TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MIMPI



Terra masih memandang pekatnya langit. Sebagian awan menghitam berserak menutupi indahnya bintang. Haidar menatap istrinya.yang tengah melamun.


"Sayang!' panggil pria itu.


Haidar memeluk istrinya. Mengecup tengkuk Terra. Wanita itu membalikkan tubuhnya. Tangannya ia kalungkan di leher suaminya. Sedang Haidar memeluk erat Istri dan mengecup bibirnya.


"Kenapa? Ada apa? Apa masih marah dengan mendiang Ayah?" Terra menggeleng.


"Te kemarin hanya melampiaskan kekesalan Terra, Mas," ujarnya.


Haidar menggiring sang istri ke ranjang. Lalu ia mendudukkannya. Kemudian menutup tirai dan duduk di sebelah sang istri. Haidar menggenggam dan mencium buku tangan Terra.


"Sayang, dengarkan aku," ujar Haidar.


Pria itu pun merebahkan dirinya. Terra menyusul dan langsung tenggelam dalam pelukan sang suami.


"Benar kata Kak Virgou, ambil semua hikmahnya. Lidya tak akan menjadi besar tanpa siksaan itu. Walau, aku juga tak membenarkan siksaan yang didapatkan Lidya," lanjut pria itu.


"Iya, Mas. Aku tau," ujar Terra.


"Maafkan Ayah, sayang. Aku yakin dia sangat menyesal sekarang," lanjut Haidar.


Terra mengangguk. Ia mengeratkan pelukannya. Wanita itu pun terlelap dalam mimpi panjang.


Terra berlari ke sana ke mari tak tentu arah. Ia berteriak-teriak tapi suaranya tak ada yang keluar. Ia menjerit dan menangis tetapi tak ada satu pun suara yang keluar dari mulutnya.


Suasana sepi hanya putih Terra tak bisa melihat ia berjalan di mana. Ia kembali berlari. Hingga ia menemukan pintu. Ia pun bergegas ke pintu itu, tetapi pintu itu semakin lama semakin jauh. Ia pun terduduk lemas.


Terra mulai sesak. Ia tak bisa bernafas hingga ia melihat wajah sedih yang menatapnya.menghiba. Sosok pria yang menatapnya dengan air mata berderai.


"Maaf kan Ayah .... maafkan Ayah ...."


Terra mendengar suara ayahnya. Makin lama suara itu makin merintih. Terra terdiam. Ia menatap netra pria itu. Mata yang sangat ia kenali.


"Ayah!" panggilnya.


Mulut pria itu bungkam hanya matanya yang basah dan permohonan maaf sebesar-besarnya.


"Mama, maafin Ayah Ma,"


Terra menatap Lidya. Gadis remaja itu mengangguk. Ia sudah memaafkan ayahnya. Kini saatnya dia lah yang memaafkan sang ayah. Rion juga datang dan memaafkan ayahnya begitu juga Darren. Terra merasa berat. Namun, ia juga lelah dengan hatinya yang berat dan sesak ini.


"Mama," panggil ketiganya sambil mengulurkan tangan.


Terra menggapai tangan itu berkali-kali tapi belum sampai. Terra belum memaafkan ayahnya.


Wanita itu memejamkan mata, lalu.


"Te memaafkan Ayah," ujarnya.


Tiba-tiba ia pun ditarik oleh ketiga anaknya. Darren, Lidya dan Rion tersenyum. Terra mengerti. Siksaan pedih yang diterima ayahnya sebelum pemberian maaf dari anak-anaknya.


Terra terbangun dengan napas tersengal. Haidar juga ikut terbangun.


"Sayang?" panggilnya.


Haidar yang melihat istrinya seperti kehabisan napas langsung menyadarkan Terra.


"Sayang,' panggil sang suami cemas.


"Air ... air!'


Haidar pun memberi air di dalam gelas yang selalu ada di atas nakas. Ia pun memberikannya pada Terra. Wanita itu pun langsung menandaskan air minum itu.


"Sayang ... ada apa? Kau mimpi buruk?" tanya Haidar cemas.


Terra mengatur napasnya. Haidar memberinya pelukan dan ciuman hangat. Ia menenangkan istrinya.


"Tidak apa-apa sayang ... tidak apa-apa," ujarnya.


"Mas ... Te ... mimpi Ayah," Terra pun menceritakan mimpinya pada sang suami.


Haidar pun mendengarkannya hingga Terra selesai. Pria itu mencium kening istrinya.


"Apa Te durhaka karena tak memaafkan ayah?" tanya wanita itu sedih.


"Apa sekarang sudah maafin Ayah?" tanya Haidar sambil mengusap genangan di pelupuk mata istrinya.


"Insyaallah, Mas ... Te memaafkan mendiang ayah seperti Te memaafkan Kak Virgou dan Ayah Herman," ujar Terra yakin.


Haidar tersenyum. Ia kembali merengkuh tubuh istrinya lalu membawanya tidur lagi. Hari baru pukul 01.00 dini hari. Terra memeluk suaminya. Tiba-tiba, ia membisikkan sesuatu pada Haidar.


Dengan sigap pria itu pun melayani keinginan. Terra dengan semangat dan bahkan kini wanita itu pun pasrah di bawah kukungan suaminya.


Pagi menjelang. Lidya terbangun dengan rambut mirip singa. Begitu juga Nai, Maisya, Arimbi dan Kaila. Keempatnya saling tatap lalu kemudian mereka pun terbahak-bahak melihat penampilan masing-masing.


"Daddy ... bangun!" katanya sambil berlaga menakuti.


Virgou yang sudah bangun dan tengah berdzikir jadi tertawa geli. Kaila mengira Daddynya ada di ranjang.


"Baby Daddy di sini," ujarnya.


Kaila melihat ayahnya yang sedang di atas sajadah dan memegang tasbih. Ia pun kembali berjalan ala zombie. Pria itu langsung menarik bayinya dan menggelitiki hingga tergelak.


Bukan hanya Kaila, ternyata Arimbi dan Maisya juga ikut-ikutan. Setelah dari kamar Virgou. Mereka mendatangi kamar Herman.


"Punda ... atuh singa ... haaauumm!" ujar Kaila menakuti.


Khasya yang sudah bangun tertawa melihat penampilan ketiganya. Herman yang di kamar mandi pun keluar lalu ikut tertawa.


"Ah ... nggak ada yang takut, Kak, Dik. Yuk kita bangunin Mama kalo gitu!' ajak Maisya.


"Yuk," ujar Arimbi.


Ketiganya pun ke kamar Terra. Mereka juga berjalan menakuti. Haidar yang tau harus berbuat apa. Pura-pura ketakutan.


"Mama tolong ... ada singa cantik datang!' serunya.


Terra yang sudah bangun setelah subuh tapi sudah itu tidur lagi lalu pura-pura ketakutan.


"Tolong ... ada singa cantik!"


Haidar pun menerjang ketiganya ketika naik ke kasur dan menggelitiki mereka hingga tergelak.


Kini semuanya pun sarapan bersama. Lidya melihat Robert salah satu pengawalnya. Ia pun memanggil pria itu.


"Om Robert, sini!"


Robert mendekati nonanya. Lidya yang memang sudah menyiapkan dasi. Ia pun membuka dasi hitam pria itu dan memasangkannya di kerah baju Robert.


"Ini hadiah buat Om," ujar gadis itu.


"Terima kasih, Nona. Ini indah sekali," ujarnya dengan mata berbinar.


"Sama-sama," sahut Lidya sambil tersenyum, sambil menyerahkan dasinya yang lama.


Melihat teman sejawatnya mendapat hadiah. Semua pengawal datang. Haidar sampai kesal dibuatnya.


"Kenapa kalian mengantri seperti ini? Mau antri sembako?"


"Paa!" tegur Lidya.


Semuanya pun dipakaikan dasi oleh Lidya tanpa kecuali hingga tangan gadis itu pegal. Budiman sampai marah pada semua pengawal.


"Kami kan minta adil, Tuan ... masa hanya Robert yang dipakaikan. Kami juga mau," rajuk Juan.


"Ish ... jijik aku lihat tampang manjamu itu!" sahut Budiman sengit.


"Baba, biar tak apa. Sekarang sudah nggak pegel lagi kok," ujar Lidya.


Karena kasihan dengan nona mereka, sisanya hanya minta dasi saja tanpa dipasangkan. Lidya pun dengan senang hati memberinya.


"Sudah kebagian semua kan?" tanya gadis itu.


"Sudah, Nona ... terima kasih!" ucap mereka semua sambil membungkuk hormat.


Lidya balas membungkuk. Seruni tersenyum melihat kelembutan gadis itu. Ia pun memeluk Lidya. Remaja itu membalas pelukannya.


"Kau tau sayang. Aku sangat senang dipeluk olehmu," aku Seruni.


Sementara di benua lain. Sosok pria sedang melihat semua kopernya. Ia akan pergi ke negara yang kaya sumber mineralnya. Negara yang penuh dengan masyarakat yang ramah.


"Jacob, kita pergi menyusul Nyonya mu," ujar Demian tersenyum.


"Memang Tuan tau di mana rumahnya?' tanya pria itu bingung.


"Ck ... kau ini!' sahut Demian sengit.


Sedang di sebuah perusahaan sosok tampan lain juga menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.


"Om Rommy, lusa kita akan kedatangan salah satu perusahaan terbesar di Eropa untuk menanam modalnya dalam pengolahan chip data."


"Semua sudah siap Tuan!"


bersambung .


kalo jodoh emang nggak kemana.


Next?