
Usai makan siang. Barulah Ditya dan Radit tak lagi digendong Saf. Keduanya menggandeng tangan gadis itu.
"Oke ... sampai sini aja ya ... soalnya Bu bidan Saf mau ke bangsal tiga," ujar Saf lalu melepas gandengan tangan dua bocah itu.
"Oke, makasih Bu bidan Saf!" sahut kakak beradik itu.
Saf langsung pergi menuju bangsal tiga. Sedang Aini menuju ruang prakteknya begitu juga Lidya dan Putri.
"Dokter Aini, tadi bagian staf mengatakan jika perawatan dari pasien Tuan Gio Prakoso menjadi tugas kita," ujar perawat yang membantu Aini.
"Oh begitu kah?"
Degup jantung Aini sangat cepat. Sudah dua minggu ini. Gadis itu tak berjumpa dengan Gio. Entah kenapa. Setiap ia usai sholat meminta jawaban tepat. Wajah pria itu yang melintas, bukan Darren.
"Ini surat tugasnya," sahut suster bernama Dini.
"Jadi, beliau sudah dalam kondisi 75% masa penyembuhan?" tanya Aini.
"Iya, Dok. Jadi, tak perlu dokter spesialis untuk penanganan selanjutnya, walau ada beberapa bagian luka masih basah," jelas Dini.
Aini mengangguk. Tiba-tiba seorang suster datang. Ia selalu datang atas perintah Profesor Rini.
"Assalamualaikum, Dok. Mau jemput, Dek Ditya dan Radit," ujarnya.
Aini mengangguk. Gadis itu sangat senang karena dua adiknya banyak yang sayang.
"Jangan nakal, ya. Pulang nanti, Mba jemput," Radit mengangguk begitu juga Ditya.
Aini bersama perawat pergi ke ruangan VVIP. Sedang di bangsal tiga. Safitri sedang memeriksa beberapa ibu hamil dan menyusui.
"Bu bidan, kok ASI saya nggak keluar ya?" tanyanya. "Padahal sudah lewat satu hari!"
"Oh, coba angkat tangan ibu," pintanya.
Ibu itu mengangkat tangannya. Saf meraba ketiak dan benda kenyal penghasil ASI itu. Ia memberi pijatan, hingga membuat wanita itu meringis.
"Tahan ya," pinta Saf.
Tak lama, baju bagian depan perempuan itu merembes basah. Saf meminta perawat membuatkan air hangat.
"Buka bajunya ya, Bu," pinta gadis itu lagi.
Wanita itu menurut. Setelah membuka bajunya, Safitri mengusap pelan dan lembut area dada sang pasien. Semua perawat melihatnya.
"Nah, ASI ibu sudah keluar. Jangan lupa bersihkan area areola dengan air hangat. Lalu putingnya dengan Cutton bud. Lolubus atau penghasil ASI anda tadi tak sinkron dengan kelenjar payudara, jadi produksi ASI-nya tidak keluar. Makanya selama satu minggu, ibu harus membersihkan payudara anda dan merangsang lolubus agar bisa berproduksi," jelasnya.
Wanita itu mengangguk tanda mengerti. Setelah memberikan treatment pada para ibu hamil. Saf ingin kembali ke ruangannya. Tetapi.
"Tidak, saya mau melahirkan normal!" pekik seorang wanita.
Beberapa keluarganya juga menolak operasi sesar.
"Bu, janin dalam kandungan sungsang dan terindikasi terlilit ari-ari. Kami tak mau ambil resiko!" ujar dokter yang menanganinya.
"Tapi, saya tak mau dioperasi!" bentak ibu itu.
Terlihat sekali, jika perutnya mengeras bertanda kram. Saf langsung menenangkan ibu hamil itu.
"Tenang ya, Bu ... tenang," ujarnya.
"Bu bidan!" dokter yang menangani pasien itu sudah putus asa.
"Ibu punya penyakit vertigo, kasar gula tinggi dan gejala awal hipertensi," jelas dokter itu.
Saf mengerti. Memang satu-satunya cara untuk mengeluarkan bayi itu dengan selamat adalah operasi sesar. Bukan hanya bayinya yang selamat tapi juga ibunya.
"Gulanya bisa ditekan?" tanya Saf.
"Kita bisa suntikan insulin satu jam sebelum persalinan," jawab dokter.
"Suntikkan sekarang, lalu siapkan ruang bersalinnya!" titah Saf.
"Hei ... jangan sembarangan, kamu ini hanya bidan!" sentak salah satu keluarga.
Mereka gusar dan menjauhkan ibu hamil itu dari Saf.
"Kami minta hanya dokter yang boleh memegang putriku!" ujarnya sombong.
Safitri angkat tangan. Tapi wanita itu tak mau lepas dari pelukan gadis itu.
"Nggak mau!" pekiknya.
"Nak, jangan begitu. Dia cuma bidan! Ilmunya tak seberapa dengan dokter ahli kandungan!" ujar seorang wanita.
"Pelajaran kami sama, hanya saja, Bu bidan memilih kebidanan, karena jika menempuh jalur kedokteran butuh biaya dan pendidikan yang lama!" jelasnya dengan nada tak suka.
"Ini harus dilahirkan segera jika mau dua-duanya selamat!" ujar Safitri lagi.
"Dia baru tujuh bulan. Apa kata orang kalo dia melahirkan sekarang!" seru wanita itu.
"Loh, bagaimana sih, Bu! Lagian melahirkan tujuh bulan itu sama saja melahirkan ketika sembilan bulan!" sahut dokter sedikit meninggi suaranya.
"Ah, rumah sakit apa ini. Sudah kita pindah rumah sakit saja, yang lebih rasional dan berkompeten!" ujar seorang pria pada akhirnya.
Ibu hamil tadi ditarik paksa oleh keluarganya. Safitri memilih angkat tangan dan membiarkan mereka. Keluarga itu pun meninggalkan rumah sakit. Masih terdengar teriakan ibu hamil tadi.
"Kita sudah berusaha. Kandungan itu sudah bermasalah dari awal, tetapi pihak keluarga ngotot," jelas dokter itu.
Safitri hanya bisa menggeleng. Berdoa semoga ibu tadi bisa melahirkan bayinya dengan selamat.
Gadis itu kembali ke ruangannya. Dia sudah ditunggu oleh wanita yang kemarin.
"Selamat siang, Bu bidan," sapa wanita itu.
"Siang juga Bu Sevia!" balas Saf menyapa ramah.
"Ada keluhan apa? Belum satu bulan loh," ujar Saf.
"Saya akan melakukan perjalanan, Bu bidan. Jadi, saya akan lewat pemeriksaan. Jadi mau periksa apakah janin saya baik-baik saja, jika saya bawa pergi?" tanya wanita itu.
"Oh, kalau begitu saya periksa tekanan darah dulu ya," ujar Saf.
Usai diperiksa. Safitri hanya meminta wanita itu tak terlalu lelah dan stress.
"Saya sarankan untuk tidak berpergian terlalu lama, kandungan anda termasuk lemah," jelas gadis itu.
"Saya harus bekerja, Bu bidan. Mereka kembar kan?" Saf mengangguk.
"Saya butuh biaya banyak untuk semuanya," jelas Sevia.
"Buat usaha di rumah, jualan online atau investasi emas," saran Saf.
"Tapi itu terserah ibu sih," lanjutnya lalu tersenyum.
"Kalau begitu, terima kasih ya, Bu bidan. Saya akan pikirkan lagi," ujar Sevia lalu ia pun pamit.
Saf berdiri dan menyalami wanita itu. Miris, ia hamil ketika sudah menjadi janda. Saf sangat yakin ada konspirasi keluarga di sana.
Pasien datang silih berganti. Hingga waktunya pulang. Safitri melihat Aini yang kerepotan membawa Radit yang tertidur. Gadis itu langsung membawa balita itu dalam gendongannya.
"Bu bidan!"
"Sudah tidak apa-apa."
Saf menurunkan tubuhnya lalu membawa Ditya juga dalam gendongannya. Kedua balita itu sudah tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 19.12. Sepertinya Aini ada lembur. Lidya dan Putri sudah pulang karena ruangannya sudah gelap.
"Bawa ke motor saya saja," pinta Aini.
"Saya antar dengan mobil. Bahaya jika naik motor!" tekan Safitri tak bisa ditolak.
Mobil Honda Civic terbaru warna putih milik Saf, hadiah dari pengusaha yang ia tolong. Melesat meninggalkan halaman parkir rumah sakit. Gadis itu mengikuti laju motor. Butuh dua puluh lima menit untuk sampai rumah sewa gadis itu.
"Di sini, Bu bidan!" ujar Aini.
Saf melihat suasana sekitar. Ia menggeleng.
"Daerah ini cukup rawan. Nggak mau pindah?" tanya Saf.
"Mau ambil perumahan di wilayah pinggir kota, lebih dekat kemanapun di sana juga sudah lengkap fasilitasnya," jelas Aini.
"Segera pindah! Jangan tunggu lama," ujar Saf.
"Iya, tunggu tanda tangan surat KPR sah, saya pindah!" ujar Aini.
"Oke, saya pulang. Langsung tutup pintu dan kunci rapat!"
"Nggak mampir dulu?" tawar Aini.
Saf menggeleng. Ia pun pamit dengan mengucap salam. Aini bergegas mengunci pintu pagar dan memasukkan motornya. Lalu mengunci pintu.
bersambung.
next?