TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CERITA SETAN ALA BOMESH



"Bocon?" tanya Saf sedikit tak mengerti.


"Ipu woh Ata' yang betanna bompat-bompat!" sahut Bomesh serius.


Darren dan Saf melipat bibir mereka ke dalam. Keduanya menahan tawa. Nai dan lainnya menundukkan wajah mereka ke lipatan tangan agar tidak tertawa.


"Oh, pocong!" ralat Saf setelah berhasil mengendalikan dirinya.


"Biya ipu ... Daddy lansun teluan lumah woh ... puat nolonin teutanda sepelah," ujar Bomesh serius.


Darren merekam cerita itu dalam ponselnya. Pria itu mengadakan lifechat agar semua tau kegiatan para bocil.


"Domesh judha tatut. Mommy judha, pelut tita beuldua, telus paca doa!" lanjutnya.


"Biya. Teumalin ipu bas balam bumat. Tata wowang-wowang banat betan beultelialan!" kini Domesh yang cerita dengan mimik serius.


"Ih, pati teumalin malam petanna datan ladhi! Badahal butan balam bumat!" sahut Bomesh tak kalah serius.


"Terus?" tanya Darren lagi.


"Teumalin yan datan butan bocon ladhi, pati bondoluwo!" seru Bomesh mengingat teriakan orang tetangga sebelah rumahnya.


"Ata' Dallen, pondoluwo ipu pa'a?" tanya Sky pemasaran.


Baru Darren hendak menjawab Bomesh sudah memberitahunya apa itu bondoluwo eh gondoruwo.


"Tata wowan sih betanna pindi beusal tlus walnana bitem beulpulu!"


"Ih ... syelem!" sahut Sky tampak takut.


Safitri sepertinya harus menghentikan cerita hantu ini. Ia pun mengatakan sebenarnya tetangga itu hanya ingin ngerjain orang.


"Padhi, ipu tat beuneul Ata'Babitli?" tanya Sky bingung.


"Iya, orang yang selalu sholat tepat waktu tidak akan diganggu setan," jelas gadis itu.


"Spasa pahu wowan ipu eundat solat!" sahut Domesh kekeh dengan apa yang dikatakannya.


Saf menggeleng.


"Tidak boleh su'udzon atau berburuk sangka nanti ber- ...."


"Bosa!" sahut para bayi.


Saf terkikik geli.


"Kalian tau, jika ketemu setan kalian baca aja takbir. Allahu Akbar!"


"Ipu petanna ilan?" tanya Sky serius.


"Iya," jawab Saf sambil menganggukkan kepala.


"Pati Bomesh pilan pa'a?" tanya Bomesh bingung.


Saf sedikit terkejut. Ia lupa ada dua bocah yang tak mengerti apa katanya tadi.


"Tanya Mommy, pasti Mommy paling tahu," jawab gadis itu akhirnya.


Bomesh dan Domesh mengangguk tanda mengerti. Saf menghela napas lega.


Darren tersenyum. Dari tadi, pria itu tak sedikitpun bergeser pada tubuh padat gadis itu. Ia sangat nyaman berada dekat Safitri.


"Pangsitnya sudah jadi!" teriak Terra.


Anak-anak langsung berhamburan. Tadinya Saf ingin ikut tapi, cekalan tangan Darren membuatnya terduduk lagi. Kini ada di pangkuan pria itu. Setengah mati Safitri mengelak pelukan hangat Darren. Tapi, justru makin mengeratkan pelukannya.


"Sayang," panggil Darren.


"Mas," cicit Saf dengan rona muka memerah.


Akhirnya Darren melepaskan pelukannya walau sedikit tak rela. Tapi, ia menghargai gadis itu.


"Nikah yuk!" ajaknya lagi.


"Yuk!" sahut Saf langsung lari dari jangkauan pria itu.


Darren tertawa. Ia akan memastikan dulu perasaannya pada Safitri. Ia tak mau kejadian Aini terulang lagi.


"Kita akan bersama, sayang," sahutnya pelan dan yakin.


Darren pun masuk ke dalam untuk sekedar mencicipi pangsit rebus buatan gadisnya. Bahkan dengan berani ia minta suap. Dengan cekatan Saf menyuapi pria itu, karena ia lupa jika banyak yang memperhatikannya.


"Piee ... pieee Ata' Dallen syama Pu pidan puap-puapan!" ledek Bomesh.


Saf langsung malu bukan main. gadis itu malah memeluk Terra karena kedapatan berlaku mesra pada pria itu. Terra tertawa. Sedang Lidya dan Aini senang dengan kelakuan keduanya.


"Wah, muta Ata'Babitli belah taya pampu balupintas!" kini Benua yang meledek gadis itu.


Rion tertawa senang. Kini, remaja itu yang menggoda bidan cantik, hingga makin malu bukan main.


Para pria datang dengan tubuh berkeringat. Mereka langsung disuguhi makanan lezat pemberian Safitri.


"Ini enak sekali. Jujur, aku nggak bisa nyontek resepnya," ujar Gisel yang baru datang.


Khasya, Seruni dan Puspita mengangguk membenarkan. Saf hanya tersenyum senang, hasil jerih payahnya habis tanpa sisa. Segala penat yang melanda pun hilang begitu saja.


"Makasih, Bunda, Bommy, Mommy, Mama ... nggak ada resep spesial kok," ujar Saf merendah.


"Oh ya, Aini. Bagaimana persiapan pernikahan mu?" tanya Virgou.


"Alhamdulillah lancar, Dad. Malah mereka menyarankan menikah secara resmi saja di kantor KUA," jawab Aini dengan wajah merona.


"Alhamdulillah. Berarti kalian memang berjodoh. Buktinya, persiapannya cukup singkat. Jadi satu bulan lagi kan tanggalnya?" tanya pria dengan sejuta pesona itu.


Aini mengangguk membenarkan. Saking bahagianya, sampai gadis itu tak bisa berkata apa-apa.


"Ya, sudah. Kalau kalian mau, biar Daddy siapkan gedung dan semua resepsinya," ujar Herman kini.


"Tapi ...," Aini ingin menolak.


"Tidak ada kata tapi, sayang!" elak pria itu kekeuh.


Aini mengucap terima kasih. Ia begitu beruntung mendapatkan keluarga yang hangat dan tak mempermasalahkan kegagalan kemarin.


"Mama, pita bawu palotean!" pinta Sky.


"Oteh Baby," sahut Terra.


Dav langsung menyetel mik. Terjadi perebutan antara Benua dan Sky, hingga terjadilah aksi dorong.


"Baby!" tegur Rion tak suka.


Sky dan Benua menunduk takut. Rion hanya menatap keduanya.


"Kenapa kalian berkelahi?" tanya remaja itu tegas.


"Spy bawu puluan ... hiks!" jawab bayi itu sambil menunduk.


"Tan Spy yan binta syama Mama puluan!" lanjutnya dengan air mata menggenang.


Safitri sungguh tak tega jika melihat anak-anak menangis. Ia ingin membela keduanya, tapi ia sangat mengerti jika hal itu tak berdampak baik pada anak-anak.


"Benua!" panggil Rion.


Kedua orang tua mereka tampak membiarkan bayi besar itu bertindak. Mendengar hanya namanya saja yang disebut, Benua menangis.


"Ata' Ion eundat sayan Penua ladhi ... huaaa!"


Rion menyesal karena hanya memanggil namanya saja. Remaja itu akhirnya mengalah. Ia memeluk Benua yang menangis sedih. Sky pun jadi ikut sedih.


"Ya budah, Ata' Penua pulu yan palotean," ujarnya mengalah.


Benua menolak. Batita itu masih sedih kakak panutannya hanya memanggil namanya saja.


"Maafin Kakak, Baby. Makanya jangan berebutan lagi, oteh!" ujar remaja itu menenangkan dan mencium Benua penuh kasih sayang.


"Udah ... ayo nyanyi!" ajak Dav.


Bomesh lah yang kini memegang mik. Bayi itu sudah menggoyang pinggulnya. Satu lagu anak-anak dengan judul "Lihat kebunku," berputar.


"Bihat bebuntu ... beunuh penan buna ... aba yan butih ... ban lada yan pelah ... betiap bali ... butilan bemua ... pawal, pelati pemuana pindah!"


Semua bertepuk tangan. Akhirnya Benua berhenti menangis, ia ikut bernyanyi. Begitu juga Sky. Mereka akur kembali.


"Ata'Babitli ... payo banyi!" ajak Domesh semangat.


Bomesh menyerahkan mik pada gadis bongsor itu. Ia akan bernyanyi sama dengan para batita.


"Pihat betuntu ... benuh benan buna ... ada yan butih ... pan lada yan melah ... betiap hali ... tusyilan pemua. mawal ... peulati .. bemuana indah!'


Darren tertawa terbahak-bahak. Padahal lagu itu sudah sering ia dengar dengan lagu lirik salah. Tapi, kenapa ketika Saf yang bernyanyi, ia merasa lucu dan itu membuatnya tertawa.


"Wah ... Ata' Dallen petawa. Pita seulbu Ata'!" seru Bomesh.


Ketiga bayi itu menyerang Darren hingga pria itu tergelak. Safitri sangat suka dengan tawa pria itu. Ia akan membayangkan jika nanti punya anak banyak dari Darren sama seperti Mama Terra. Pikirnya.


"Eh," sahutnya tak percaya dengan apa yang ia pikirkan.


bersambung.


okeh ... nggak apa-apa...


next?