TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PAMAN DATANG 2



Siang hari. Aini pulang. Mendengar bunyi klakson dan pintu pagar yang terbuka. Dono langsung membuka pintu rumah.


Aini menstandar motornya, mencabut kunci motor. Gadis itu pun langsung masuk.


"Motornya nggak dimasukin?" Aini menggeleng.


"Soalnya nanti harus berangkat praktek lagi," jawabnya..


Dono mengangguk. Gadis itu masuk dan meletakan tasnya di atas lemari, agar tak dijangkau anak-anak.


"Mba ... mau main dotel-dotelan don," pinta Adit.


"Jangan ya sayang. Itu buat kerja Mba," sahut gadis itu.


"Nanti, kalo Mba gajian, Mba beliin mainannya, ya," ujarnya lagi menjanjikan.


Adit mengangguk dengan senyum lebar. Sedang kakaknya sudah bermain mobil-mobilan yang dibawanya dari kampung halaman. Adit mendatangi kakaknya dan bermain bersama.


Aini duduk sambil menuang air minum di gelas. Setelah itu membuka tudung saji dan makan siang. Ia cukup lapar karena tadi tak sempat sarapan.


"Aini," panggil Dono.


"Ya," sahut Aini.


Ia sudah selesai dengan makannya. Marni mengambil piring kotor suami kemenakannya itu dan mencucinya.


"Paman sengaja mencarimu," ujarnya.


Aini masih menunggu kelanjutan perkataan Dono. Pria itu melirik istrinya yang sepertinya memberinya kode.


"Kau tau kan, Pak kades Burhan?" tanya Dono.


"Tidak!" jawab gadis itu tegas.


"Jangan sombong kamu. Mentang-mentang sudah di kota dan jadi dokter, trus kamu lupa budi!" protes wanita itu sengit.


Aini menatap datar Marni. Gadis itu tak suka dengan nada bicara wanita itu.


"Pak kades kemarin memintamu untuk jadi istri keduanya," lanjut Dono.


"Kau gila paman!" sungut Aini.


"Hei, jangan kurang ajar ya!" protes Marni.


"Kemenakanmu seorang dokter dan kau ingin memberikannya pada laki-laki beristri?" sahut Aini sinis. "Apa itu tidak gila, namanya?"


Dono terdiam.


"Lagi pula. Aku tak memiliki hutang budi pada siapa pun!" sentak Aini lagi mengingatkan.


"Kalian mengambil harta ayah ibuku dan menempatkan ku di panti asuhan. Kalian juga merongrongku ketika memiliki usaha cuci!" lanjutnya lagi.


Dono lagi-lagi terdiam, Marni juga. Keduanya memang tak bisa menyagah.


"Kalianlah yang punya utang budi sama pak kades itu. Maka bayarlah sendiri!" sahut Aini lalu beranjak dari kursinya.


Gadis itu mengambil tas dan kunci motornya.


"Mau kemana lagi!" teriak Marni seakan-akan Aini lah yang menumpang padanya.


"Kerja lah! Kalian pikir apa?" sahut Aini sengit.


Ketika menaiki motornya. Ia beristighfar dalam hati.


"Gue jadi bar-bar gini ya?" tanyanya bingung pada diri sendiri.


Lalu ia pun menjalankan motornya. Sedang di rumah. Dono masih terdiam Sedang Marni mulai mengoceh tak jelas.


"Gimana ini?" tanyanya.


"Diamlah!" sentak pria itu.


"Semua ini karena keserakahanmu!" lanjutnya.


"Aku? Aku yang serakah?" tanya wanita itu tak terima.


"Tapi, kau juga menikmati keserakahanmu!" bentak Marni mengingatkan suaminya.


"Kau yang malas bekerja. Kita butuh makan dan tempat tinggal!" serunya lagi.


Dua anak mereka terdiam. Lalu menyingkir ke sudut saling berpelukan. Dua orang tua mereka bertengkar dan saling menyalahkan satu dan lainnya.


"Kak ... Adit takut," cicit Adit.


"Nggak apa-apa Dik. Ada Kakak di sini, kamu jangan takut ya?" ujar Ditya menenangkan.


"Biar kakak tutup telingamu supaya nggak denger apa-apa. Kita salawat pelan-pelan ya," bisiknya.


Sementara di klinik perusahaan Darren, Aini sangat gelisah. Ia tadi keluar dalam keadaan marah dan itu didengar oleh dua adiknya yang masih kecil.


"Ditya dan Adit, apa mereka nggak apa-apa ya?" tanyanya cemas.


Darren menyambangi gadisnya. Pemuda itu mengernyit melihat wajah Aini yang tak seperti biasanya.


"Dokter, anda kenapa?" tanyanya penasaran.


Aini terkejut melihat kedatangan pemimpin perusahaan.


"Ah ... saya ... saya tidak apa-apa, Pak," jawabnya gugup.


"Apa kau yakin?" tanya Darren malah tak percaya.


Aini mengangguk cepat. Walau ia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Aini!" panggil pemuda itu.


Tak sadar netra gadis itu menatap iris coklat terang milik Darren. Tiba-tiba Aini menitikkan butiran bening dari pelupuk matanya. Darren cukup terkejut. Spontan pemuda itu mengusap genangan basah di pipi halus sang gadis.


Deg ... deg ... deg ... deg!


Kedua jantung berpacu cepat seakan ingin melompat dari sarangnya. Darren buru-buru menyingkirkan tangannya yang nakal dan langsung meminta maaf.


"Maaf ... tadi itu ...."


"Iya tak apa," potong Aini cepat.


Kini keduanya kikuk dengan rona di wajah. Darren kembali menatap gadis berhijab biru itu.


"Jika memang ada masalah. Bilang saja, Dik," sahut Darren. "Mas, siap mendengarkan."


Deg!


Jantung Aini lagi-lagi melonjak kegirangan mendengar kata-kata itu. Wajahnya makin merunduk malu.


"Saya, tidak apa-apa ... Mas," ujarnya pelan ketika di akhir kalimat.


Darren tersenyum lebar dengan panggilan Aini untuknya. Sedangkan gadis itu makin malu saja setelah memanggil pemuda pemilik perusahaan dengan sebutan "Mas".


"Duduklah, Dik. jangan menunduk terus. Kau semakin cantik jika malu seperti itu," ujar Darren menggoda.


"Istighfar, Mas. Nggak boleh menggoda gadis!" tegur Aini, walau apa yang diucapkan berbeda dengan perasaannya.


"Maaf, Dik," sahut Darren lagi.


"Sekarang. Apa kau mau membagi keluhmu. Mas siap, menjadi pendengar setiamu."


Aini menatap Daren lekat. Ia mencari sesuatu dan menemukannya. Ia menemukan rasa percaya dan perlindungan dari pria yang duduk di hadapannya.


"Saya tidak tahu, harus mulai dari mana Mas," sahut gadis itu dengan helaan napas panjang.


Aini tiba-tiba menutup mulutnya setelah ia sadar tadi memanggil Darren apa.


Sedangkan pemuda itu hanya tersenyum lebar dengan wajah senang.


"Ceritakanlah, Dik," pinta pemuda itu.


Tak lama, ia pun menceritakan tentang dirinya dan kedatangan pamannya juga kekhawatirannya pada dua adik misannya yang masih kecil.


Darren dengan setia mendengar curahan hati gadis itu. Budiman ada di luar klinik menunggu tuan mudanya. Pria itu juga setia mendengar kisah Aini, karena pintu terbuka lebar.


Tak ada satu pun yang berani lewat dan ikut menguping pembicaraan dokter dan atasannya itu. Budiman langsung menatap semua karyawan yang lewat dengan pandangan menyeramkan.


Aini selesai berkeluh kesah. Ia merasa bebannya sedikit terangkat.


"Jadi rencana Dik Aini sekarang apa?" tanya Darren lagi.


"Saya hanya mengikuti arus, Mas. Tapi, bukannya pasrah ya. Saya tetap akan berusaha menyelesaikan masalah saya," jawab Aini.


Darren mengangguk. Ia memandang Aini lama. Entah dari mana keberaniannya.


"Menikah lah dengan Mas. semua masalahmu akan teratasi, Dik!" ujar Darren.


Aini terkejut bukan main dengan perkataan pemuda itu. Bukan hanya Aini tetapi Budiman juga sangat terkejut. Ia langsung berdiri dan hendak menyambangi tuan mudanya. Tetapi jawaban Aini membuatnya urung mendekat.


"Tidak, Mas. Aku malah takut jika harus menyeretmu jauh dengan permasalahan ini."


"Lagi pula, ibu dan ayah, Mas. Belum tentu setuju dengan keinginan, Mas," lanjutnya.


bersambung.


yaah ... ditolak.


next?