahasa bayi masih bercampur jadi satu di sana.


Kean, Cal dan Daud mengendikkan bahu tanda tak mengerti.


"Katanya nanti dia akan melayani kita," sahut Cal mencoba memahami perkataan Om nya itu.


"Ya, sudah..Kita biarkan dia tidur," ujar Cal kemudian mereka semua pun turun dari tempat tidur.


Daud membantu Maisya untuk turun dari tempat yang lumayan tinggi itu. Keempat anak itu pun keluar kamar. Terra dan Puspita yang tengah memasak hanya menggeleng kepala.


Bart keluar kamar sambil menuntun anak-anak. Ia sangat terkejut Terra dan Puspita ada di sana.


"Dari mana kalian tahu aku sudah ada di sini?" tanya Bart kesal.


Maksud hati ingin mengejutkan mereka. Ternyata dia lah yang malah terkejut. Anak-anak sudah ramai mengobrol. Rion ikut menanggapi apa saja perkataan mereka.


David yang masih muka bantal begitu terusik tidurnya. Ia pun hendak menyuruh semuanya diam. Tetapi, Puspita menatapnya horor.


"Bangun kau pemuda. Ini sudah sore mau beranjak malam!"


David kini terkejut melihat rumah sudah ramai. Bahkan Virgou, Haidar, Herman dan Budiman sudah ada di sana. Rumah itu pun penuh dengan lautan anak-anak yang berlarian di taman belakang.


"Kenapa kalian bisa tau?" cicitnya tak percaya.


"Tentu saja aku tahu," sahut Budiman sambil memegang ponsel ciptaan Darren itu.


"Itu BraveSmart ponsel?" Budiman mengangguk.


"Grandpa, kenapa kita tak punya itu!" teriak Dav.


"Ah ponsel itu aku berikan pada Frans dan Leon. Aku tak punya," jelas Bart santai lalu tiba-tiba ia tersadar.


"Ah, kalian curang," sahutnya sambil mencebik kesal.


bersambung.


yaaa iyaaa lah ... kan Budiman gitu


next