TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LOVE



"Jadi Iya, nggak boleh jatuh cinta sama sekali?" tanya gadis itu dengan tatapan tak percaya pada kelima pria posesif di hadapannya.


Suara gadis itu sedikit tercekat, bahkan ada genangan air di sudut matanya. Haidar sedih ia begitu sangat terpukul melihat air mata putrinya. Ia merasa gagal menjadi ayah.


"Sayang, bukan ... ah ... Daddy terlalu mencintaimu, Nak. Jadi, Daddy cemburu," ujar Virgou langsung memeluk Lidya.


"I'm so sorry dear ... i'm so sorry," ujarnya lalu menciumi pucuk kepala anak gadisnya.


"Is oke Daddy, i understand," sahut Lidya sangat mengerti.


Haidar juga memeluk Lidya. Ia menatap wajah cantik itu. Gadis kecil yang ia temui di rumah sakit. Netra yang sama masih ia temukan saat pertama kali bertemu dengan Lidya.


Haidar membelai pipi bulat putrinya, lalu mengecup kening Lidya dengan lembut dan memeluknya.


"Jika kau jatuh cinta nanti, Papa harap kau masih mencintai Papa, walau hanya sedikit saja. Apa kau bisa?" pinta Haidar dengan suara tercekat.


Terra menutup mulutnya, ia begitu terharu mendengar perkataan suaminya.


Lidya menitikkan air mata. Ia menatap lekat laki-laki pertama yang menyayanginya dengan tulus itu. Lelaki pertama yang ia panggil Papa. Laki-laki pertama yang mengatakan jika ia adalah putrinya.


"Cinta pertama Iya adalah Papa. Papa adalah lelaki yang tak akan tergantikan oleh siapapun," jelas gadis itu pada pria di hadapannya.


Herman pun ikut memeluk Lidya. Pria itu dulu sempat sepemikiran dengan mendiang ayahnya. Menyingkirkan ketiga bersaudara ini sejauh-jauhnya. Tetapi, setelah berjalanya waktu. Ia yang paling berat jika memang Lidya berpaling darinya.


"Ayah tak tau, bagaimana bisa hidup tanpa mu selama ini, sayang. Ayah nggak bisa membayangkan jika nanti ada seorang pria datang dengan gagah dan bisa menjagamu, Ayah belum sanggup ... hiks ... hiks!"


Terra menangis, Puspita dan Seruni saling berpelukan. Sedangkan Gisel pun akhirnya menangis dan memeluk kakak perempuannya. Darren dan Rion juga menunduk. Semua anak pada bingung.


"Ata' Kean ... Ata' Sean ... ipu wowang pewasa penata sih?" tanya Benua bingung.


"Nggak tau, mungkin masalah hati lagi," jawab Sean ikut menyusutkan air matanya.


Anak-anak lalu berhamburan ke ibu-ibu mereka. Kaila mengusap air mata Seruni dan Puspita. Kanya juga ikut dipeluk oleh Domesh.


Maria memeluk Gomesh, suaminya. Sang suami juga belum rela jika nonanya akan diambil orang.


"Aku bersumpah ia harus melewati aku dulu sebagai pagar pertama!" tekan pria raksasa itu sambil menarik ingusnya.


Lidya yang mendengarnya merengek, lalu mendatangi pria besar itu dan memeluknya.


"Terima kasih Om, sudah sayang banget sama Iya," ujar gadis itu dengan suara tercekat.


Bram dan Bart juga tak mau ketinggalan. Mereka juga akan membuat perhitungan siapa pun yang ingin mendekati semua cucu perempuan mereka.


"Jangan khawatir. Pengawal Nona bukan hanya Tuan. Kami juga akan langsung di depan pria yang ingin bersama Nona Lidya!" sahut Dahlan yang diangguki semua pengawal.


Lidya merengek sambil terkekeh, entah ia harus bahagia atau sedih. Tetapi, ia yakin tak akan ada satu pria pun yang berniat main-main dengannya. Mereka akan mundur teratur melihat begitu banyak pria yang melindunginya.


"Ih ... sudah sih sedih-sedihnya!' protes Maisya kini.


"Ayo kita nyanyi lagi!" ajaknya.


"Ayoo!" sahut semuanya.


Kericuhan pun kembali terjadi di mansion Virgou. Anak-anak kembali bernyanyi sesuka hati mereka.


Haidar duduk di sisi istrinya. Keduanya menatap Lidya yang tumbuh dewasa. Walau sisi manja sesekali diperlihatkan oleh gadis itu. Tetapi, jalan berpikir Lidya sudah jauh lebih dewasa dibanding mereka para orang tua.


"Sayang," panggilnya pada sang istri.


"Ya," sahut Terra menjawab panggilan suaminya.


"Kenapa dia cepat besar?" tanya Haidar masih setia memandangi Lidya yang tertawa karena ulah salah satu adiknya dengan hati gundah.


"Waktu berputar begitu cepat, sayang. Lidya nanti akan ada yang lebih baik dari kita menjaganya, putri kita berhak menentukan hidupnya kelak, begitu juga anak-anak yang lain. Kita harus siap itu, sayang," jelas Terra panjang lebar menjawab kegundahan sang suami.


"Te yakin, kalian para papa pasti tau siapa pria yang terbaik untuk putri kalian," ujar Terra lagi.


Haidar mengangguk. Ia akan langsung mengetahui akan ada pria yang cocok datang untuk putrinya. Sosok laki-laki yang tangguh dan penuh tanggung jawab, yang sayang dengan keluarga dan juga sayang Lidya tentunya.


Tiba-tiba ponsel Kanya berdering. Tulisan Karina tertera di layar. Ia pun mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum, ada apa nak?"


Semuanya bersorak mengucap hamdalah. Kanya memang mengaktifkan speaker.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Virgou dengan suara keras.


"Sepasang, bayinya sepasang!" teriak Karina begitu antusias di seberang telepon.


Semuanya melompat kegirangan. Begitu juga anak-anak. Rion menggaruk kepalanya. Remaja itu menatap buku yang tadi ia tulis nama-nama adiknya. Kini ia harus menulis lagi.


"Kita akan membuat negara!" teriak Bram berseloroh.


Semuanya Tertawa mendengar seloroh pria itu.


Sementara itu di benua lain. Tampak sosok cantik dengan balutan formal yang mewah tengah berdiri dengan kepala tertunduk. Demian menatap Aurora, adiknya satu ibu.


Pria itu melihat berkas data yang ditulis acak-acakan. Tanda baca yang tak jelas, bahkan pria itu tak mengerti apa yang ditulis oleh gadis berusia dua puluh tahun itu.


"Hanya ini kemampuanmu dan kau berani mengajukan diri jadi staf ahli bahkan dengan jumawanya meminta jabatan sebagai wakil CEO?" tanya pria tampan itu.


"WTF!" pekiknya lalu melempar berkas yang ada di tangannya hingga berhamburan di lantai.


"Aku hanya buruk di pendidikan, tetapi aku sangat bagus di non akademik," ujar gadis itu membela diri.


"Nilai IPK hanya satu koma nol satu? Kau bilang kau tinggi di nilai non akademis?" desis pria itu tak percaya.


"Mana buktinya?" tanya Demian kini.


Aurora terdiam. Ia memang tak bisa membuktikan apa pun. Gadis itu dimanja oleh kedua orang tuanya. Mengatakan memilikinya kakak kaya raya dan akan memberinya pekerjaan yang ia inginkan.


"Kau tau jabatan yang bagus untukmu, itu hanya untuk OB!" sahut Demian sarkas.


"Kak, beri aku kesempatan untuk membuktikan aku layak dengan jabatan itu!" ujar Aurora memohon.


"Dan membiarkan perusahaan ku hancur di tanganmu?" Demian menggeleng kuat.


"Aku tidak segila itu, menggantikan Tuan Ferdinad denganmu!" tekannya lagi.


"Kak!" panggil Aurora.


"Ah, aku punya tugas untuk mu," tiba-tiba pria itu memiliki otak cemerlang.


"Ini aku beri kau cek satu juta euro. Kembangkan uang ini dalam tiga bulan hingga mencapai omset balik modal. Jika kau bisa, maka aku akan memikirkan posisi apa yang bagus untuk mu," ujar Demian.


Pria itu memberi kode pada Jacob. Lalu Jacob memberikan cek senilai satu juta euro pada Aurora.


"Ingat, kembalikan uang itu dalam tiga bulan!" tekan Demian.


"Dapat usaha apa dengan uang segini?" keluh gadis itu.


"Terserah. Gunakan otakmu, usaha apa yang didapat jika uang segitu," jawab Demian tak peduli.


Aurora pergi dari ruangan itu. Demian pun duduk di kursi kebesarannya. Ia mengurutkan keningnya. Sungguh, ia pusing dengan apa yang dipikirkan oleh ibunya itu.


"Mom ... putri apa yang kau ciptakan ini?" tanyanya tak percaya.


Sementara di tempat lain. Deborah menatap sebuah foto antara Demian dengan seorang gadis berhijab. Foto itu sedikit blur, tetapi ia mengenali sosok berhijab itu.


"Gadis yang di mall itu kan?"


Ia mengingat. Orang suruhannya mengatakan nama gadis itu.


"Oh, jadi namamu adalah Lidya," lanjutnya lalu mengangguk.


Ia menyeringai. Walau informasi yang ia dapatkan minim. Deborah akan mencari tau sendiri siapa Lidya ini.


"Kau berurusan. dengan keluarga Vox Lidya!"


bersambung.


uh ...oh ...


next?