TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TWINS?



Seperti janji Haidar, pria itu membawa Terra, istrinya periksa ke dokter. Terra sangat yakin jika ia tidak sedang mengandung. Ia baru saja selesai masa haid. Walau ia ragu.


"Kita periksa saja dulu, oteh," ajak Haidar lembut.


"Oteh," sahut Terra lalu tersenyum.


Mereka berdua pun kini berada di ruang pemeriksaan. Seorang dokter perempuan tengah memeriksanya. Ia pun tersenyum.


"Nampaknya kekhawatiran, suami anda benar. Selamat ya Bu, anda kini sedang mengandung. Bagaimana jika kita USG, untuk melihat perkembangannya janinnya," ujar dokter Asifah ramah.


Terra hanya mengangguk. Ia begitu bahagia mendengar berita kehamilannya. Setelah mengoles perutnya dengan gel khusus. Dokter meletakkan alat pada perut Terra.


Terdengar detak jantung yang keras, seakan berlomba. Dokter Asifah tersenyum melihat dua janin yang berkembang sempurna.


"Wah, kembar lagi nih, sepertinya jagoan dua-duanya," jelasnya antusias.


Haidar menatap haru layar yang menampilkan janin yang ada di dalam perut istrinya. Ia mencium sayang kening Terra. Beribu kata terima kasih ia ucapan. Terra hanya terharu melihat dua jagoannya baik-baik saja.


"Jika dilihat janinnya berusia sudah enam minggu," jelas dokter lagi.


"Yang benar saja, saya sepertinya sebulan lalu masih mendapatkan haid, Dok," ujar Terra menyangsikan perkiraan usia kandungannya.


"Tapi, itu biasa terjadi kok dan normal-normal saja. Jika dilihat kondisi janin yang berkembang. Sepertinya haid yang Ibu keluarkan adalah darah kotor dan saya yakin, Ibu pasti tidak menghitung berapa hari haid berlangsung," jelas dokter lagi panjang lebar.


Terra memang tidak mengingatnya. Ia pun tidak mempermasalahkannya. Kini di perutnya sudah ada dua janin yang mesti ia jaga.


Keduanya pun pulang dengan wajah gembira. Haidar memosting foto hasil USG di status Wa juga di chat grup family.


Haidar.


(We're got twins again!)


Bart.


(OMG! God bless you. Congratulation, son!)


Virgou.


(Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Yang Maha kuasa.)


Herman.


(Alhamdulillah, semoga diberi kemudahan hingga proses melahirkan).


Haidar.


(Aamiin)


Terra.


(Aamiin)


Puspita.


(Aamiin)


Khasya.


(Aamiin, Rion bakal tambah pasukan lagi. 🀭)


Gisella.


(🀭🀭 Fotokopi Rion nambah!)


Terra.


(🀦!)


Budiman.


(πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†)


Herman.


(Nggak apa-apa. Rion kan yg the king of Babies. Kalian nggak tahu bagaimana di sini juga kualahan menghadapi Satrio dan Arimbi, mungkin Terra lebih paham bagaimana sifat si Quarto!)


Terra.


(Jangan tanya, Yah. Kemarin ditinggal Rion seharian. Te nyaris copot kaki sama copot jantung karena tingkah mereka. Nggak jauh beda sama master mereka Rion!)


Virgou.


(Hei ... kalian mengosipi anak kalian sendiri! Kau tahu, kini Affhan dan Maisya pun sudah seperti kakak mereka Kean dan Cal! Padahal mereka baru berjalan!)


Khasya.


(Ah, Dimas pun begitu. Kini ia memaksa berbicara padahal belum waktunya. 😌).


Budiman.


(Untung anakku belum diasuh oleh Tuan Baby.)


Gisella.


(Maaf sayang. Kemarin aku menitipkan Samudera dengan Kak Terra.).


Terra.


Gisel.


(Dia sudah ingin merangkak padahal baru lima bulan!)


Budiman.


(Tuan Baby!)


Terra.


(Kita memang memperbanyak Rion dibanding Lidya dan Darren😌).


Virgou.


(Tidak apa-apa. Yang penting mereka sehat dan kuat!).


Herman.


(Dan jadi anak Soleh dan salehah! Aamiin!)


Khasya.


(Aamiin).


Chatingan berakhir. Terra tersenyum geli membaca percakapan mereka. Haidar pun ikut terkekeh. Rion memang panutan adik-adiknya. Selain dia yang paling dekat usianya dengan anak-anak yang baru lahir.


Jadi tak heran jika nanti Kean, Cal, Sean, Al, Daud, Nai, Arimbi, Satrio, Dimas, Affhan dan Mai. Akan mirip kelakuan Rion. Belum lagi yang ada di kandungan Khasya dan Puspita.


"Aku membayangkan jika kita berkumpul maka rumah akan penuh dengan lautan manusia," ujar Haidar terkekeh sambil membayangkan apa yang dia ucapkan.


"Hei Bud, kamu tadi nyetir sambil ngetik ya!" tegur Haidar tersadar.


"Maaf, Tuan," sahut Budiman sambil melirik dari kaca spion tengah mobil.


"Jangan lagi ya," saran Terra.


"Oteh," sahut Budiman meletakan ponselnya di dashboard.


Selang beberapa menit, mereka sampai di depan lobby perusahaan Haidar. Setelah mencium istrinya ia pun masuk ke dalam. Budiman kembali mengarahkan mobil ke perusahaan Terra.


Sedang di sekolah. Lidya baru saja menampar Nina karena meludahi Putri. Kali ini dirinya benar-benar marah. Sedang Riani kini mulai menghukum Nina yang tak bisa ia kendalikan sikap buruknya.


Nina menangis tersedu sambil menggosok pipinya yang sakit akibat tamparan Lidya. Untuk pertama kalinya gadis kecil yang penuh kasih sayang itu tidak bisa menahan emosinya.


Putri sampai memeluk Lidya karena tubuh sahabatnya bergetar setelah menampar. Ketiganya jadi menangis.


Nina, menangis karena pipinya perih. Sedang Lidya dan Putri menangis karena menyesal. Lidya menyesal karena menampar Nina. Sedang Putri menyesal kenapa Lidya yang lembut bisa sekasar ini.


"Kenapa kau bisa sekasar ini, Dya ... ini bukan dirimu ... hiks ... hiks," keluh Putri.


"Huuu ... uuu ... aku khilaf ... aku khilaf," jelas Lidya tersedu.


"Nina, tolong jelaskan pada Ibu. Kenapa kau ludahi Putri. Padahal ia tak melakukan apapun padamu. Dia bahkan menawarkan kue buatan ibunya padamu?"


Nina masih menangis. Gadis kecil itu membenci Putri. Padahal ia juga ingin bersahabat dengan Lidya dan menyingkirkan Putri.


Lidya pun akhirnya memeluk Nina. Berkali-kali ia meminta maaf pada teman sekelasnya itu. Nina pun menangis. Entah mengapa ia tidak menyukai Putri.


Pipi Nina pun dikompres oleh Riani. Wanita itu hanya bisa menghela napas, ia tak bisa menyalahkan Lidya yang membela sahabatnya. Kelakuan Nina tadi benar-benar di luar batas.


Bel berbunyi, tanda pelajaran usai. Lagi-lagi Lidya pulang bersama Rion. Kali ini para bodyguard telah menunggu di luar gerbang. Nina pulang dengan rasa malas.


"Nina mau Ibu antar pulang?" tawar Riani.


Wanita ini ingin tahu, dari mana kelakuan kasar anak didiknya ini. Nina meragu tetapi berikutnya ia pun mengangguk.


Nina pun memeluk gurunya erat. Riani melajukan pelan motornya agar tidak membahayakan muridnya.


Ketika jarak masih satu meter lagi dari rumah Nina. Gadis kecil itu meminta berhenti.


"Bu, turunin saya di sini saja!"


"Loh, kan rumahnya masih di depan situ, sayang," sahut Riani.


"Di sini aja, Bu," pinta Nina lagi.


Riani menepikan motor bebeknya. Membantu gadis kecil itu turun dari boncengan. Setelah mencium punggung tangan gurunya. Ia pun berlari ke rumahnya. Perlahan, Riani mengikuti gadis kecil itu.


Ketika Nina baru saja masuk. Terdengar teriakan ibunya.


"Nin, habis ganti baju kau masak nasi udah itu gosok baju!"


"Iya, Bu!"


Riani tercengang. Nina belum makan siang. Tadi, ia melihat muridnya tak membawa bekal. Lalu terdengar teriakan lagi.


"Bedain baju Kak Gina ya, itu ibu beli mahal harganya!'


Kini Riani tahu dari mana sifat kasar Nina selama ini.


bersambung.


lagi-lagi ibu yang membedakan kasih sayang anak.


next?