TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PINDAH RUMAH BARU



Terra sudah mendapatkan sebuah hunian, yang Darren inginkan. Gadis itu mengocek kantong sedikit dalam, karena hunian itu terletak di daerah pegunungan dengan pemandangan asri.


Tidak itu saja. Ternyata ada pohon rumah yang terletak di halaman belakang. Sangat cantik dan benar-benar rumah untuk keluarga kecil.


Hanya butuh perombakan sedikit, seperti mendangkalkan kolam renang. Membuat seluncuran dan taman bermain.


Rumah yang dibeli Terra berukuran 2000m², dengan dua kamar tidur utama,.dan empat kamar yang terdiri dari satu kamar tamu dan dua kamar kecil dan satu kamar untuk pembantu.


Kamar tidur utama memiliki kamar mandi sendiri di dalam. Satu kamar mandi untuk tamu di tengah dan di belakang ada kamar mandi untuk pekerja rumah tangga yang di satukan dengan area cuci dan ruang jemur.


Ruang keluarga yang luar tersekat dengan ruang tamu sedang. Terra hanya memikirkan isi rumahnya. Gadis itu berencana membawa anak-anak untuk memilih barang-barang tersebut.


"Gimana Om. Uang Terra cukup kan beli rumah ini?' tanya Terra.


Ya, gadis itu bersama Sofyan, pengacaranya. Sofyan melihatnya sangat puas.


"Jangan khawatir. Kamu nggak akan langsung jatuh miskin karena membeli rumah ini," jelas Sofyan.


"Gara-gara idemu. Saham kita langsung melonjak naik. Om, jadi kaya mendadak juga nih," lanjutnya sambil terkekeh.


"Om bisa aja," ujar Terra malu.


Setelah melaksanakan jual beli di depan notaris. Terra dan Sofyan berencana membeli mobil. Gadis itu memutuskan untuk membeli kendaraan roda empat untuk mobilitasnya. Ia tak mungkin lagi naik ojek atau taksi online setiap hari. Karena rumah yang ia beli, cukup jauh dari pusat kota.


"Kamu sudah punya SIM kan?" tanya Sofyan.


Terra mengangguk. Ia sudah belajar mengemudi dan telah mendapatkan surat ijin mengemudikannya satu minggu yang lalu.


Terra memilih mobil minivan, yang memang khusus untuk keluarga. Tadinya Sofyan menawarkan untuk membeli Alphard. Tapi gadis itu menolak.


Mobil seharga setengah milyar warna merah, jadi pilihan gadis itu. Ia membelinya secara cash.


"Baik Bu. Setelah semua surat dan perlengkapan lainnya selesai. Kami akan menghubungi Ibu," jelas salah satu sales.


"Berapa hari?' tanya Terra.


"Tiga hari, Bu," jawab sales.


Terra mengangguk kembali. Setelah semuanya beres.


Mereka meninggalkan dealer menuju apartemen Terra.


"Kapan kau mulai pindah Te?" tanya Sofyan.


Mereka kini sudah ada di unit apartemen Terra, tengah menikmati makan siang bersama.


"Kita mau belanja hari minggu besok, Om. Mungkin Sekitar hari jumat atau sabtu, kami baru pindah," jawab Terra.


"Kita pindah rumah, Ma?' tanya Darren antusias.


Kini, tubuh pria kecil itu makin berisi. Pipinya juga sudah kemerahan, matanya selalu berbinar cerah. Walau terkadang Darren masih dihantui mimpi buruk. Tapi, sudah tidak sesering pertama kali Terra bersamanya.


"Iya, Sayang. Nanti, Darren punya kamar sendiri, Lidya juga," jelas Terra sambil tersenyum.


"Tapi, Darren masih boleh kan tidur sama Mama?" cicit Darren takut.


Gadis itu tidak ingin pria kecilnya ketakutan lagi. Sebisa mungkin. Terra menyingkirkan semua egonya.


Sofyan hanya melihatnya terharu. Sungguh ia sangat tahu, jika Terra masih terlalu remaja dan butuh banyak kebebasan dan impian yang ia kejar.


Namun, tanggung jawab yang diemban gadis itu juga tidak main-main. Tiga anak, hasil pernikahan siri mendiang Ben Hudoyo, ayahnya. Menjadi beban ia, hingga Darren dewasa.


"Kamu memang luar biasa, Terra," puji Sofyan dalam hati.


"Baiklah. Om pulang dulu," ujar Sofyan pamit.


"Oh iya, Om. Makasih ya udah nemenin," ujar Terra. "Maaf nggak bisa nganterin sampe bawah."


"Nggak masalah, Te," ucap Sofyan.


"Oh ya, apa minggu nanti, butuh bantuan lagi?"


"Emm ... sepertinya nggak deh. Kan Terra udah ada mobil."


"Oh iya. Oke deh. Om, pulang dulu, ya. Assalamualaikum."


"Iya Om. Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Makasih sekali lagi, Ya!'


"Iya sama-sama!"


Sofyan menghilang di balik pintu tertutup. Terra melihat benda bulat yang ada di dinding.


"Baru pukul 14.24.."


"Eh ... Ayo, waktunya bobo siang!" titahnya pada anak-anak.


Baik Darren langsung menurut. Ia memang sudah ngantuk. Sedang Lidya sudah memejamkan matanya, tapi tangannya masih memainkan boneka. Sedang Rion tengah mengoceh tak jelas.


Darren langsung masuk kamar. Lidya digendong Terra, karena gadis kecil itu tak bergerak dari tempatnya. Sedang Rion dibiarkan mengoceh.


Selesai memindahkan Terra ke kasur bersama Darren. Kini, Rion berada dalam ayunan tangan gadis itu.


Sambil menepuk bokong Rion. Terra mengayun tubuh bayi yang kini bobotnya sudah naik itu. Perlahan Rion pun tertidur.


Terra membawanya ke kamar dan meletakkannya di ranjang. Mereka masih tidur bersama dalam satu ranjang.


Mengusap kening ketiga anaknya kemudian mencium kening mereka satu persatu. Bik Romlah sudah berada dalam kamarnya sendiri untuk beristirahat.


Terra ke luar kamarnya. Gadis itu mengambil laptop dan menyalakannya. Sejurus kemudian ia pun larut dalam pekerjaannya.


Terra memang sudah menjabat menjadi CEO di perusahaan mendiang ayahnya. Tapi, semua masih diserahkan pada Rommy dan Aden, mengingat dirinya masih berstatus mahasiswi.


Terra merenggangkan semua otot di tubuhnya yang kaku. Memejamkan mata.


"Ih ... kok kangen sama Mas Haidar sih!"


bersambung


cieee ... kangen nih Yee.